oleh

Rumah Tidak Laik Dihuni Laporkan ke Lurah

SULTENG RAYA – Pascabencana alam gempa bumi, tsunami dan ikuifaksi yang melanda Kota Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) pada Jumat (28/9/2018) bulan lalu, kondisi di Pasigala kian hari kian normal.

Sejumlah aktivitas masyarakat perahan mulai terlihat. Jalan-jalan kini mulai ramai dilintasi kendaraan bermotor, sejumlah pusat perbeanjaan mulai beroperasi, pelayanan mulai aktif dan lain sebagainya. Namun, tidak sedikit pula masyarakat memilih bertahan di tenda-tenda pengungsian. Ada disebabkan trauma, kehilangan tempat tinggal atau rumahnya sudah tidak laik huni.

Mengenai masalah kehilangan rumah atau rumah tidak laik huni, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk membuat hunian sementara (Huntara) bagi para korban.

Namun, hingga kini data rumah hilang maupun data rumah tidak laik dihuni masih belum diketahui jumlah pastinya. Sehingga, diharapkan para korban kehilangan rumah maupun rumah tidak laik huni segera melapor ke lurah di wilayahnya masing-masing untuk didata.

Baca Juga :   Pembangunan Pabrik Smelter di KEK Palu Dimulai

“Akibat bencana yang melanda Kota Palu, Sigi dan Donggala, berdampak pada banyaknya masyarakat kehilangan rumah maupun rumah tidak laik huni lagi. Namun,pemerintah pusat melalui Kementerian RI PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) mengambil langkah-langkah membangun Huntara bersama sejumlah mitra pemerintah,” jelas Kepala Dinas Penataan Ruang dan Pertanahan (DPRP) Kota Palu, Dharma Gunawan kepada Sulteng Raya (26/10/2018).

“Saat ini, data yang ada masih berdasarkan laporan dari lurah. Namun, masih akan divalidasi. Jika ada masyarakat yang belum didata, namun rumahnya hilang atau rusak dan tidak laik huni, segera melapor ke lurah setempat,” lanjutnya.

Karena, kata dia, setelah didata lurah, masih ada tahapan lanjutannya, yakni validasi data atau assessment. Begitupun, setelah dilakukan penilaian dan ternyata laik untuk direlokasi ke hunian tetap (Huntap), maka baka direlokasi.

Baca Juga :   Disnakertrans Sulteng Latih Pekerja Hotel

“Saat ini sudah mulai masuk dalam tahapan pembangunan di 29 titik di Kota Palu. Periode pembangunannya selama dua bulan,” jelasnya.

Mengenai lokasi pembangunan Huntara, Dharma menjelaskan, bakal dibangun di area tanah lapang, seperti lapangan bola di masing-masing di sejumlah kelurahan berkapasitas hingga 250 unit Huntara. Khusus untuk korban likuifaksi di Balaroa dan Petobo, bakal ditempatkan di sejumlah lokasi. Karena, jumah keluarga di daerah terdampak itu, mencapai ribuan.

“Seperti Balaroa, sekitar 1.400-1.700 kepala keluarga. Tidak mungkin ditempatkan di satu lapangan saja. Sementara, kapasitas satu lapangan hanya mampu menampung hingga 250 KK saja. Sehingga, akan dicarikan lahan-lahan lain,” ucapnya.

Diketahui, sejumah mitra Pemerintah Daerah (Pemda) Sulawesi Tengah dan Kota Palu, telah melakukan pembangunan Huntara, seperti Pemda Jawa Tengah telah membangun di daerah Petobo, Kementerian PUPR juga telah membangun di Petobo dan Duyu, Jajasa Kalla (JK) telah membangun 250 unit di Duyu, Media Group sudah menyatakan kesiapannya membangun 1.000 unit dan masih banyak agi mitra pemerintah yang siap membangun Huntara bagi para korban bencana Pasigala. HGA

Baca Juga :   BEI Sulteng Menyarankan Saham Perbankan Prioritas Investor

 

Komentar

News Feed