oleh

Peringatan Bagi SPBU di Palu

SULTENG RAYA – PT Pertamina (Persero) mengingatkan SPBU di Kota Palu tidak menjual solar bersubsidi yang tidak sesuai peruntukannya. Peringatan ini menyusul temuan salah satu SPBU di Palu melayani kendaraan industri bahkan antrean mengisi solar subsidi.

“Penggunaan solar bersubsidi tidak diperuntukkan kepada kendaraan industri,” kata Unit Manager Communication & CSR MOR VII, M. Roby Hervindo, Jumat (24/8/2018), menanggapi temuan salah satu SPBU di Kota Palu yang melayani kendaraan industri.

Ia menjelaskan, sesuai Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014, pengguna BBM tertentu termasuk solar subsidi hanya ditujukan bagi rumah tangga, usaha mikro, usaha pertanian, usaha perikanan, transportasi dan pelayanan umum.

“Petugas SPBU 74.942.05 sebenarnya sudah mengimbau sopir, namun salah satu sopir truk mengaku bahwa mobil tersebut memang digunakan untuk keperluan industri, dengan status sewa atau kepemilikannya pribadi bukan dari perusahaan,” ujarnya.

Terkait kejadian itu, Pertamina menjatuhkan sanksi kepada SPBU Sis Al Jufrie di Boyaoge, dan penyaluran solar subsidi di SPBU itu dihentikan kemudian dialihkan sementara ke SPBU lainnya dari tanggal 10 Agustus sampai 8 September 2018.

Baca Juga :   Realisasi Pajak Dikelola BPD Palu Lampaui Target
Tindakan itu dilakukan karena terbukti melayani pembelian solar subsidi menggunakan jerigen tanpa rekomendasi dari pemerintah daerah setempat.

Roby menegaskan, Pertamina telah memperketat pengawasan penyaluran solar subsidi di SPBU sesuai aturan peruntukannya.
“Pertamina tidak segan-segan memberikan sanksi kepada SPBU yang melanggar aturan,” ujarnya.

Ia menilai, seluruh SPBU di ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu telah menjual BBM jenis Dexlite solar nonsubsidi, sehingga tidak ada alasan bagi kendaraan industri menggunakan BBM bersubsidi.

Menurut Roby, Dexlite lebih hemat dan memiliki kualitas jauh lebih baik dari Solar. Selain irit, Dexlite membuat mesin lebih bertenaga‎ dan lebih ramah lingkungan karena emisi hasil pembakaran yang rendah dengan kandungan sulfur maksimal 1.200 ppm dibandingkan dengan Solar dengan kandungan sulfur maksimal 3.500 ppm.

“Pertamina telah menyediakan dexlite lebih hemat dan memiliki kualitas jauh lebih baik dari solar. Dexlite juga telah tersedia di 10 SPBU yang tersebar di Kota Palu,” katanya.

Baca Juga :   Kampanye di Tanamodindi, Hadianto Janji Ciptakan Palu Bebas Sampah

Roby meminta kesadaran pihak industri agar dapat mematuhi aturan yang ditetapkan pemerintah terkait penggunaan solar bersubsidi.
“Masyarakat diharapkan dapat berperan aktif menyampaikan informasi, keluhan ataupun masukan yang membangun terkait pelayanan distribusi BBM dan elpiji melalui nomor telepon Pertamina 1-500-000 atau emailpcc@pertamina.com,” katanya.

KONSUMSI SOLAR BERSUBSIDI

Konsumsi Bahan Bakar Minyak jenis solar bersubsidi di Kota Palu, mengalami peningkatan signifikan.
Roby mengatakan selama semester I (Januari-Juli) 2018, Pertamina menyalurkan solar bersubsidi sebanyak 15.192 kiloliter atau lebih dari 50 persen dari kuota yang dialokasikan di tahun ini.

“Kami memastikan stok dan penyaluran BBM solar berjalan normal dan sesuai alokasi yang ditetapkan pemerintah,” kata Roby menanggapi peningkatan konsumsi solar di Palu.

Ia memaparkan rata-rata konsumsi normal harian solar subsidi di ibu Kota Provinsi Suleng sebesar 72 kiloliter/hari.
Melonjaknya konsumsi solar itu diakibatkan oleh pembelian dari kendaraan-kendaraan industri yang tidak berhak menggunakan BBM bersubsidi.

“Jika kondisi ini dibiarkan terus berlarut akan berdampak pada penjualan, karena SPBU melayani kedaraan yang seharusnya tidak berhak dilayani pengsisian solar bersubsidi,” ucapnya.

Baca Juga :   Pengunjung Pasar Murah Wajib Patuh 3M

Ia mengimbau kepada seluruh SPBU resmi di Sulteng agar tidak melayani pengisisan solar bersubsidi kepada kendaraan industri dan pembelian BBM dalam bentuk jerigen oleh pengecer.

Konsumsi bahan bakar disel ini melebihi konsumsi normal harian BBM jenis premium hanya 588 kiloliter/hari.
Selain solar bersubsidi, Pertamina telah menyediakan BBM jenis dexlite untuk kendaraan jenis disel.
BBM jenis itu paparnya, cukup irit dibanding solar berdasarkan hasil uji coba Dexlite dengan jalur lurus, rata-rata kendaraan bisa menempuh jarak 16 -20 kilometer.

Sementara bila memakai solar hanya mampu menempuh jarak 12 – 14 kilometer. “Ini salah satu solusi untuk menstabilkan penggunaan solars selain melayani kendaraan industri,” ujarnya.

Ia mengaku Pertamina sebagai pengelolah minyak dan gas akan melakukan pengawasan ketat terhadap penyaluran solar di SBPU, hal ini dilakukan untuk menstabilkan konsumsi BBM.

“Untuk bahan bakar khusus seperti pertalite, pertamax, pertamax turbo tidak mengalami kendala, dan diupayakan stok BBM tetap aman,” sebutnya.ANT/ROA

Komentar

News Feed