oleh

Malam Ini, Pengurus MKGR Sulteng Dilantik

SULTENG RAYA – Pengurus Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) Sulawesi Tengah Periode 2018-2023 akan dilantik oleh Ketua Umum DPP MKGR RI Roem Kono, Rabu (8/5/2018) malam.

Kepengurusan MKGR periode kali ini diisi oleh orang-orang yang memiliki latar belakang yang beragam, diantaranya akademisi, entrepreneur muda, wartawan, pegawai pemerintahan, tokoh agama, tokoh pemuda, dan tokoh wanita. Dengan harapan, para kader yang tergabung dalam kepengurusan tersebut, nantinya dapat menyebarkan nilai-nilai budaya bangsa, memerangi berbagai macam bentuk yang dapat merusak persatuan dan kesatuan di dalam masyarakat.

Terlebih tahun ini adalah tahun politik, masyarakat rawan terkotak-kotakkan hanya karena kepentingan politik, berita hoax melalui media sosial telah menjadi santapan dan suguhan yang dinikmati masyarakat hampir setiap hari, hingga kerap melahirkan perpecahan di masyarakat.

Baca Juga :   Cukup Rp16.800, Driver Gojek Terlindungi BPJS Ketenagakerjaan

“Kader MKGR diharapkan hadir untuk meredam permasalahan tersebut di masyarakat, jadilah penyebar iklim persaudaraan. Kegotongroyongan sebagaimana nama ormas ini, minimal mengambil peran itu di lingkungan keluarga, tempat kerja dan lingkungan pergaulan,”kata Ketua MKGR terpilih Ansyar Sutiadi, Selasa (8/5/2018).

Ansyar Sutiadi bakal dilantik sebagai Ketua MKGR Sulawesi Tengah periode 2018-2023 menggantikan kepengurusan lama yang dipimpin Rusdy Mastura.

MKGR sendiri lahir pada tanggal 3 Januari 1960 merupakan Organisasi Kemasyarakatan yang dalam perkembangannya kemudian pada tahun 1985 diatur dan terikat oleh UU No. 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan.
Ketua Umum DPP MKGR sejak kelahirannya tahun 1960 sampai 1991 dipimpin oleh Mayjen TNI (Purn) R.H. Sugandhi.

Baca Juga :   Penerima BPUM Harap Hindari Kerumunan

Kelahiran MKGR terjadi secara alamiah dari panggilan sejarah. Pada tahun 1960-an suhu perpolitikan di tanah air memanas. Persengketaan politik dan gesekan sosial meningkat bahkan menjalar di berbagai daerah. Pengaruh PKI menginfiltrasi di hampir semua lini kemasyarakatan dan pemerintahan. PKI memotori gerakan yang agitatif dan provokatif, bahkan menyerukan dibentuknya angkatan ke-5 yaitu dipersenjatainya kaum tani dan buruh pabrik.

Untuk membendung pengaruh komunis ini, kekuatan Tri Karya (MKGR, KOSGORO, SOKSI) bersama-sama dengan pimpinan Angkatan Darat, tokoh-tokoh pemuda, agamawan, guru, cendekiawan, buruh, dan petani membentuk front anti komunis. Pemberontakan G30S/PKI mengalami gagal total. Bersama-sama dengan rakyat dan TNI, MKGR ikut terpanggil menyelamatkan bangsa ini dari ambang perpecahan, permusuhan dan kehancuran. Tak lama berselang terjadi pergantian pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru.

Baca Juga :   BSI Area Palu Mulai Migrasi Rekening Eks BRIS-BNIS

Pada Oktober 1969 diadakan restrukturisasi dan konsolidasi Sekber GOLKAR yang kemudian melahirkan 7Kino (Kelompok Induk Organisasi), yaitu : MKGR, KOSGORO, SOKSI, GAKARI, Profesi, Ormas Hankam, dan Karya Pembangunan. Sekber GOLKAR inilah yang menjadi cikal bakal GOLKAR sebagai Partai Politik yang kemudian menjadi mesin politik hingga hari ini.

Namun secara tegas, MKGR bukan gerakan organisasi politik, melainkan adalah organisasi kemasyarakatan, dimana sejumlah kadernya kini telah menduduki sejumlah posisi penting baik ditingkat eksekutif maupun legislatif.
“Sekali lagi, kita bukan gerakan politik, kita hanyalah ormas masyarakat yang senantiasa konsisten menjaga kedaulatan NKRI ini,”tegas Ansyar Sutiadi. AMI

Komentar

News Feed