oleh

Pasangan Selingkuh di Givu Nu Ada

-Kota Palu-dibaca 288 kali

SULTENG RAYA – Pasangan selingkuh harus menjalani sanksi adat Nilabu (direndam di laut) dan Napili (dikeluarkan dari kampung), Senin (18/12/2017). Pasangan selingkuh tersebut dinyatakan bersalah karena terjaring oleh Satuan Tugas (Satgas) K5 Kelurahan Silae di perumahan Raflesia IV Taman Ria Estate pada tanggal 14 November 2017 lalu.

Seperti diketahui, pasangan tersebut terjaringan razia Satgas K5 saat didapat sedang berciuman disalah satu perumahan Raflesia IV Taman Ria Estate. Diketahui lelaki berinisial N merupakan salah satu pegawai bank di Kota Palu, sedangkan Wanita berinisial D adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) disalah satu instansi pemerintahan Kota Palu.

Lurah Silae, Muhammad Syafa’ad mengatakan, sebelumnya lembaga adat Kelurahan Silae telah melakukan tiga kali sidang adat membahas sanksi yang akan dijatuhkan kepada pasangan tersebut. Namun, kata dia, jika merujuk pada buku pedoman lembaga adat, seharusnya tosala (orang yang bersalah) disanksi dengan satu ekor kerbau.

Baca Juga :   Pengunjung KPKNL Palu Wajib Pakai Masker Berlapis

Namun, kata Syafa’ad, lembaga adat Kelurahan Silae menjatuhkan hukuman sesuai kemampuan tosala, dikarenakan pada sidang sebelumnya tosala tidak menyanggupi sanksi satu ekor kerbau, sehingga lembaga adat memberikan opsi lain kepada tosala.

Menurut Syafaad, selain dijatuhi sanksi Nilabu dan Napili, tosala juga dikenakan denda sebesar Rp3.500.000, sanksi tersebut merupakan sanksi yang dipilih oleh tosala dari beberapa opsi yang diberikan lembaga adat Kelurahan Silae.

Dia menjelaskan, sanksi nilabu tersebut artinya tosala disucikan di air laut dan dibuang sialnya. Sedangkan napili adalah tosala dikeluarkan dari kampung tersebut atau diusir. Sehingga, tosala tersebut tidak akan dilayani jika mengurus apapun yang berkaitan dengan kependudukan di Kelurahan Silae.

Baca Juga :   OJK Sulteng Gelar Vaksinasi Khusus IJK

“Kalau orang tua dulu itu, nilabu dilakukan tanpa menutup tosala menggunakan kain. Tetapi tosala meminta kepada lembaga adat agar saat menjalani sanksi dirinya menggunakan kain untuk menutup wajahnya, dan lembaga adat memberikan toleransi kepada tosala tersebut,” ujar Syafaad kepada Sulteng Raya, Senin (18/12/2017).

Dia menambahkan, pelaksanaan sanksi adat sudah beberapa kali dilakukan lembaga adat Kelurahan Silae, namun kasus kali ini dianggap yang paling besar. Sehingga, kata dia, pihaknya berharap adanya lembaga adat dapat meminimalisir adanya perilaku yang melanggar aturan di wilayah tersebut. ADK

Komentar

News Feed