oleh

Ansyar Sutiadi Dukung Pancasila Masuk Mapel

SULTENG RAYA- Wacana memasukan pancasila kembali menjadi salah satu mata pelajaran tersendiri di sekolah, mendapat respon positif dari Dinas Pendidikan Kota Palu Ansyar Sutiadi.

Wacana tersebut kata Ansyar, adalah wacana cerdas jika melihat kondisi kebangsaan saat ini, dimana pengamalan nalai-nilai pancasila mulai redup di masyarakat. Sikap saling menghormati perbedaan dan keragaman, telah kusam dimakan zaman.

Hal itu kata Ansyar dapat terjadi, disebabkan karena selama ini pendidikan pencasila dikurangi porsinya di lembaga pendidikan. Akhirnya pemahaman nilai-nilai pengamalan pancasila berkurang dimasyarakat, khususnya generasi tahun 90an.

Pada hal, sebagai dasar negara dan idiologi kebangsaan, hal itu tidak seharusnya dikurangi apa lagi dihilangkan. Mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan resmi masuk dalam kurikulum sekolah di Indonesia pada tahun 1968. Saat terjadi pergantian tahun ajaran yang awalnya Januari – Desember dan diubah menjadi Juli – Juni pada tahun 1975, nama pendidikan kewarganegaraan diubah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

Baca Juga :   Museum Balai Kirti Menerima Koleksi Milik Wapres RI Ke-6 dan Ke-9

Nama mata pelajaran PMP kembali diubah lagi pada tahun 1994 menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Pada masa Reformasi PPKn diubah menjadi PKn dengan menghilangkan kata Pancasila yang dianggap sebagai produk Orde Baru, seiring perubahan nama tersebut, porsi pendidikan pancasila juga secara bertahap dikurangi.

Dengan berkurangnya pemahaman idiologi kebangsaan tersebut, ini memberikan ruang bagi orang yang memiliki niat yang tidak baik pada bangsa Indonesia, dengan menyusupkan pemikiran-pemikiran rasis dan radikal kepada generasi muda.
“Kenyataannya PKn tidak mampu memberikan penanaman pengamalan nilai-nilai pancasila, hal itu terbukti dengan kondisi saat ini,” jelas Ansyar Sutiadi, saat ditemui media ini, di ruang kerjanya. Belum lama ini.

Baca Juga :   6 Kepala SD di Palu Jadi Kepsek Penggerak

Untuk Pemerintahan Kota Palu sendiri saat ini kata Ansyar, sejak Februari 2017, pemerintah telah mengeluarkan surat edaran ke setiap satuan pendidikan ke tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, mewajibkan setiap siswa menyanyikan lagu wajib nasional di jam mata pelajaran pertama dan saat setelah selesai jam mata pelajaran terakhir.

Hal itu bertujuan untuk menanamkan rasa kebangsaan kepada setiap peserta didik. Mengingat dengan pesatnya laju teknologi dan tingginya arus pergaulan, itu dapat menguras rasa kebangsaan dan nasionalisme seseorang. Sehingga perlu terus diperbaharui, dengan salah satu cara melalui pembiasaan menyanyikan lagu kebangsaan.

Hal yang sama terkait keragaman, dalam surat edaran itu, Pemerintah Kota Palu juga mengintruksikan kepada setiap satuan pendidikan tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, mewajibkan kepada peserta didiknya di hari-hari tertentu menggunakan simbol khas daerah asalnya masing-masing, hal ini bertujuan memperkenalkan kepada peserta didik untuk mengenal keragaman dan saling menghormati dan menghargai keragaman itu.

Baca Juga :   SMPN 13 Palu Larang Tenaga Pendidik Mudik Diluar Wilayah Aglomerasi

“Terkadang timbul ketidak senangan, karena kita belum mengenal, namun setelah kita mengenal lebih dekat, ketidak senangan itu dapat berubah menjadi rasa cinta dan memiliki, hal inilah yang diinginkan pemerintah Kota Palu,”tambah Ansyar Sutiadi. AMI

Komentar

News Feed