oleh

Apresiasi Dialog Tentang Dampak Bom Ikan

SULTENG RAYA – Dialog publik tentang membangun kesadaran masyarakat mengenai dampak negatif dari penggunaan bom dan bius terhadap ekosistem laut guna mendukung peningkatan jumlah wisatawan, menuju Kabupaten Tojo Una-una (Touna) sebagai sebagai kabupaten pariwisata, diapresiasi pihak Pemkab Touna.

Kegiatan yang dilaksaksanakan pada Kamis (30/3/2017) di Desa Labuan, Kecamatan Ampana Tete, tersebut, digagas oleh Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Touna.

Dalam sambutan Bupati Touna yang diabcakan oleh Staf Ahli Bidang Keuangan, Nur Sahid mengatakan kegiatan yang digaags oleh PC PMII Touna sangat bermanfaat. Mengingat masih maraknya masih maraknya aktifitas bom ikan dan bius ikan yang dilakukan warga.

“Pemerintah Touna akan berusaha melakukan perbaikan dari segi pengawasan dan
pemberian program agar aktifitas ilegal ini dapat tinggalkan,” katanya.

Bupati pun berharap kegiatan ini menghasilkan rekomendasi buat pemerintah daerah.
Sementara kepala Seksi Destinasi Alam Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Touna Nur Hasan Tangkaderi mengajak masyarakat untuk membantu pemkab melalui kreasi-kreasi yang bernilai ekonomi agar dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat yang berada di kawasan pesisir.

Dia juga mengajak masyarakat untuk menunjukan spot-spot pariwisata yang baru. Mengingat selama berdirinya daerah ini anggaran pembangunan destinasi wisata 80 persen diarahkan ke wilayah kepulauan.

“Tahun ini akan dianggarakan seimbang antara wilayah kepulauan dan Tojo Daratan Sulawesi. Sekedar informasi untuk pembangunan wisata tanjung api sudah dianggarkan kurang lebih Rp600 juta. Jadi di butuhkan pengawalan dari masyarakat labuan sebagai pintu masuk destinasi wisata Tanjung Api,” jelasnya.

Kepala Bidang Pelayanan Usaha Budidaya dan Pengelolaan TPI Dinas Kelautan dan Perikanan Touna Muzamil mengatakan maraknya bom ikan dan bius ikan kata Nur Hasan, menjadi bahaya laten di Touna. Padahal Dinas Kelautan dan Perikanan sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan pengawasan dan pemberian program pemberdayaan diwilayah masyarakat yang melakukan aktifitas ilegal ini.

“Banyaknya dukungan dana pembangunan infrastruktur yang diberikan pemerintah daerah dan pemerintah pusat sepertinya tidak mempan bagi para pelaku. Tapi kami optomis., semoga di tahun-tahun akan datang usaha kita melakukan perlindungan dan pengembalian fungsi ekosistem laut dapat berjalan dengan baik tentunya dengan pengawalan masyarakat,” jelasnya.

Sementara kabid Penataan dan Kapasitas Kelembagaan Dinas Perumahan, Kawasan
Pemukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Touna. Drs Jamin Lamane menyampaikan bahwa dalam RTRW Kabupaten Touna tidak ada rencana untuk mereklamasi pesisir pantai yang akan membuat matinya biota laut.

Sementara untuk pemukiman warga yang tepat berada di bibir pantai yang ada di Desa Labuan dan Desa Kabalutan yang berada diatas terumbu karang atau juga di Desa Siatu, sementara dicarikan jalan keluar oleh pemda untuk direlokasi atau dibuatkan suatu kawasan pemukiman yang ramah lingkungan.

PMII sendiri merekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk melibatkan stakeholder dan masyarakat dalam pengembangan Wisata Tanjung Api dibuat dibuat semenarik mungkin dan benar-benar tulus. Mengingat banyaknya program pembangunan kawasan wisata yang terkesan mubazir dan sembarangan.

Untuk pemukiman warga, Sekretaris PKC PMII Sulawesi Tengah Wahyu Hidayat berharap agar segera diambil kebijakan yang menguntungkan bagi semuanya.

“Kawasan wisata api alam tanjung api baru akan di bangun di tahun ini setelah belasan tahun daerah ini mekar. Artinya pemda kita sudah melek akan daerahnya dan kami akan mengawal pengerjaan diwilayah kawasan tanjung api.

Dan perlu ditetapkan status kawasan wisata tanjug api dalam perda baik sebagai hutan lindung atau kawasan konservasi pesisir,” tutupnya. */ROA

Komentar

News Feed