oleh

Valentine’s Day Masih Jadi Momok Bagi Pemuda

SULTENG RAYA- Setiap tahun tanggal 14 Februari dirayakan oleh muda-mudi di seluruh dunia sebagai hari kasih sayang. Pada umumnya, pasangan muda-mudi tersebut saling memberikan hadiah, baik itu berbentuk boneka maupun coklat batangan.

Tidak sedikit pasangan muda-mudi tersebut merayakan Valentine’s Day kearah yang lebih ekstrim, hal ini dapat dibuktikan di sejumlah daerah, sejumlah pasangan muda-mudi diamankan satpol PP dari tempat-tempat penginapan maupun hotel.

Pandangan dan pemahaman muda-mudi tersebut terkait Valentine’s Day dianggap sangat keliru oleh Ketua Presma Universitas Alkhairaat Palu Qadir Aljufri. Hari kasih sayang kata Qadir tidak hanya setiap tanggal 14 Februari. Sebab dalam pandangan Islam, kasih sayang itu semestinya sepanjang waktu, waktu tidak bisa membatasi rasa kasih sayang.

Baca Juga :   Untad- Unsimar Lanjutkan Kerjasama Bidang Tridarma Perguruan Tinggi

Bahkan kata Qadir, kasih sayang tidak hanya diberikan kepada pasangan hidup saja, kasih sayang itu harus dimulai dari keluarga kecil kita, kedua orang tua, saudara, tetangga dan seluruh mahluk hidup, sebab manusia harus menjadi rahmatan lilalamin.

“Jika pandangan teman-teman tanggal 14 Februari itu hari kasih sayang, saya kira itu pandangan yang sangat sempit, semestinya hari kasih sayang itu dirayakan setiap saat, setiap waktu, bukan nanti tanggal 14 Februari itu saja,” tutur Qadir saat dihubungi media ini.

Justru kata Qadir, jika kita melihat sejarah Valentine’s Day, tanggal 14 Februari itu, justru hari yang sangat menyedihkan, mengingat pada tanggal itu seorang pendeta bernama Valentine dihukum mati. Hari itu bertepatan tanggal 14 Februari tahun 270 M.

Baca Juga :   Lagi,Untad Amankan Peserta UTBK Pengguna Joki

Sehingga kata Qadir, jika tanggal itu dijadikan sebagai landasan perayaan hari kasih sayang, maka kita telah merayakan hari kematian seorang santo. “Seorang Pendeta bernama Valentine telah menjadi santo (dihukum mati) tepat tanggal 14 Februari tahun 270 M, jadi kita telah merayakan kematian seorang santo, hal itu saya kira sangat kurang tepat, tidak baik kita bersenang-senang dihari kematian seorang pahlawan di masyarakatnya, karena pendeta tersebut telah dianggap jadi pahlawan di komunitasnya,” terang Qadir.

Olehnya itu kata Qadir, diharapkan kedepan setiap pemuda-pemudi tidak lagi ikut-ikutan merayakan Valentine’s Day, mengingat hal itu sangat bertentangan dengan budaya dan agama. Apa lagi jika melihat sejarahnya hal itu sangat tidak tepat jika dirayakan di hari itu sebagai hari kasih sayang. AMI

Baca Juga :   Akademisi Untad, Sayangkan PP Nomor 57 Hilangkan Pendidikan Pancasila

Komentar

News Feed