oleh

Angka Kematian Ibu dan Bayi Capai 14 Kasus

SULTENG POST- Angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Parigi Moutong (Parmout) masih menjadi permasalahan yang perlu mendapatkan penanganan serius dari pemkab setempat.

Pasalnya, angka kematian ibu dan bayi masih terbilang cukup tinggi di Sulawesi Tengah yakni terdapat 16 kasus pada tahun 2013.

Sementara pada tahun 2014, sejak Januari hingga November telah mencapai 14 kasus.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Parmout, dr Anthon Rerung Pasari pada acara sosialisasi akselerasi penurunan angka kematian ibu dan bayi di aula lantai II kantor bupati setempat, Rabu (3/12/2014).

Menurut dia, faktor utama penyebab kematian ibu dan bayi tersebut, yakni terjadinya pendarahan saat proses persalinan berlangsung, karena masih banyak ibu hamil di wilayahnya melakukan persalinan bukan pada tenaga kesehatan.

Baca Juga :   Sejumlah Pejabat KKP Tinjau Perkuliahan Politeknik KP di Pantai Mosing

“Khususnya yang ada di wilayah bagian utara Parmout, pada desa-desa yang terpencil,” tuturnya.
Selain itu kata dia, masih minimnya kesadaran masyarakat melakukan pemeriksaan kehamilan pada tenaga kesehatan, sehingga masih sekitar 20 hingga 30 persen ibu hamil sama sekali tidak tersentuh tenaga kesehatan selama proses kehamilan yang dijalaninya.

Bahkan ada pula yang telah tersentuh atau melakukan pemeriksaan, hanya satu atau dua kali pemeriksaan. Namun, pemeriksaan tersebut tidak dilakukan lagi berdasarkan ajuran tenaga kesehatan.

Padahal maksimalnya ibu hamil harus memeriksakan diri sebanyak empat kali, atau secara rutin seminggu sekali.
“Seperti contoh Puskesmas Sausu, hanya 66,8 persen pada tahun 2013 persentase jumlah ibu hamil yang melakukan kontak pertama dengan petugas kesehatan dari target sekitar kurang lebih 90 persen,” tuturnya.

Baca Juga :   Dispusaka Parmout Gelar Bikon Penyusunan JRA Subtantif

Hal itu juga dikarenakan, minimnya transportasi yang ada di wilayah tersebut dan hampir semua wilayah mengalami kendala yang sama.

Faktor lainnya yang mempengaruhi yakni masih minimnya tenaga kesehatan di sejumlah wilayah terpencil.
Bahkan, lebih dari lima desa yang belum memiliki tenaga kesehatan.

“Kedepan kami akan melakukan rekrutmen tenaga kesehatan, khususnya pada bidan PTT yang nantinya akan digaji oleh pemkab, bukan dari pusat untuk menambah tenaga kesehatan khususnya di wilayah terpencil,” ujarnya.

Bahkan kata dia, pihaknya akan melakukan roling tenaga kesehatan dari wilayah selatan ke wilayah utara Parmout.
Namun, sebelumnya akan diberikan waktu magang selama tiga bulan di rumah sakit, setelah itu akan ditempatkan di masing-masing wilayah di Parmout.

Baca Juga :   Sejumlah Pejabat KKP Tinjau Perkuliahan Politeknik KP di Pantai Mosing

Untuk itu diharapkan, semua petugas kesehatan yang ada dapat melakukan kerjasama dengan pihak kecamatan mendata jumlah ibu hamil di wilayahnya masing-masing.

Hal itu dilakukan agar setiap ibu hamil dapat cepat terindentifikasi oleh tenaga kesehatan, sehingga pada persalinannya dapat diketahui dan ditangani oleh petugas kesehatan. OPPIE

Komentar

News Feed