oleh

Pro Kontra Pemotongan Honor Padat Karya

-Kota Palu-198 views

SULTENG RAYA – Rencana pengurangan honor peserta padat karya pada 2017 mendatang mendapat tanggapan beragam dari beberapa peserta padat karya.

Kepada media ini beberapa peserta padat karya mengaku kurang setuju dengan rencana pemotongan honor padat karya, namun ada juga yang setuju dengan rencana tersebut.

“ Saya sebenarnya kurang setuju kalau honornya dikurangi, karena saya masih bergantung pada pekerjaan ini, namun jika itu harus dilakukan, saya akan siap asalkan jatah waktu kerjanya juga bisa dikurangi,” ujar Samsul salah satu peserta padat karya asal Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore.

Sementara itu tanggapan berlainan datang dari Rahmat yang juga merupakan peserta Padat Karya yang ada di Kelurahan Tondo, dirinya mengaku sudah mendengar akan adanya wacana pemotongan tersebut dan menilai pemotongan honor tersebut sangat tepat jika jatah kerjanya juga dikurangi.

Baca Juga :   Pakai Dana Pribadi, Ketua F-PKS DPRD Sulteng Sumbang 100 Kursi di Talise

“ Yang saya dengar memang gaji padat karya akan dikurangi dengan waktu kerja yang juga dikurangi, bagi saya itu tidak kenapa asalkan pengurangan tersebut sudah dipertimbangkan secara baik oleh Pemerintah Kota Palu,” urainya.

Sebelumnya diberitakan, Honor pekerja padat karya yang semula sebesar Rp500 ribu perbulan akan dikurangi menjadi Rp250 ribu perbulan pada tahun 2017 mendatang.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua DPRD Kota Palu, Iqbal Andi Magga saat ditemui media ini di ruang kerjanya, Kamis (1/12). Menurut Politisi Partai Golkar ini, anggaran untuk program penaggulangan kemiskinan pada tahun 2017 tidak dikurangi sama sekali, hanya saja untuk honor Padat karya dialihkan kepada program-program pengembangan yang masuk kluster II program penaggulangan kemiskinan.

Baca Juga :   Realisasi Pajak Dikelola BPD Palu Lampaui Target

Dengan honor Rp250 ribu tersebut, kata Iqbal, beban kerja kelompok padat kerja dikurangi hanya dua kali dalam seminggu. Itupun tidak lagi ditumpuk dalam satu lokasi, tetapi lebih diarahkan untuk membersihkan fasilitas-fasilitas umum seperti kuburan dan masjid.

“Masa kerja padat karya hanya dua kali dalam seminggu dan hanya membersihkan objek-objek vital seperti  kuburan, rumah ibadah serta tidak lagi membersihkan di depan rumah-rumah warga,” ujarnya. FDL

Komentar

News Feed