oleh

Kisah Inspiratif Rubrik, Berhenti Jadi Guru Dewi Kini Jadi Pengusaha Sukses

-Ekonomi-2.083 views

DEWI Nas Andriani (38) akhirnya mengambil keputusan yang cukup sulit dalam hidupnya. Banyak hal yang dipertaruhkan kala itu. Lulus sebagai sarjana pendidikan untuk menjadi guru ternyata bukanlah pilihan tepat. Keputusan cukup berani pun diambil olehnya. Meninggalkan profesi guru, dan beralih jadi pedagang sepatu yang kini beromset ratusan bahkan miliaran rupiah.

LAPORAN : ANDRI GULTOM – PALU

Menjadi guru ternyata bukanlah pilihan yang cocok atau profesi yang menjanjikan menurut wanita kelahiran Palu, 14 Juli 1978 ini. Dia yang lulus pada tahun 2000 sebagai sarjana guru akhirnya harus meninggalkan profesi guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) di SMA 4 Palu demi merubah nasibnya. Menurutnya, menjadi sarjana guru bukan berarti harus jadi guru, tetapi bisa menjadi agen perubahan di lingkungan tempat tinggalnya. Merubah nasib adalah jalan awal untuk menjadi guru seutuhnya.

Bermula dari kehidupan sulit yang dijalani semasa menjadi mahasiswa membuat Dewi berpikir panjang untuk mencari peluang agar bisa berhasil. Ekonomi keluarga yang sulit dan tingginya beban hidup menjadi alasan untuk bisa bekerja keras. Tahun 2005, dia pun bertekad mengundurkan diri dari profesi guru di SMA 4 Palu dan mencoba berdagang pakaian dan sepatu keliling.

Baca Juga :   Buka Rekening Bank Mandiri di LinkAja Dapat Rp50.000

Mengajar sekolah di kala itu tak menjadi harapan, karena gaji yang cukup kecil sebagai guru tidak tetap atau honorer. Dia pun putar otak mencari jalan lain dan tak hanya diam saja. Pada akhirnya keputusan yang cukup berani dia ambil, meninggalkan profesi itu.

“Sekolah negeri motonya pelayanan yang tanpa pamrih, gajinya memang tidak besar sebagai guru tidak tetap di sana, dan saya tidak bisa memaksakan atau menuntut hal itu. Padahal kebutuhan hidup yang semua serba mahal menuntut mendapatkan hasil yang lebih besar. Akhirnya saya cari jalan lain dan memutuskan keluar sebagai guru pada tahun 2005,” kata Dewi saat ditemui Sulteng Post di kompleks ruko Palu Plaza, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Minggu (18/9/2016).

Usai mengundurkan diri dari guru SMA, berbagai usaha pun digelutinya. Mulai dari berdagang tomat di pasar inpres, buruh di Kalimantan, pedagang sepatu keliling hingga akhirnya kini bisa memiliki ruko sendiri. Semua yang dia lalui bukanlah hal mudah. Dicemooh oleh kerabat seusianya menjadi hal yang kerap terjadi. Namun semua itu dijadikan sebagai penyemangat untuk bisa membuktikan bahwa yang dia lakukan adalah jalan terbaik menuju keberhasilan.

Baca Juga :   Buka Rekening Bank Mandiri di LinkAja Dapat Rp50.000

“Saya ingin merubah nasib keluarga saya. Bapak dan ibu saya hanya pedagang biasa, rumah pondok-pondok, bagaimana bisa saya berdiam diri seperti ini. Saya pun mau bekerja keras hanya untuk orangtua saya,” tuturnya.

Menjadi pengusaha di usia 23 tahun di kala itu memang cukup sulit. Sebagian rekan sebayanya lebih memilih untuk menikmati masa mudanya dengan berfoya-foya dan acap kali menikmati liburan. Bagi Dewi, semua itu hanya sementara dan tidak akan bertahan lama. Yang dilakukan adalah menggunakan sisa waktu muda untuk bisa bekerja keras.

“Jangan sia-siakan waktu mumpung masih muda. Kalau sudah tua, nanti menyesal. Pesan orangtua saya seperti itu, harus bekerja keras,” katanya lagi.

Dia bercerita, diawal merintis karir banyak pahit yang dialami oleh Dewi. Selain masalah permodalan yang minim, ia juga kerap kali tertipu dalam hal berbisnis. Namun semua itu dijadikan sebagai pemacu untuk bisa bekerja lebih giat lagi.

“Saya yakin saya akan berhasil kalau saya bekerja keras, itulah yang saya tanamkan sampai saat ini,” kata dia.

Baca Juga :   Buka Rekening Bank Mandiri di LinkAja Dapat Rp50.000

10 tahun sebagai pekerja keras itupun kini dia rasakan. Bahkan dia mengaku penghasilannya perbulan minimal mencapai Rp 98 juta dan Rp1 miliar lebih pertahunnya. Dia juga telah memiliki 6 pekerja toko.

“Mungkin ini yang membuat saya tidak menyesal keluar sebagai seorang guru. Memang semua ini tidak mudah, namun jika mau berusaha pasti Tuhan memberi jalan,” kata ibu satu orang anak ini.

Sebagai sarjana pendidikan, Dewi pun kini menggunakannya untuk bisa menjadi guru kepada para pekerjanya. Banyak karyawan yang ia minta untuk berhenti bekerja dan diberikan modal untuk membangun usahanya. Para pekerja di toko sepatunya hanya diminta bertahan 3 bulan lamanya, kemudian berhentikan. Hal itu bukan karena ingin berlaku semena-mena, tetapi yang dia lakukan adalah untuk mengajarkan para pekerjanya berwirausaha dan tidak selalu ingin jadi pekerja.  

“Saya minta mereka belajar berwirausaha, saya modali. Jadi sekarang banyak mantan karyawan saya yang juga buka toko sepatu di kampungnya, alhamdulilah semua itu bisa berhasil pak, “ tutupnya. (***) 

Komentar

News Feed