oleh

INSPIRATIF, Banyak Duit Dari Sebuah Ruangan Sempit

-Ekonomi-dibaca 353 kali

SULTENG POST -Ruangan berdinding orange itu terbilang sempit untuk sebuah usaha, ukurannya lebih kurang 4×4 meter. Mesin bordir dan jahit terpajang di dalamnya. Sebuah lemari berisi pakaian hasil bordiran juga berdiri di ruang yang sama.

Di dinding depan ruang itu, terpajang sejumlah bingkai berisi sertifikat dan penghargaan. Salah satunya adalah Upakarti, penghargaan tertinggi yang diberikan pemerintah kepada perajin dan pengusaha kecil atas jasa pengabdian dalam bidang kerajinan. Di luar ruangan tersebut, sebuah papan nama bertuliskan “Yuyun Bordir” terpasang.

Usaha bordir itu adalah milik Yulidar (39). Siang itu, ia sibuk menyulam bordir sesuai pola berbentuk ornamen bunga-bunga. Dalam bekerja, ia dibantu beberapa karyawannya yang bertugas menyulam dan menjahit. Perempuan asal Lambaro Skep, Banda Aceh ini sudah memulai usahanya sejak tahun 1999 silam.

Baca Juga :   BSI Buktikan Kinerja Perbankan Syariah Cemerlang di Masa Pandemi

Sebelum membuka usaha milik sendiri di Jalan Mujahidin, Lr Durian 18 A Lambaro Skep, Banda Aceh, Yulidar belajar kerajinan bordir dari orang tuanya. Sejak kecil, ia sudah mengikuti jejak ibunya, Huzaimah yang sudah membuka usaha bordir sejak tahun 1980-an. Pada tahun 1989, Huzaimah mendapat penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto.

Yulidar yang waktu itu masih kecil selalu berusaha membuat aneka kreasi sulaman bordir saat mempunyai waktu luang.

“Dari situ sudah berpikir untuk menggeluti usaha bordir,” kata Yulidar saat ditemui detikFinance pekan lalu.

Baru pada 1999 ia mulai membuka usaha sendiri setelah ibunya mulai sibuk dengan kegiatan lain. Bermodal bakat dan kemampuan yang dimiliki, Yulidar tidak mengalami kesulitan saat awal membuka usahanya.

Baca Juga :   Punya Keunggulan Garap Pasar Pembiayaan, Kinerja BSI Diyakini Kian Terpacu

“Tidak sulit karena saya punya bakat alam yaitu bakat dari orang tua,” jelasnya.

Usaha bordir Yulidar sempat terhenti hampir setahun akibat musibah gempa dan tsunami melanda Aceh 2004 silam. Seluruh harta benda miliknya hilang waktu itu. Setelah beberapa bulan berada di pengungsian, Yulidar kembali merintis usahanya pada 2006.

Pada saat awal berdiri kembali, Yulidar hanya mampu menjahit dan membordir baju dan mukena. Lambat laun, usahanya miliknnya semakin berkembang. Baru pada 2008 silam ia mampu mengerjakan aneka motif bordiran seperti pinto Aceh, pucuk rebung, beukah cawan dan sejumlah motif lainnya.

“Sekarang motif pinto Aceh paling diminati karena bentuknya simpel,” ungkapnya.

Yulidar menjual hasil bordiran miliknya dengan harga bervariasi seperti mukena yang dibandrol dengan harga mulai Rp 250 ribu hingga Rp 1,5 juta.

Baca Juga :   DIDEMO LS-ADI, Soal Pengelolaan Donasi, Alfamidi Pastikan Kantongi Izin Kemensos

Untuk mukena seharga Rp 250 ribu biasanya siap dikerjakan dalam waktu tiga hari sementara mukena dengan harga Rp 1,5 juta membutuhkan waktu satu bulan untuk mengerjakannya. Sedangkan baju dijual dengan harga mulai Rp 250 ribu hingga Rp 1 juta.

“Mukena Rp 1,5 juta itu mahal karena bordirnya halus dan ada penambahan payetnya. Tapi yang paling dimininati itu bordiran karancang karena bahannya dari sutera,” jelasnya.

Dari bisnisnya ini, Yulidar mampu meraup omset Rp25 juta per bulan. DTC

Komentar

News Feed