oleh

Bulog Sulteng, Stok Beras di Gudang 15.000 Ton

SULTENG POST – Bulog Sulawesi Tengah hingga kini masih memiliki stok beras di gudang 15.000 ton yang sebagian besar dipasok dari luar daerah.

Kepala Perum Bulog Sulteng Ma’ruf, akhir pekan lalu mengatakan stok itu cukup untuk kebutuhan lima bulan mendatang.

Selain masih menguasai stok beras dalam jumlah memadai, Bulog Sulteng juga tetap menggenjot pengadaan beras lokal.

Pada panen ke depan ini Bulog, kata dia, akan berupaya meningkatkan pembelian beras produksi petani di sejumlah sentra produksi di Sulteng.

Enam daerah penghasil beras terbesar di Sulteng yaitu Sigi, Donggala, Tolitoli, Banggai, Poso dan Parigi Moutong telah sepakat ikut mendorong meningkatkan pengadaan beras oleh Bulog dengan mengalokasikan 10 persen hasil produksi petani kepada Bulog.

Ma’ruf optimistis akhir Desember 2016, target pengadaan yang di tetapkan sebanyak 42.000 ton terpenuhi.

Ia berharap semua mitra Bulog gencar membeli beras petani di daerah masing-masing guna memenuhi target nasional.

Harga beras ditingkat petani hingga kini masih tinggi sekitar Rp8.000 hingga Rp 8.500/kg.

Selain itu, Bulog kata Ma’ruf, mendukung kebijakan Gubernur Sulteng Longki Djanggola yang melarang petani menjual beras produksi daerah ini ke luar daerah.

Menurut Kepala Bulog Sulteng Ma’ruf, pelarangan tersebut untuk mengantisipasi langkanya stok beras daerah ini.

“Kalau semua petani menjual semua hasil produksinya ke luar daerah, bisa langka beras di daerah ini, padahal pemerintah harus punya stok cadangan beras,” katanya.

Dikatakan Ma’ruf, pemerintah melalui Bulog harus mempunyai stok cadangan beras 10 persen dari total produksi daerah ini. Apalagi, penyerapan beras oleh Bulog yang dipercayakan pemerintah hanya sebagai stabilisator dan penyedia beras nasional untuk kebutuhan rastra, bencana alam dan juga mendukung operasi pasar.

Kebijakan pelarangan tersebut kata Ma’ruf, bukan melarang 100 persen beras petani Sulteng keluar dari wilayah ini, namun penuhi dahulu kebutuhan Bulog 10 persen dari hasil produksi petani, selebihnya baru  jual ke luar daerah.

“Kita juga mengimbau kepada petani untuk menjual hasil produksinya kepada Bulog, agar realisasi pembelian yang ditetapkan pemerintah untuk daerah ini sebesar 42.000 ton bisa tercapai hingga akhir tahun ini,” kata Ma’ruf.

Dikatakannya, realisasi pengadaan beras oleh Bulog untuk tahun 2016, hingga semester pertama baru berkisar 5.000 ton dari target 42.000 ton.

Saat ini Bulog terus berupaya membeli beras petani, meski harus bersaing ketat dengan para pedagang yang juga datang dari luar Sulteng dengan harga diatas HET.

“Masa kita datangkan terus beras dari luar daerah, padahal selama ini Sulteng merupakan daerah penghasil beras di Pulau Sulawesi,” katanya.ANT/ROA

Komentar

News Feed