oleh

Menteri Agama Puji Keteladanan Guru Tua

-Metropolis-dibaca 388 kali
SR Ads

SULTENG POST – Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin meminta kepada masyarakat, khususnya abnaul Alkhairaat untuk mencontohi dan mengikuti jiwa nasionalisme yang dimiliki oleh Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau Guru Tua.

Jiwa nasionalisme yang dimiliki oleh guru tua kata Lukman Hakim Saifuddin tidak dapat diukur atau nilai oleh apapun, bahkan ia mengaku terharu saat membaca biografi pendakwa dari Indonesia Timur ini.

Dimana perjuangan dakwah beliau tidak hanya lintas daerah, pulau bahkan lintas negara. Yakni  dari  Taris, Hadramaut, Yaman Selatan hingga ke Kota Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia.

Setidaknya kata Lukman Hakim Saifuddin, ada tiga hal yang perlu kita petik dari sejarah perjalan hidup sang wali, yakni pertama penyebarluasan daerah dakwah. Penyebaran daerah dakwah beliau dari yaman masuk Indonesia khususnya Indonesia bagian timur. Tidak dapat dibayangkan kata Lukman Hakim Saifuddin kehidupan keislaman masyarakat Indonesia timur jika seandainya guru tua tidak datang ke Indonesia. Tentu kehidupan keislaman masyarakat Indonesia Bagian Timur tidaklah seperti saat ini.

Kedua yakni memperluas makna jihad. Jihad tidak saja dimaknai sebagai perjuangan di medan perang, namun jihad juga dapat dimaknai dalam perjuangan pendidikan, melawan kebodohan dengan cara mencerdaskan kehidupan bangsa adalah bagian dari jihat terpenting saat ini, apa lagi saat zaman awal-awal dakwah beliau di Indonesia adalah zaman penjajahan. Bangsa Indonesia dapat terjajah sekian ratus tahun karena akibat dari kebodohan bangsa kita saat itu, melalui perjuangan pendidikan Guru Tua dapat merubah wajah kehidupan masyarakat Indonesia Timur.

Yang terakhir adalah organisator ulung, sebagai pejuang tentunya memiliki alat perjuangan, alat perjuangan beliau adalah lembaga Alkhairaat, melalui lembaga itulah Guru Tua tidak jarang harus berhadapan dengan kerasnya penjajah belanda dan jepang, dengan sikap perlawanan yang keras yang tidak mau kopromi, sang wali tidak hanya satu kali berhadapan dengan kerasnya sikap belanda dan jepang terhadapnya.

Namun dengan jiwa nasionalisme yang begitu tinggi, itu tidak menyurutkan jiwa perjuangan dakwah beliau, walau harus berhadapan dengan penjajah kala itu. “Untuk mengetahu jiwa nasionalisme guru tua, kita dapat jumpai di sejumlah syair-syari beliau yang mengandung makna nasionalisme, termasuk menceritakan benderah bera putih dan sebagaimana, suatu sikap yang berani di kala itu,” tutur Lukman Hamim Saifuddin.

Jiwa nasionalisme seperti itulah kata Menteri Agama RI ini patut diteladani, walaupun beliau dilahirkan dan dibesarkan di Yaman Selatan, namun beliau menganggap RI ini adalah tanah kebangsaan beliau yang terus beliau perjuangakan dan mencerdaskan masyarakatnya hingga melahirkan ratusan ribu murid tersebar di seluruh nusantara ini. Bahkan anak keturunanya ada menjadi Menteri Sosial era SBY. Apa lagi yang hanya menjadi anggota legislatif cukup banyak.

“Guru tua terus memberikan manfaat bagi bangsa ini, sejak beliau hidup hingga saat ini, terus mengalir manfaatnya buat bangsa dan Negara ini, kita generasi setelah beliau patut kiranya kita meneladani beliau,” tutur Lukman Hakim Saifuddin. AMI

Komentar

News Feed