oleh

Intje Ami ,Setia Dalam Dakwah Guru Tua

-Pendidikan-dibaca 2.259 kali
SR Ads

DISARIKAN DARI MAJALAH ALKHIRAAT NEWS

SULTENG POST – Intje Ami itulah nama aslinya, masyarakat Palu sering memanggilnya dengan sebutan “Itje” panggilan kesayangannya. Beliau adalah istri Habib Idrus bin Salim Aldjufri dan dari hasil perkawinannya keduanya Alhamdulillah diberikan dua anak perempuan yaitu Syarifah Sida dan Sa’diyah.

Adapun ayahnya bernama Daeng Sute dan ibunya bernama Saodah, sedangkan saudaranya berjumlah lima orang. Daeng Sute merupakan anak dari Raja Kaili dan masih ada hubungan dengan keluarga kerajaan Djanggola. Sebagaimana kita ketahui bahwa Djanggola keluarga kerajaan yang keturunannya memimpin Daerah Sulawesi Tengah Saat ini.

Sebelum bertemu dengan Habib Idrus,  Intje Ami sudah memeluk agama Islam, bukti dari hal tersebut yaitu Ia pernah melaksanakan ibadah Haji (informasi dari Syarifah Sa’diyah anak kedua dari Intje Ami). Adapun paras wajahnya berdasarkan sumber terpercaya yaitu Intje Ami juga nampak seperti orang-orang Arab yang rupanya cantik, meskipun Ia cantik beliau selalu menggunakan cadar, jika keluar rumah.

Dalam berbagai sumber dijelaskan bahwa sebelum menikah dengan Habib Idrus, Intje Ami telah mempunyai empat orang anak dari suami pertama. Empat orang anak ini tinggal di berbagai daerah dan keturunannya ada di Palu.

Dalam berbagai sumber dijelaskan bahwa pada saat itu Habib Idrus tinggal di tempat Daeng Marotja, dan secara kebetulan Daeng Marotja berhubungan keluarga dengan Itje Ami, mungkin itulah awal mula Itje Ami dan Habib Idrus berkenalan. Akan tetapi sebelum bertemu Habib Idrus,  Intje Ami telah bermimpi ketika berada di Saudi Arabia bertemu dengan Rasulullah SAW dan bulan tersebut jatuh dan bertebaran di muka bumi kemudian orang sekitarnya saling merampas hasil dari serpihan-serpihan tersebut. Akan tetapi dalam mimpi tersebut Intje Ami tidak mengumpulkan serpihan bulan tersebut, akan tetapi Intje Ami pergi ke tempat dua anak perempuan yang masih kecil dan mengajak anak itu untuk berjalan bersama-sama. Mimpi ini mengindikasikan bahwa inilah anak dari hasil perkawinan Intje Ami dan Habib Idrus bin Salim Aldjufri yaitu Syarifah Sidah dan Syarifah Sa’diyah. Padahal mimpi tersebut datang sebelum bertemu dengan Habib Idrus bin Salim Aldjufri.

Baca Juga :   IMPLEMENTASI KMB, SMPN 7 Palu Laksanakan Workshop Penyusunan KMB

Ketika terjadi perkenalan antara Habib Idrus dan Intje Ami, banyak pertentangan mengenai perkenalan tersebut.  Pertentangan ini disebabkan Habib Idrus berasal dari Arab yang pada masa itu terkenal  dengan sering meninggalkan istri-istri mereka. Akan tetapi Habib Idrus menunjukkan bahwa dia tidak akan meninggalkan Intje Ami. Hal ini bisa dibuktikan dengan kuburan Habib Idrus yang berada di Tanah Kaili.

Selain itu Intje Ami juga sangat berperan penting dalam penyebaran dakwah Habib Idrus bin Salim Aldjufri dari segi ekonomi. Dikisahkan bahwa Intje Ami ini mempunyai 48 toko yang letaknya di daerah pasar tua, bahkan Intje Ami banyak mempunyai tanah-tanah di daerah kota Palu.  Dengan beberapa kelebihan tersebut Habib Idrus disuruh untuk membuka sekolah, sehingga sekolah tersebut bisa berdiri hingga sekarang dan sekolah tersebut diberi nama Alkhairaat.

Perkawinan dengan Intje Ami sangat membawa berkah tersendiri kepada Habib Idrus bin Salim Aldjufri (Guru Tua), berdasarkan sejarah bahwa kesuksesan Habib Idrus didapat setelah Habib Idrus bersama Intje Ami.

Setelah berdiri Alkhairaat di Kota Palu, banyak orang-orang Palu mulai memperhatikan pendidikan Islam. Termasuk anaknya sendiri yaitu Syarifah Sa’diyah yang ingin sekali memperoleh pendidikan Islam. Bahkan hal ini didukung oleh Intje Ami sendiri, meskipun Habib Idrus tidak mengizinkannya, akan tetapi dengan penuh perjuangan Syarifah Sa’diyah berhasil memperoleh pendidikan dan Syarifah Sa’diyah menjadi guru pertama perempuan di Alkhairaat.

Suatu hari pernah Syarifah Aminah dari Jawa (istri Habib Idrus yang lain) datang ke Palu, pada saat itu Syarifah Aminah ini mendatangi rumah Intje Ami. Melihat kedatangan Syarifah Aminah, Intje Ami sebagai tuan rumah menyambut kedatangannya. Bahkan Injte Ami yang menyiapkan makanan dan air panas. Hal ini menunjukkan bahwa Intje Ami tidak ada sifat benci dan iri kepada Syarifah Aminah, bahkan Syarifah Aminah juga tidak menunjukkan kebencian kepada Intje Ami. Bahkan menurut beberapa sumber cerita bahwa mereka duduk bersama dengan Habib Idrus di depan rumah. Ini menunjukkan ada harmonisasi dalam kehidupan keluarga Habib Idrus bin Salim Aldjufri. Meskipun Syarifah Aminah pada saat itu masih berstatus Istri Habib Idrus, akan tetapi Intje Ami tetap menyambutnya dengan penuh suka cita.

Baca Juga :   Untad dan UKM Bangun Kerjasama Bidang Pendidikan dan Penelitian

Kebaikan Intje Ami tidak hanya dalam membangun rumah tangga, akan tetapi Ia juga sering memberi makanan kepada anak-anak yang datang ke rumahnya. Biasanya ini sering terjadi pada hari Jum’at, Sabtu dan  Minggu.

Intje Ami juga dikenal dengan disiplin waktu, hal ini bisa dilihat dari beberapa peristiwa yang dikisahkan oleh Syarifah Sa’diyah yang mengatakan ketika Intje Ami diundang dalam sebuah acara, maka Intje Ami harus tiba tepat waktu sebelum acara dimulai. Jika acaranya sudah mulai maka Intje tidak akan datang ke tempat tersebut. Karena apabila mengundang Intje Ami maka undangan itu datang seminggu sebelum acara dimulai.

Intje Ami juga dikenal dengan kedermawanannya hal ini juga bisa dilihat dari keseharian Intje Ami. Apabila Ia melihat anak-anak yang bersekolah kadang-kadang Intje memberikan bekal makanan agar mereka tetap semangat bersekolah. Bahkan jika Intje menemukan anak-anak yang bermalas-malasan Intje Ami langsung marah dan berkata Kerja-kerja!. Kalian mau makan apa kalau hanya bermalas-malasan

Selain dermawan dan tegas Intje Ami juga terkenal dengan kebersihannya, hal ini bisa dilihat dari rumahnya yang begitu bersih dan wajib disedikan WC agar lingkungannya bersih. Bahkan menurut riwayat jika Intje Ami pergi ke Dolo ke tempat keluarganya, Ia tidak akan pergi kalau tidak dibuatkan WC.

Sikap-Sikap seperti ini membuat Habib Idrus senang kepada Intje Ami.  Dalam keseharian selain tegas dan dermawan,  Intje Ami juga sangat dikenal dengan disiplinnya. Suatu hari pernah Intje Ami melihat anak-anak yang merendam pakaian, dan pakaian tersebut lama dicuci, sehingga menimbulkan aroma yang kurang sedap.  Maka Ia pun marah kepada anak tersebut dan menasehatinya dengan mengatakan bahwa kalau kerja harus disiplin dan harus mengatur waktu. Intje Ami juga tidak suka melihat anak-anak main kelereng (dahulu masih menggunakan kemiri). Menurutnya itu judi, sehingga anak-anak berlarian jika melihat Intje Ami lewat ketika mereka sedang  bermain kelereng. Tidak hanya bermain kelereng, Intje juga sangat tegas dalam hal berpakaian, jika Intje melihat anak gadis yang berpakaian pendek maka pada hari itu juga dia marah kepada anak gadis itu dan mengatakan “haram-haram menggunakan baju ini”, bahkan jika dia melihat seorang perempuan keturunan Habaib yang menggunakan baju biasa dan tidak menutup aurat atau terlihat rambutnya maka Intje Ami langsung mengatakan “Hay syarifah kamu cucunya sayidah Fatimah kamu harus menjaga aurat dan menutupnya jangan sampai dilihat oleh orang”.

Ketegasan ini membuat Intje Ami disegani dalam keluarga dan lingkungan Kota Palu. Meskipun Intje Ami disegani, tidak menjadikan dia sombong, bahkan Intje Ami tetap bersahaja. Menurut kisah Intje Ami tidak pernah menjual hasil kebunnya dan hasil sawahnya , Intje Ami selalu memberikan nya kepada warga yang miskin di Kota Palu mulai dari nangka, jambu, pepaya, dan buah-buah yang lainnya. Bahkan setiap maulid harus ada pemotongan sapi, karena itu mampu memberikan kesenangan terhadap warga Kota Palu.

Baca Juga :   Rektor Harapkan IMM Perkuat Pengkaderan di Kampus

Bertahun-tahun mendampingi Habib Idrus Intje tidak pernah lelah, setelah Habib Idrus bin Salim Aldjufri meninggal, Intje Ami hidup tinggal bersama anak-anaknya dan Intje Ami dan tetap menjaga amanah-amanah dari Habib Idrus dalam Agama dan tidak berubah sedikitpun setelah 10 tahun kematian Habib Idrus bin Salim Aldjufri, Intje Ami mulai sakit-sakitan pada tahun 1977  dan meninggal dunia tepatnya pada tahun 1979 M. Ketika meninggal banyak yang merasa kehilangan bahkan salah satu orang yang memandikan mayat Intje Ami adalah Istri dari Aziz Lamadjido. Menurut ceritanya Intje Ami ketika dimandikan seperti pengantin sangat cantik dan wangi. Ini merupakan tanda-tanda bahwa orang tersebut sangat mulia hatinya. Kemudian Intje Ami dikuburkan di masjid Alkhairaat bersama Habib Idrus bin Salim Aldjufri.

Demikianlah kisah Intje Ami yang berperan penting dalam kemajuan Alkhairaat hingga saat ini. Intje Ami merupakan seorang perempuan yang sangat layak untuk dijadikan suri tauladan kaum hawa saat ini. Kisah ini juga menggambarkan bahwa dibalik kesuksesan seorang pria ada seorang wanita dibelakangnya baik itu Ibu ataupun Istri. Wallahu ‘Alam bi Sawab. ***

Komentar

News Feed