oleh

Alkhairaat Berdiri, Raja Djanggola Punya Peranan Penting

-Pendidikan-dibaca 1.042 kali
SR Ads

SULTENG POSTSosok pendiri Alkhiraat, Sayyid Idrus Bin Salim Aljufri atau yang lebih dikenal dengan Guru Tua merupakan tokoh penting dalam sejarah perkembangan pendidikan dan dakwah Islam di Sulawesi Tengah maupun  Kawasan Indonesia Timur. Tidak heran jika peringatan Haul Guru Tua yang dilaksanakan setiap tahunnya selalu dihadiri oleh ribuan orang dari berbagai pelosok nusantara.

Pada edisi haul tahun ini, Tim Sulteng Post mencoba menggali sejarah masuknya guru tua di Sulawesi Tengah dengan mendatangi keturunan beliau yakni Hj Syarifah Sa’diyah Bin Idrus Aljufri (anak kedua dari pernikahan Sayyid Idrus Bin Salim Aljufri dengan Itje Ami) dan salah satu kerabat dekat yang masih hidup di zaman Guru Tua, pada Kamis (14/7/2016).

Berdasarkan penuturan yang kami dapatkan bahwa Sayyid Idrus Bin Salim Aljufri atau Guru Tua masuk ke Sulawesi Tengah pada tahun 1930-an. Pada awalnya Guru Tua menetap di daerah Wani dan sangat sulit untuk masuk ke Lembah Palu karena adanya dominasi Belanda pada waktu itu.

Baca Juga :   IMPLEMENTASI KMB, SMPN 7 Palu Laksanakan Workshop Penyusunan KMB

Kesulitan Guru Tua masuk ke Lembah Palu karena ada kecurigaan Belanda terhadap sosok asing yang akan melakukan pemberontakan. Kebetulan pada saat itu, terjadi peristiwa pemberontakan Salumpaga di Tolitoli yang dipimpin oleh Haji Hayyun. Salah satu cara untuk masuk ke Palu dengan kekuasaan raja, Raja Palu yang berkuasa pada saat itu adalah Raja Djanggola.

Raja Djanggola pada waktu itu mengutus kurir untuk melihat aktivitas yang dilakukan oleh Sayyid Idrus Bin Salim Aljufri di Wani.

Usai melaksanakan tugasnya, sang kurir melaporkan ke Raja Djanggola bahwa SIS Aljufri merupakan orang baik, dan aktivitasnya menyebarkan agama Islam.

Mendengar hal itu, Raja Djanggola  bicara dengan Belanda untuk mengizinkan Guru Tua untuk masuk ke Palu. Raja Djanggola menjamin bahwa Guru Tua tidak akan melakukan pemberontakan. Peranan penting Raja Djanggola ini sangat membantu Guru Tua utamanya dalam mendirikan Alkhairaat.

Baca Juga :   Guru SMPN 9 Palu Raih Prestasi Lomba HUT Hardiknas

“Datanglah Guru Tua ke Palu dan tinggal di Ujuna.  Terus beliau pindah ke Kampung Baru dan menikah dengan salah satu kerabat dekat Raja Djanggola yakni  Intje Ami (Ite),” ujar seorang tokoh Alkhairaat.

Hubungan Raja Djanggola dan Guru Tua sangat erat, sehingga Guru Tua sering mendo’akan Raja Djanggola di setiap mimbar-mimbar Jum’at.

“Guru Tua pernah bertutur dan memberikan amanat kepada murid-muridnya bahwa jika ada keturunan Raja Djanggola yang meminta tolong, maka harus dibantu,” tuturnya.

ALKHIRAAT UNTUK UMMAT 

Hj Syarifah Sa’diyah Bin Idrus Aljufri maupun salah satu kerabat dekat yang masih hidup di zaman Guru Tua menuturkan bahwa Perguruan Alkhiraat didirikan oleh Guru Tua untuk kebaikan ummat.

Baca Juga :   Ketua PGRI Sulteng Terima Aduan dari Guru P3K

“Guru Tua pernah berpidato pada tahun 1966 di Masjid Nur. Beliau  mengatakan bahwa Alkhraat bukan miliknya.  Miliknya ummat, saya hanya mengelola, ini sekolahnya orang kaili, semua ini wakaf. Ini umaat yang punya,” ujarnya menirukan perkataan Guru Tua.

Dia juga menuturkan bahwa sepanjang Guru Tua mengurusi Alkhairaat, beliau tidak pernah berselisih dengan orang. Orang selalu mencari Guru Tua,  minta fatwa dan minta nasehat beliau. bahkan orang Nasrani juga sayang sama Guru Tua. WAN

Komentar

News Feed