oleh

Percepat Penangkapan Santoso Cs

-Kab. Poso-dibaca 494 kali
SR Ads

SULTENG POST – Kapolri Jenderal Badrodin Haiti meminta seluruh jajaran untuk mempercepat penangkapan kelompok Santoso di Poso.

Dia meminta agar pimpinan misi menentukan langkah strategis untuk percepatan operasi Tinombala tersebut.

“Target dari Operasi Tinombala ini melakukan penegakan hukum terhadap jaringan kelompok Satoso. Beliau juga sampaikan evaluasinya, seluruh tim dan para atasan yang memiliki tugas dan tanggung jawab menentukan langkah yang lebih strategis agar percepatan penangkapan jaringan kelompok Santoso lebih cepat,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar menyampaikan pesan Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Senin (20/6/2016).

Dia mengatakan dengan adanya perpanjangan masa operasi hingga Agustus 2016, Kapolri berharap penangkapan dilakukan secepatnya.

“Operasi Tinombala saat ini masih berlangsung, gabungan antara Polri dan TNI ikut dilibatkan. Penekanan beliau, bagaimana bisa sebelum operasi ini berakhir, kelompok jaringan itu bisa kita tangkap,” ujar dia.

Bulan Agustus merupakan batas waktu yang diberikan untuk menangkap kelompok ini.

Baca Juga :   Dua Warga Poso Tewas Usai Diduga Alami Tindak Kekerasan

Lantas bagaimana apabila pada waktu yang telah ditentukan Santoso cs belum tertangkap? “Tentu nanti kami lihat. Yang penting di sisa waktu yang ada, seluruh kekuatan harus dimaksimalkan agar kelompok ini bisa segera kami tangkap,” tutup Boy.

Sebelumnya, Satuan tugas Operasi Tinombala 2016 kembali menangkap salah seorang terduga anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso.

Anggota Santoso yang tertangkap masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) diketahui bernama Mohamad Unur Usman Paisi alias Samil alias Nunung (22). Ia ditangkap di Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir pada Kamis malam (16/6/2016) sekitar jam 20.30 Wita.

Mohamad Unur Usman Paisi alias Samil alias Nunung, ditangkap aparat Satgas Tinombala saat turun di perkampungan warga untuk berbuka puasa. Satgas Tinombala yang mencurigai keberadaan Samil alias Nunung, langsung melakukan penangkapan disalah satu rumah warga di Dusun Tamanjeka.

Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Hari Suprapto mengatakan penangkapan satu DPO kelompok Santoso itu terjadi di salah satu rumah warga di Tamanjeka, saat Samil alias Nunung turun dari persembunyian di gunung biru untuk berbuka puasa.

Baca Juga :   Dua Warga Poso Tewas Usai Diduga Alami Tindak Kekerasan

“Kita menerima laporan satu DPO dari tim lapangan dan dilakukan penangkapan tanpa kekerasan, DPO yang ditangkap itu warga Dusun Tamanjeka, keterlibatannya masih terus dilakukan penyelidikan di Mapolres Poso. Saat ini  masih dilakukan pemeriksaan kesehatan dan psikologi,” jelas Hari, Jumat (17/6/2016).

Dari data pihak kepolisian, ditangkapnya Samil alias Nunung, jumlah DPO Santoso tersisa 21 orang. Satgas Tinombala masih terus melakukan pengejaran terhadap DPO kelompok Santoso di wilayah pegunungan Poso.

Sementara itu, Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Agus Surya Bakti dalam kunjungannya di Poso, Kamis (16/6/2016) mengatakan TNI melibatkan seluruh keluarga daftar pencarian orang (DPO) kelompok Santoso dalam operasi teritorial 2016 yang tengah berlangsung di wilayah kabupaten Poso.

Dikatakanya, TNI sengaja melibatkan mereka untuk mencegah terkucilnya seluruh keluarga DPO kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dalam kesehariannya sebagai warga Poso.

“Kita mengajak semua pihak, baik masyarakat biasa maupun keluarganya (keluarga DPO). Supaya keluarganya itu tidak disisihkan karena kalau mereka merasa disisihkan tambah dendam mereka,” ungkap Agus saat hendak melaksanakan salat tarawih di Batalyon 714 Poso, Kamis malam.

Baca Juga :   Dua Warga Poso Tewas Usai Diduga Alami Tindak Kekerasan

Keterlibatan kelurga DPO dalam operasi teritorial adalah mencetak 3000 hektare sawah di wilayah Kabupaten Poso, dan akan di bangunkan rumah-rumah keluarga kurang mampu di daerah tersebut, termaksud rumah beberapa keluarga DPO.

“Kita rangkul mereka, untuk membangun rumah yang rusak, membangun rumah ibadah, sehingga mereka tetap berinterkorelasi dengan warga sekitar,” kata agus.

Operasi teritorial mulai dibuka pada 4 Juni 2016 yang lalu oleh Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Agus Surya Bakti. Rencananya operasi terotorial ini akan berlangsung selama 90 hari dan dipusatkan di wilayah Kabupaten Poso.

Operasi ini untuk memperkuat operasi Tinombala yang juga tengah berlangsung untuk mengejar sejumlah target DPO kelompok Mujahidin Idonesia Timur, pimpinan Santoso alias Abu Wardah. Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan stigma negatif wilayah Poso yang dianggap sebagai daerah rawan konflik.DTC/SYM/VVN

Komentar

News Feed