SULTENG POST- Kehidupan yang dijalani Dirgan (48) sangatlah berat. Setiap hari dirinya harus mencari rezeki dengan menarik becak di pasar tradisional Manonda Palu.
Profesi tukang becak telah dilakoninya sejak 10 tahun yang lalu, demi satu kalimat, memberikan nafkah bagi istri dan delapan anaknya.
“Setiap pagi saya datang ke Pasar Tradisional Manonda, sudah hampir 10 tahun saya melakukan ini,” katanya sambil menangis kepada Sulteng Post, Kamis (6/11).
Ditengah deritanya sebagai tukang penarik becak, Dirgan tak pernah mengeluh. Bahkan semangatnya terus menggelora. Dalam benaknya, kewajiban seorang kepala keluarga harus mampu memberikan kehidupan yang layak bagi anggota keluarganya. Meski, hanya menjadi penarik becak sewaan.
“Semua ini demi anak- anak dan keluarga yang saya cintai, setiap hari saya pulang pergi dari kaleke ke pasar Tradisional manonda,” katanya sambil mengusap airmatanya.
Pendapatan warga Kaleke ini dalam sehari tidak menentu. Terkadang dirinya hanya mendapatkan RP30 ribu dalam satu hari. Paling tinggi hanya Rp60 ribu. Hasil jerih payanya dari pagi hingga sore tersebut harus dipotong Rp7 ribu buat sewa becak.
“Penghasilan saya dalam sehari tak menentu, tapi saya harus berusaha untuk menghidupi keluarga,” katanya.
“Saya tetap mensyukuri dengan penghasilan saya, karena menurut saya ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama keluarga,” katanya.
Dengan kondisi seperti itu, Dirgan berharap pemerintah dapat memberikan bantuan bagi kehidupan dirinya dan keluarganya. ARIATI
Komentar