oleh

Adu Taktik di Derby Manchester

-Olahraga-143 views

SULTENG POST – Minggu (2/10/2014) nanti, Stadion Etihad akan menjadi saksi siapa yang saat ini terkuat di Manchester: Si Merah yang meraih gelar terbanyak, atau Si Biru yang musim lalu menjadi juara?

Dari dua pertandingan terakhirnya pekan lalu, Manchester City tampak tengah dilanda penurunan. Di liga, mereka kalah 1-2 dari West Ham United, sementara di Piala Liga kalah dua gol tanpa balas dari Newcastle United di depan pendukung sendiri. Padahal, komposisi pemain tak mengalami perubahan berarti.

Kumala Digifest

Sementara itu, Manchester United “sukses” menahan imbang Chelsea 1-1 di Old Trafford. Namun, di balik itu semua, Manajer United Louis van Gaal bisa bernafas lega karena Marouane Fellaini sudah menunjukkan penampilan terbaiknya.

Memperkuat Lini Tengah

Manajer City Manuel Pellegrini masih kesulitan meramu komposisi pemain di lini tengah. Dengan Yaya Toure dan Fernandinho yang mengisi pos tersebut, sulit rasanya bagi keduanya untuk secara intensif menyerang sekaligus bertahan. Toure, yang pada musim-musim sebelumnya berperan sebagai pengalur serangan, kini seringkali terlihat berdampingan dengan Fernandinho untuk menahan gempuran serangan lawan.

Dibandingkan dengan musim lalu, tidak ada perubahan signifikan dari skuat City. Pellegrini masih mempertahankan formasi 4-4-2 dengan dua pemain sayap cepat di kedua sisi dan dua fullback yang kuat secara fisik. Hal yang terlihat berbeda pada musim ini pos lini tengah yang biasa dihuni Javi Garcia, kini diisi Fernandinho atau Fernando. Saat Toure tak tampil, ada Frank Lampard yang biasa bermain di pos tersebut.

Saat menjadi juara pada musim 2011/2012, kekuatan City adalah kemampuan mereka melakukan pressing ketat kepada lawan. Beberapa kali saat itu pemain City terlibat kontak fisik saat memberi tekanan. Hal ini yang membuat lawan, secara taktik, seringkali terpancing baik itu karena emosi atau mental yang turun. Lawan pun tidak bisa memeragakan taktik yang diperintahkan pelatih.

Saat lawan menyerang, kedua sayap City memaksa pemain lawan mengarahkan bola ke tengah. Di pos tersebut, berdiri tembok kokoh yang bukan hanya merebut bola, tapi juga mengacaukan kosentrasi pemain lawan.

Di musim ini, hal tersebut seolah tak berlaku. Adanya jarak antara lini belakang dan lini tengah, membuat lawan kerap bergerak bebas di area tersebut. Terlebih bagi lawan yang memang menumpuk pemain di lini tengah.

Hal ini terlihat saat pertandingan menghadapi Arsenal. Mesut Oezil, Jack Wilshere, Aaron Ramsey, dan Alexis Sanchez terlihat begitu bebas dan leluasa mengoper bola di area tengah. Mereka mesti menghentikan pergerakan secara paksa pemain lawan yang untungnya, tidak berhadiah kartu dari wasit.

Jelang laga, Pellegrini mesti membenahi koordinasi di area tersebut. Terutama, jika mereka tak ingin Ander Herrera menerobos masuk dan mencetak gol.

Mempertahankan Ritme

Lini serang Manchester United pada musim ini belum bisa dibilang tajam, tapi tidak bisa juga disebut mandul. Dari 16 gol yang mereka cetak, hanya tujuh gol yang berasal dari trio penyerang. Sisanya dicetak oleh para gelandang. Jika melihat apa yang terjadi di lapangan, hal ini tak lepas dari instruksi yang diberikan untuk penyerang United, untuk bermain melebar dan membuka ruang.

Louis van Gaal tengah bergembira karena saat ini penampilan Fellaini menunjukkan peningkatan. Gelandang berambut kribo asal Belgia tersebut diharapkan mampu mengulangi permainan agresifnya kala melawan Chelsea pekan lalu.

Di lini tengah Daley Blind dan Ander Herrera pun menciptakan harmoni yang baik terutama saat menyerang dan bertahan. Keduanya cepat saat melakukan transisi dari menyerang ke bertahan, pun sebaliknya.

Dengan formasi tiga bek, keduanya adalah pemain yang terbilang aktif untuk menjemput bola dan mengalirkannya ke lini serang. Perannya menjadi penting karena mereka adalah palang pintu pertama sebelum lawan bisa menembus area kotak penalti.

Dengan Falcao dan Wayne Rooney yang sudah bisa tampil, kemungkinan Juan Mata kembali menghangatkan bangku cadangan. LVG sepertinya akan menurunkan Falcao dan Rooney di lini depan.

Keduanya memiliki tipikal yang berbeda dengan Van Persie yang cenderung menunggu di dalam kotak penalti. Falcao bisa menjelajah ke sisi lapangan, sementara Rooney bukanlah tipe penyerang yang pemalas. Di era Ferguson, ia sempat ditempatkan menjadi gelandang serang. Saat bermain, keduanya bisa membuka ruang ke kedua sisi. Hal ini diharapkan mampu membuka celah di lini tengah lawan, yang membiarkan lini kedua United bebas mengeksploitasi pertahanan lawan.

Dengan menjaga ritme seperti musim lalu, setidaknya United bisa menguasai lini tengah dan memberi ancaman berarti bagi The Citizens. DTC

 

Komentar

News Feed