oleh

Prof Lukman: Politik Identitas dan Kekerasan Atas Nama Agama Rusak Keutuhan Bangsa

-Pendidikan-dibaca 122 kali

SULTENG RAYA- Guru Besar Bidang Filsafat dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Prof. Dr. H. Lukman S Thahir, M.Ag mengatakan Politik Identitas dan kekerasan atas nama agama berpotensi rusak keutuhan Negera Kesatuan Republik Indonesia.

Katanya, politik identitas yang mengacu pada kepentingan identitas kelompok sendiri, dimana model politik seperti ini lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya yang didasari pada kesemaan  identitas, seperti agama, gender, budaya, dan lainnya.

Di Indonesia, istilah ini mulai ramai diperbincangkan pada saat pilkada 2017, persaingan tajam dua kontestan politik, Ahok dan Anies Baswedan, dimana hal tersebut mengangkat ranah etnis dan agama.

Politik identitas yang mengelompokan masyarakat menjadi dua bagian dan menjatuhkan lawan dengan hal yang berkaitan dengan identitas, sebagai strategi yang efektif dan sangat bersifat sensitif emosional untuk mendapatkan suara terbanyak. Hal ini berlanjut di tahun 2019 saat pelaksanaan pilres, semisal “cebong” sebagai representasi kelompok Jokowi dan “Kampret” atau  “Kadrun” sebagai reprsentasi kelompok Prabowo.

Baca Juga :   Pelaksanaan ANBK di SMPN 6 Palu Berlangsung Empat Hari

“Model politik  identitas seperti ini, jika dibiarkan terus menerus dan tidak diintervensi dengan berbagai bentuk kontra narasi positif, dapat memicu konflik dan bahaya laten di tengah masyarakat dan akibatnya dapat menghancurkan relasi umat beragama yang pada akhirnya akan mengancam kestabilan Negara Kesatuan Republik Indonesia,”sebut Prof Lukman, dalam orasi ilmiahnya pada pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Filsafat dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Selasa (20/9/2022).

Katanya, politik identitas dapat dianalogikan dengan politik mie instan, untuk sedapnya makanan, digunakan berbagai bumbu sehingga memiliki cita rasa yang berbeda, meski tidak mengenyangkan tetapi enak dimakan. Bahayanya makanan itu jika dikonsumsi secara terus menerus dapat merusak kesehatan manusia.

Demikian pula politik identitas, kepentingan politik dibumbui dengan berbagai ayat dan simbol-simbol agama, yang oleh pendengarnya dirasa harum seberbak berbau surgawi, nikmat dan menyenangkan. Akibatnya mereka akan terpengaruh tidak merasakan bahaya yang mengancam bagi diri mereka.

Baca Juga :   Usung Semangat Transformasi & Inklusivitas, Dekan FEB UI Jadi Pembicara Nobel Prize Dialogue

Model pendekatan politik seperti ini, lambat atau cepat akan mencederai dan mengkotak-kotakkan masyarakat yang akhirnya merusak tatanan hidup masyarakat.

Dalam konteks wacana seperti ini, teologi Islam kontemporer, sesuai teoritis bertugas membongkar selubung ideologis yang tersembunyi dibalik wacana teks politik identitas, agar masyarakat atau umat sadar bahwa mereka digiring dan bahkan disesatkan untuk kepentingan sesaat dan jangka pendek.

Masyarakat harus tau bahwa politik identitas itu adalah racun bagi rakyat. Secara praktis, teologi Islam kontemporer berfungsi emansipatoris, dengan mendorong masyarakat untuk menolak segala bentuk penggunaan politik identitas, baik lewat advokasi, pendampingam masyarakat, maupun lewat pendidikan politik masyarakat, dengan memberikan sanksi moral kepada setiap partai pilitik. Atau anggota parpol yang mencoba menggunakan politik identitas.

Hal yang sama katanya, terhadap ajakan melakukan kekerasan atas nama agama, memainkan bahasa Alquran, mereka adalah orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsunya untuk kepentingan dirinya sendiri. Mereka dalam konteks teologi Islam kontemporer dapat dianalogikann sebagai “Tukang Sulap Ilusionis”. Menyulap agama seakan-akan nyata, padahal sejatinya adalah ilusi atau kebohongan.

Baca Juga :   Lima Peserta Didik SMPN 7 Palu Akan Mengikuti ANBK Kembali

Masyarakat yang tidak paham agama, yang ikut ajaran jihatnya dijanjikan sebagai jalan pintas untuk masuk syurga dengan ditemani berbagai bidadari di surga.

Padahal sebenarnya katanya, itu hanyalah ilusi, sama sekali tidak ada dalam ajaran Islam yang mengajarkan kekerasan, apalagi orang yang melakukan kekerasan itu akan mendapatkan bidadari di dalam surga. “Sama halnya dengan tukang sulap, yang mempraktekan ilusi dihadapan penontonnya, itu sama sekali tidak benar,”tegas Prof Lukman.

Untuk itu kata Prof Lukman, dua hal tersebut yakni Politik Identitas dan Kekerasan Atas Nama Agama harus bisa dihindari, masyarakat harus bisa menolak demi keutuhan masyarakat bangsa dan negara. ENG

Komentar

News Feed