oleh

DTPH: Budidaya Porang Sangat Potensial di Sulteng

-Kota Palu-dibaca 249 kali

SULTENG RAYA – Komoditi porang sangat berpotensi besar untuk dikembangkan petani di Sulawesi Tengah.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Sulawesi Tengah, Retno Erningtyas, mengatakan, pengembangan porang dapat dilakukan di lahan kering non sawah yang masih sangat luas di daerah itu.

“Kita memiliki lahan kering non sawah untuk pengembangan tanaman pangan dan hortikultura di hamper semua kabupaten seluas 4.189.653,9 hektar,” kata Retno Erningtyas saat menyampaikan sambutan pada Bimbingan Teknis Pengembangan Porang di Aula DTPH, Jalan Kartini, Kota Palu, Selasa (21/6/2022).

Menurutnya, saat ini, porang terus dikembangkan petani di sejumlah daerah di Sulteng, seperti di Tojo Una-una, Donggala, Parigi Moutong dan Banggai sejak 2021.

Baca Juga :   Sukses Digelar Tahun Ini, Wawali Reny: Anggaran Festival Tangga Banggo Bakal Ditambah

“Peluangnya sangat besar dari segi pasar yang mencakup pasar luar negeri dan dalam negeri. Pasar di luar negeri seperti Jepang, Taiwan, Korea, dan beberapa Negara Eropa. Berdasarkan data, bahwa Oktober 2019, volume ekspor porang mencapai 11.170 ton dengan Negara tujuan Pakistan, Malaysia, Kamboja, dan Bangladesh, Vietnam, Jepang, Hongkong, China, Thailand, Korea Selatan. Nilai ekonomi bernilai Rp11,31 miliar,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa, dalam satu hektar lahan membutuhkan investasi setidaknya Rp75 juta dengan rincian biaya produksi untuk bibit, pupuk, dan kebutuhan perawatan lainnya.

“Pembelian benihnya berasal dari umbi, itu sekitar Rp50 juta untuk kebutuhan investasi per hektar. Belum lagi dengan pupuk dan lainnya, itu bisa ditaksir sekitar Rp75 juta per hektar,” tuturnya.

Baca Juga :   Seluruh Daerah di Sulteng Sudah Membentuk TPKAD

Namun, dibalik potensi besar itu, lanjutnya, masih ada sekelumit tantangan yang harus dihadapi pemerintah maupun masyarakat petani, sebut saja soal ketersediaan bibit tersertifikasi dan berlabel, masalah harga yang sangat bergejolak.

“Animo petani banyak, hanya saat ini harga porang sedang anjlok, karena kita kebutuhan terbesar untuk ekspor. Kendala di ekspor lagi ada bermacam-macam, semuanya berdampak pada pemasaran produk-produk pertanian, tidak hanya porang tapi komoditi lain. Kemarin sudah mulai turun, dari Rp7.000 per kilogram, sekarang ini tinggal Rp1.500 per kilogram. Karena memang hukum ekonomi, didalam negeri pun masyaraka belum familiar dengan produk-produk pangan berbahan baku porang,” tuturnya.

“Belum lagi benih yang dilepas oleh pemerintah masih terbatas jumlahnya. Dua penggunaan benihnya masih digunakan untuk umbi dengan harga benih yang sangat mahal, sehingga memberatkan petani lambat berkembang. Ekspor porang hanya terbatas pada cip dan tepung sehingga tidak menikmati nilai tambah yang maksimal,” ujarnya menambahkan. RHT

Baca Juga :   Wawali Reny: Cegah Stunting Perlu Kolaborasi Semua Pihak

Komentar

News Feed