oleh

Panglima Damai Poso: Hentikan Kekerasan, Bangun Peradaban

-Kab. Poso-dibaca 350 kali
SR Ads

SULTENG RAYA Panglima Damai Poso, Haji Adnan Arsal, menyerukan pentingnya menghentikan semua bentuk kekerasan. Baginya, kekerasan bahkan yang diatasnamakan agama hanya akan menambah penderitaan.

Haji Adnan menjadikan pengalaman konflik berkepanjangan di Poso sebagai bukti bahwa kekerasan tidak menghasilkan apa-apa kecuali kerusakan dan penyesalan mendalam.

Hal ini disampaikan Haji Adnan dalam rangkaian bedah buku Muhammad Adnan Arsal: Panglima Damai Poso yang diselenggarakan di Palu dan Poso pada 21 dan 22 Januari 2022.

Buku karya Khoirul Anam terbitan Elex Gramedia Jakarta ini memuat lengkap kisah perjuangan Haji Adnan dalam mengawal berbagai upaya damai untuk penyelesaian konflik di Poso yang pecah sejak 1998.

“Konflik ini bikin kita semua lelah, frustrasi, habis semua,” ungkap sang Panglima, di Ballroom Swiss-Belhotel Kota Palu, Jum’at (21/1/2022).

Baca Juga :   Satgas Madago Raya Dukung Sogili Tolerunsi Poso 2022

Karenanya, alih-alih menyelesaikan persoalan dengan kekerasan, Haji Adnan meminta agar masyarakat lebih mengutamakan jalan damai. Belajar dari pengalaman penyelesaian konflik di Poso, Haji Adnan percaya bahwa semua permasalahan pasti bisa dirundingkan jalan keluarnya.

“Utamakan dialog. Konflik di masyarakat, pasti bisa didialogkan. Selesaikan semuanya dengan damai, tak perlu lakukan kekerasan. Itu tidak akan menyelesaikan konflik,” lanjut Haji Adnan.

Dalam diskusi dan bedah buku setebal 266 halaman lebih itu, yang berlangsung di Ballroom Swiss-Belhotel Kota Palu, selain dihadiri Haji Adnan dan Khoirul Anam, juga dihadiri Ketua MUI Kota Palu Prof. Dr. H Zainal Abidin, sebagai Keynote Speaker, Ketua Tanfidziyah Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Sulawesi Tengah DR. H Lukman S. Thohir, PW Muhammadiyah Sulteng, Prof. Dr. Muhammad Khairil, Sekjen PB Al Khairaat, H Ridwan Yalidjama, dan Ustad Najih Arromadloni sebagai pengantar materi, serta puluhan tamu undangan lainnya.

Baca Juga :   Satgas Madago Raya Dukung Sogili Tolerunsi Poso 2022

Apresiasi Densus AT 88

Haji Adnan juga menyebut bahwa saat ini, salah satu potensi konflik yang masih ada dan menggejala adalah radikalisme dan terorisme. Ia percaya, dua ancaman di atas dapat menyasar siapa saja. Karenanya ia meminta masyarakat terus meningkatkan kewaspadaan, terlebih karena radikalisme dan terorisme kerap bersembunyi di balik ‘mimbar’ agama.

Secara khusus, Haji Adnan menyampaikan apresiasi terhadap Densus AT 88 yang dipandangnya telah bekerja sangat serius dan profesional dalam memberantas radikalisme dan terorisme. Baginya, Densus telah sukses bukan hanya dalam menindak pelaku teror, tetapi juga dalam mengawal agar ideologi radikal dan teror tidak berkembang dan memakan lebih banyak korban.

Meski demikian, Haji Adnan menyerukan bahwa penanggulangan radikalisme dan terorisme bukan semata tugas Densus 88 dan kepolisian secara umum, melainkan tugas seluruh komponen masyarakat.

Baca Juga :   Satgas Madago Raya Dukung Sogili Tolerunsi Poso 2022

“Kerja-kerja kontranarasi dan ideologi seperti yang dilakukan Densus 88 harus kita lakukan juga. Kepolisian tidak bisa bekerja sendiri, kita harus bersama-sama mencegah dan menanggulangi segala bentuk tindak kekerasan atas nama apa pun demi terwujudnya kedamaian, kesejahteraan, dan kesatuan di Negara Indonesia,”tambahnya.

Sementara sang penulis buku, Khoirul Anam menegaskan tiga hal, yakni kekerasan dengan alasan apapun tidak menyelesaikan masalah, kedua kekerasan di Poso jangan sampai diduplikat di tempat lain, cukuplah Poso tempat dimana kekerasan komunal itu pernah terjadi dan menyisahkan kepedihan mendalam pada bangsa ini, dan terakhir ketiga bahwa penyelesaian kasus di Poso oleh aparat kepolisian selama ini telah menggunakan pendekatan humanistik. ENG

Komentar

News Feed