oleh

Penanganan Pandemi Baik Diyakini Topang Kinerja IHSG 2022

-Ekonomi-dibaca 92 kali
SR Ads

SULTENG RAYA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih optimistis tahun ini, seiring membaiknya penanganan pandemi Covid-19 dilakukan Pemerintah.

Analis pasar modal dari PT Ciptadana Sekuritas Asia, Robert Sebastian, mengatakan, Pemerintah sudah cukup baik dalam penanganan pandemi. Seperti berupaya kuat memutus rantai penyebaran varian baru Omicron.

Hal itu diiringi pula gencarnya vaksinasi yang sudah menapaki tahap ketiga atau booster. Ditambah dengan pemberlakukan PPKM dengan level berbeda yang disesuaikan tingkat penyebaran Covid-19 di setiap daerah.

“Jadi saya rasa bisa untuk menahan laju penurunan indeks akibat kekhawatiran dari pada pandemi Covid-19. Oleh karena itu, untuk IHSG pada 2022 kami masih optimistis,” ujarnya menjelaskan dalam acara Investment Talk yang diselenggarakan D’ORIGIN bekerja sama dengan IGICO Advisory pada Rabu (19/01/2022) sore secara daring.

Lebih rinci, Robert menegaskan pihaknya masih inline dengan target IHSG dari akhir tahun lalu yaitu pada level 7.300 berdasarkan PE 16 kali. Pihaknya pun memproyeksikan saham sektor kesehatan akan lebih resilience baik dalam kondisi penyebaran pandemi atau tidak.

Dia mencontohkan, walaupun pandemi mereda akan di-replace dengan kasus-kasus base case di sektor kesehatan itu sendiri. Karena semuanya saling menunjang, misalnya, dengan membaiknya sektor rumah sakit berdampak ke sektor lain seperti distribusi alat kesehatan.

Baca Juga :   ABB Global Survei Ungkapkan Upaya Percepatan Efisiensi Energi Industri Global

“Jadi saya rasa kalau untuk saham sektor kesehatan masih cukup baik view-nya. Jadi kami juga masih overwrite di sektor kesehatan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama Founder of kurikulumsaham.com Alex Sukandar mengatakan bahwadilihat secara bulanan sejak Oktober 2021, IHSG sudah terjadi breakout.

“Dari tren lainnya yang waktu Oktober itu memang sudah keliatan positif, bagus ya. Kalau kita lihat ke weekly pun sebenernya ini sejak dari 11 Oktober,” ujarnya.

Dia merinci, area support IHSG ada di level 6.479 dengan level resistance 6.740. Senada dengan Robert, Alex pun memiliki optimisme terhadap saham-saham di sektor kesehatan seperti IRRA, KLBF, INAF dan KAEF.

Dalam acara Investment Talk kali ini turut hadir Henry F. Jusuf selaku Direktur Strategi & Investor Relation PT Itama Ranoraya Tbk. Usaha inti emiten berkode IRRA tersebut adalah alat kesehatan jarum suntik.

Dia mengatakan, saat ini pelaku usaha merasa lebih nyaman dan optimistis dengan penanganan pandemi yang dilakukan pemerintah. Hal tersebut, kata Henry, akan berdampak baik ke bursa saham.

Baca Juga :   BERDAYAKAN EKONOMI MASYARAKAT, PLN Kembangkan Potensi Desa Wisata Pasir Putih

Oleh karena itu, IRRA berkomitmen untuk terus bisa relevan dalam hal penanganan masalah-masalah kesehatan di Indonesia.

“Kami secara group sebelum adanya Covid-19, sudah punya planing untuk pabrik jarum suntik auto disable terbesar di Asia. Karena demand-nya sudah terlihat, tren seluruh dunia kekurangan jarum suntik sehingga alangkah baiknya kalau misalnya Indonesia punya,” lanjut dia.

Sehingga saat terjadi pandemi bisa memberikan support yang relevan untuk pengadaan jarum suntik Tanah Air maupun ekspor. Bahkan produk dari IRRI dengan cepat disesuaikan kebutuhan masyarakat dengan standar organisasi kesehatan dunia atau WHO.

“Kami secara grup juga terus melakukan research and development. Kami di medical devices banyak sekali paten yang kita telorkan secara global sehingga untuk kemajuan medical industries di Indonesia juga,” ujarnya.

Henry mengatakan hal tersebut dengan alasan kuat. Diharapkan Indonesia dapat mampu memenuhi kegutuhannya sendiri akan alat kesehatan. Sehingga ke depan strategi pemerintah dalam menghadapi masalah seperti pandemi sejalan dengan industri penunjang di Tanah Air, yang menghadirkan solusi masalah dengan cepat.

Baca Juga :   Pengetasan Kemiskinan, Kabappeda Arfan: Perlu Pemeratan Akses Kredit

VAKSINASI KIAN GENCAR

Dalam kesempatan tersebut hadir pula Siti Nadia Tarmizi selaku Juru Bicara Pemerintah untuk Vaksinasi COVID-19. Dia mengungkapkan bahwa hingga Rabu (19/01/2022) jumlah vaksinasi dosis pertama sudah mencapai 177,64 juta, sementara vaksinasi dosis kedua telah mencapai 121,07 juta.

Artinya masih sekitar 14% dosis pertama dan dosis kedua sekitar 42% untuk diselesaikan dari total jumlah penduduk yang wajib divaksinasi. ”Menjadi penting vaksinasi ini untuk tidak ada celah-celah yang bolong untuk menghadapi varian Omicron. Dan lansia itu menjadi target kita. Vaksinasi dosis booster pun telah dimulai dari tanggal 12 Januari 2022,” ujarnya.

Dengan demikian diharapkan pandemi dapat semakin tertangani lebih baik. Sehingga laju ekonomi tidak tersendat.

“Oleh karena itu segera percepat vaksinasi, tetap jaga protokol kesehatan, kurangi mobilitas, karena selalu menyebabkan peningkatan laju penularan Covid apapun variannya. Dan kita harus yakin gelombang ketiga ini masih bisa kita cegah, harus proaktif jangan sampai gelombang ketiga ini terjadi. Yang sudah waktunya booster segera booster dan jangan menunda-nunda,” pungkasnya.*/RHT

Komentar

News Feed