oleh

Alokasi Minyak Goreng Subsidi di Sulteng Belum Jelas

-Ekonomi-dibaca 183 kali
SR Ads

SULTENG RAYA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan akan memulai Operasi Pasar (OP) minyak goreng bersubsidi pekan ini.

Plt Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulteng, Donny Iwan Setiawan, mengatakan, sampai saat ini, hingga Kamis (13/1/2022) kemarin, belum ada angka pasti soal alokasi minyak goreng bersubsidi untuk Sulteng.

Padahal harga minyak goreng kemasan sederhana saat ini sedang tinggi di Kota Palu khususnya, berada di kisaran Rp19.000 sampai dengan Rp22.000 per liter. Jauh diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp11.000.

“Kami sudah hubungi Kemendag, belum dapat kejelasan, kalau ada info segera kami kabar,” katanya kepada Sulteng Raya, Rabu (12/1/2022).

Melansir republika.co.id, pemerintah akan mensubsidi sebanyak 1,2 miliar liter minyak goreng untuk enam bulan ke depan. Minyak goreng bersubsidi itu akan dijual seharga Rp14.000 per liter.

Adapun total dana subsidi mencapai Rp3,6 triliun yang bersumber dari dana pungutan ekspor sawit di Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Mendag Lutfi mengatakan, dalam menjalankan program itu, pemerintah harus memastikan akuntabilitas dari pendistribusian minyak goreng subsidi. Pihaknya mengantisipasi potensi praktik penyelundupan minyak goreng dan dikumpulkan untuk diekspor.

Baca Juga :   Pengetasan Kemiskinan, Kabappeda Arfan: Perlu Pemeratan Akses Kredit

“Ini adalah pekerjaan yang sangat besar jadi kita mesti bekerja sama dengan akuntabel. Kita tidak mau kemasan sederhana dipotong, dikumpulkan terus dijual untuk ekspor. Kita mau ini untuk rakyat dari rakyat,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan pendistribusian minyak goreng subsidi itu tidak hanya dilakukan oleh BUMN namun juga perusahaan swasta. Namun Kemendag belum merinci daftar produsen maupun merk apa saja yang nantinya bakal menyedian minyak goreng subsidi.

Lutfi mengatakan, pada tahun ini Indonesia kemungkinan kembali akan menghadapi fenomena tingginya harga minyak sawit (crude palm oil/CPO) yang berimbas pada mahalnya harga minyak goreng. Saat ini diketahui harga CPO mencapai 1.340 dolar AS per metrik ton (MT) atau lebih tinggi dari harga normal sebelumnya sekitar 600-800 dolar AS per MT.

“Memang karena harga naik ekspor minyak sawit kita pada 2021 mencapai 27 miliar dolar AS, tapi efeknya harga minyak goreng ikut naik. Nah sekarang kita sedang intervensi supaya harga terjangkau di Rp14.000 per liter,” kata Lutfi.

Baca Juga :   Pengguna Pertama CRETA di Palu, dr Herman ‘Seumur Hidup’ Bersama Hyundai

Pemerintah akan mengevaluasi program subsidi minyak goreng tersebut. Jika nantinya harga tetap tinggi setelah enam bulan pertama dilakukan operasi pasar, program subsidi akan dilanjutkan untuk enam bulan kedua.

“Kalau harga tidak stabil, kita lanjutkan lagi enam bulan sehingga (volumenya) menjadi 2,4 miliar liter,” ujarnya.

REGULASI HET MINYAK GORENG BAKAL BERUBAH

Sementara itu, Kemendag  membuka opsi untuk menaikkan HETminyak goreng. Saat ini, HET minyak goreng kemasan sederhana berada di angka Rp11.000 per liter. Namun, berpotensi bisa lebih tinggi ke depannya.

“HET memang perlu dilakukan kajian, karena harga acuan minyak goreng curah atau kemasan sederhana yang ditetapkan Permendag 07 Tahun 2020 itu disusun berdasar acuan standar harga CPO US$ 600, sehingga hal tersebut tidak lagi menjadi acuan, nggak pas. Berkaitan dengan ini, memang akan ada penyesuaian harga acuan,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan dalam konferensi pers, Jumat (10/12/21).

Baca Juga :   ABB Global Survei Ungkapkan Upaya Percepatan Efisiensi Energi Industri Global

Nantinya, HET minyak goreng bisa naik cukup tinggi. Berdasarkan perhitungan harga CPO saat ini yang menembus lebih dari US$1300/ton, maka HET bisa mencapai Rp 16.500 hingga Rp 16.700.

Namun, pemerintah memberi indikasi belum akan menerapkan HET tersebut dalam waktu dekat, mengingat masih banyak masyarakat yang kesulitan dalam ekonomi. Demi meringankan beban tersebut, pemerintah mengarahkan produsen untuk melepas 11 juta liter minyak goreng dengan harga murah, yakni Rp 14.000/liter.

“Kami dengan perusahaan minyak goreng paham perlu ada penyesuaian untuk memastikan masyarakat kecil bisa menjangkau dengan minyak kemasan sederhana kita putuskan 14 ribu/liter,” ujarnya

Adapun saat ini harga minyak goreng sudah jauh melambung tinggi. Nilainya sudah naik 50 persen  dari HET yang ada saat ini.

“Harga CPO internasional US$ 1.305/ton atau naik 27,17 persen  dari awal 2021 yang memicu kenaikan harga minyak goreng. Minyak curah saat ini rata-rata nasional Rp 17.600/liter, sedangkan minyak goreng kemasan tergeser ke atas Rp 19 ribu/liter,” ujar Oke.RHT

Komentar

News Feed