oleh

Wali Kota Hadianto Teken Rekomendasi Guru Tua Jadi Pahlawan Nasional

-Kota Palu-dibaca 215 kali
SR Ads

SULTENG RAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Palu mendukung penuh Habib Sayid Idrus bin Salim Aldjufri atau Guru Tua dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Bentuk dukungan Pemkot Palu diwujudkan dengan mengeluarkan surat rekomendasi kepada Pemerintah Provinsi (Pemrov) Sulawesi Tengah untuk menindaklanjuti usulan Guru Tua untuk mendapatkan gelar pahlawan Nasional ke Pemerintah Pusat.

Surat rekomendasi tersebut sudah diteken Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid pada Selasa, 11 Januari 2022.

Wali Kota Hadianto, mengatakan, jika mencermati perjalanan dari perjuangan dan karya-karya Guru Tua (Sayid Idrus bin Salim Aldjufri) dalam rangka mencerdaskan kehidupan anak bangsa, meliputi pendidikan Alkhairaat yang didirikan 11 Juni 1930 di Palu hingga mampu berkembang di berbagai daerah, diantaranya Provinsi Gorontalo dan Maluku, sudah selayaknya mendapatkan penganugerahan gelar pahlawan nasional.

“Jasa-jasa Guru Tua tersebut hingga saat ini sangat jelas memberikan dampak positif terhadap peradaban di daerah ini. Atas jasa-jasa Guru Tua (Habib Sayid Idrus bin Salim Aldjufri), sudah selayaknya tokoh berasal dari Provinsi Sulawesi Tengah mendapat penganugerahan gelar pahlawan Nasional dari Pemerintah Republik Indonesia,” kata Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid saat menerima kunjungan Tim Kelompok Kerja (Pokja) Pahlawan Nasional Guru Tua dari Pengurus Besar Alkhairaat Palu di ruang kerja Wali Kota Palu, Selasa (11/1/2022).

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Palu, Romy Sandi yang ikut mendampingi Wali Kota Hadianto, menyatakan, pertimbangan Wali Kota Palu mengusulkan pengusulan Guru Tua sebagai pahlawan nasional, didasari atas perjalanan dari perjuangan dan karya-karya Guru Tua serta aspirasi, saran dan masukan dari Pengurus Besar PB Alkhairaat.

Baca Juga :   Peduli Lingkungan, Sejumlah Komunitas Tanam Mangrove di Pantai Dupa

“Surat rekomendasi kepada Gubernur Sulawesi Tengah nantinya ditindaklanjuti lagi dan dibuat lagi rekomendasi dan usulan untuk disampaikan kepada Menteri Sosial. Diusahakan bulan Maret 2021, sudah selesai semuanya,” kata Kadis Romy.

Sebagai informasi tambahah, pembuatan rekomendasi usul gelar pahlawan nasional itu berdasarkan ketentuan pasal 6, pasal 7 dan pasal 9 Peraturan Menteri Sosial Nomor 15 Tahun 2012 tentang Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Sosial Nomor 13 tahun 2018 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Sosial Nomor 15 tahun 2012 tentang Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional.

Diasdur dari id.wikipedia.org, Al-Habib Idrus bin Salim Aljufri atau lebih dikenal dengan Sayyid Idrus bin Salim AlJufri lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman pada 15 Maret 1892. Meninggal di Palu pada 22 Desember 1969 pada usia 77 tahun .

Ulama yang akrab disapa Guru Tua ini merupakan tokoh pejuang di Provinsi Sulawesi Tengah dalam bidang pendidikan agama Islam. Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai sosok yang cinta ilmu.

Tak hanya untuk diri sendiri, ilmu itu juga ia tularkan kepada orang lain. Salah satu wujud cintanya pada ilmu adalah didirikannya lembaga pendidikan Islam Alkhairaat sebagai sumbangsih nyata Guru Tua kepada agama Islam. Alkhairaat dirikan di Palu, kala usia Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri menginjak 41 tahun.

SIS Al Jufri dianggap sebagai inspirator terbentuknya sekolah di berbagai jenis dan tingkatan di Sulteng yang dinaungi organisasi Alkhairaat, dan terus berkembang di kawasan timur Indonesia.

Baca Juga :   PT Kuatkan Putusan PN, Dharma Gunawan Kasasi

Pada 2014, nama Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri juga diabadikan sebagai nama baru bandara Kota Palu. Sebelumnya, bandara kebanggaan Kota Palu itu bernama Bandara Mutiara atas pemberian dari presiden Soekarno, saat pertama kali dioperasikan 1954 dengan nama Bandara Masovu. Nama bandara itu kemudian berganti nama sejak 28 Februari 2014 setelah Menteri Perhubungan RI kala itu, Evert Ernest Mangindaan, membubuhkan tanda tangan di surat keputusan perubahan nama bandara Mutiara menjadi Bandara Mutiara SIS Al Jufri Palu.

Perubahan nama bandara itu juga untuk menghargai jasa serta perjuangan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri dalam menyebarkan ajaran Islam di kawasan timur Indonesia.

Disaksikan Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola dan pejabat Kementerian Perhubungan RI, para bupati dan wali kota se-Sulteng serta keluarga besar Alkhairaat, meresmikan operasional serta mengukuhkan perubahan nama dari Bandara Mutiara Palu menjadi Bandara Mutiara SIS Aljufri Palu.

SYARAT MENDAPATKAN GELAR PAHLAWAN NASIONAL

Dilansir dari laman Indonesia.go.id, gelar pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan pada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayan NKRI atau meninggal dunia karena membela bangsa dan negara.

Selain itu, gelar ini juga diberikan pada orang yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan NKRI. 

Menurut UU Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Pasal 25 dan Pasal 26, untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional terdapat beberapa syarat yang harus terpenuhi oleh orang yang akan diajukan namanya untuk mendapatkan gelar itu.

Baca Juga :   Bunda Wiwik Presentasi Filosofi Perda di Depan Peserta Bimteknas Aleg

Syaratnya terbagi menjadi dua, yakni syarat umum dan syarat khusus.

SYARAT UMUM

  • WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI;
  • Memiliki integritas moral dan keteladanan;
  • Berjasa terhadap bangsa dan Negara;
  • Berkelakuan baik;
  • Setia dan tidak menghianati bangsa dan Negara; dan
  • Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun

SYARAT KHUSUS

  • Pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa;
  • Tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan;
  • Mengabdi dan berjuang hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya;
  • Pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara;
  • Pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa;
  • Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi; dan/atau melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.

Calon pahlawan nasional dapat diajukan oleh masyarakat umum dan akan melalui tahap pertimbangan oleh Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP).

Nama memenuhi persyaratan akan diberikan gelar itu pada upacara penganugerahan gelar pahlawan nasional yang akan dilaksanakan oleh Presiden RI menjelang peringatan Hari Pahlawan pada 10 November pada setiap tahunnya.HGA

Komentar

News Feed