oleh

Memahami Pemikiran-pemikiran Tentang Kedudukan Guru dalam Pendidikan Islam

-Pendidikan-dibaca 272 kali

Eka Firmansyah, S.Sos

Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam

Universitas Muhammadiyah Malang

Guru adalah sosok yang sangat berarti didalam lingkup kehidupan manusia. Sebagai seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah SWT yang mana ilmu tersebut digunakan untuk memperoleh dan menuju kebaikan baik dunia dan akhirat, guru tidak hanya sebatas menyampaikan ilmu saja, tetapi juga mendidik muridnya agar menjadi manusia beradab dan bermoral. Islam sendiri memberikan tempat dan derajat yang tinggi bagi para guru sebagaimana hukum menuntut ilmu . Sebab mereka termasuk kedalam golongan orang-orang berilmu yang selalu mengamalkan ilmunya sebagai fungsi iman kepada allah SWT .

Menyangkut hal ini Imam Al-Ghazali mengatakan: Dengan menukil beberapa Hadits Nabi tentang keutamaan seorang pendidik. berkesimpulan bahwa pendidik disebut sebagai orang-orang besar yang aktivitasnya lebih baik daripada ibadah setahun, selanjutnya Al-Ghazali menukil dari perkataan para ulama yang menyatakan bahwa pendidik merupakan pelita segala zaman, orang yang hidup semasa dengannya akan memperoleh pancaran cahaya keilmiahannya. Andai kata dunia tidak ada pendidik, niscaya manusia seperti binatang, sebab: pendidikan adalah upaya mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangan (baik binatang buas maupun binatang jinak) kepada sifat insaniyah dan ilahiyah.

Kedudukan guru dalam seluruh kehidupan seorang murid demikian pentingnya, bagaimana guru itu seharusnya dapat menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena tujuan pendidikan Islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan kesempurnaan insan yang bermuara pada kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sehingga selain dari sekedar materi yang disampaikannya, ia juga harus mampu menjadikan dirinya itu sebagai panutan yang baik bagi murid-muridnya. Sebagaimana yang di jelaskan didalam paradigma Jawa yang berbunyi: pendidik diidentikan dengan (gu dan ru) yang berarti “digugu dan ditiru”. Dikatakan digugu (dipercaya) karena guru mempunyai seperangkat ilmu yang memadai, yang karenanya ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas dalam melihat kehidupan ini. Dikatakan ditiru (di ikuti) karena guru mempunyai kepribadian yang utuh, yang karenanya segala tindak tanduknya patut dijadikan panutan dan suri tauladan oleh peserta didiknya.

Baca Juga :   Prodi Magister Ilmu Komunikasi Untad Gelar Workshop Visi Misi

Dengan sedemikian luar biasa peran guru di dalam kehidupan manusia, maka tak heran jika Allah SWT memberikan mereka kedudukan yang tinggi dengan memeberikan lima keutamaan, diantaranya: (1) Allah SWT meninggikan derajatnya. Diantara keutamaan seorang guru ialah Allah SWT meninggikan derajatnya, sebagaimana yang Allah SWT katakana dalam firmannya didalam Al-Qur’an surat Al-Mujadalah ayat 11, (2) memiliki ilmu yang bermanfaat. Seorang guru dalam islam tentunya memiliki kedudukan dimana ia mengerti dan memahami secara detail mengenai bidang pengajaran yang ia ajarkan. Oleh sebab itu, maka seorang guru akan senantiasa memiliki ilmu yang bermanfaat yang akan disebarluaskan kepada para umat. Sehingga bukan gelar ahli yang mereka utamakan namun, lebih kepada dampak sosial bagaimana ilmuyang diajarkan akan dapat merubah pola dan perilaku umat menuju jalan kebaikan, (3) menjaga diri. Ilmu yang dimiliki oleh seorang guru merupakan benteng dalam menjaga diri. Dengan memiliki ilmu tentunya seorang guru akan mampu membedakan antara hal yang baik dan buruk. Sehingga hal ini dapat menjaga diri dan pribadi seseorang untuk berbuat kejahatan atau kemaksiatan, (4) memperoleh kebaikan yang berlimpah. Sebagaimana hadits Rasulullah SWT yang mengatakan, “Demi Allah, jika Allah SWT memberi petunjuk kepada satu orang melalui perantaramu maka hal itu jauh lebih baik dari pada kekayaan yang sangat berharga.” (H.R. Bukhori dan Muslim), (5) Sama dengan pahala amalan sedekah. Sebagaimana hadits Rrasulullah SAW, Dari Abi Musa Al-Asy’ari RA, dari Nabi SAW bahwa beliau telah berabda: “Seorang muslim yang amanah yang dititipi harta oleh orang lain lalu dipelihara betul apa yang ditugaskan kepadanya lalu mengambalikan kepada yang berhak dengan tanpa menguranginya sedikit pun maka ia telah dicatat sebagai orang yang bersedekah”.

Demikianlah bagaimana kedudukan guru di dalam agama Islam. Tentunya hal ini akan semakin memberikan pengetahuan dan rasa hormat yang lebih dalam lagi terhadap sosok guru yang telah memberi pengajaran ilmu yang bermanfaat serta telah menjadi contoh atau tauladan kepada murid, tentang bagaimana akhlak atau pribadi yang mulia, entah itu dalam berkata ataupun dalam berperilaku.***

Komentar

News Feed