oleh

KEBIJAKAN PPKM MAKIN LONGGAR, Akhir Tahun, PHRI Sulteng Proyeksi Okupansi Hotel 100 Persen

-Kota Palu-dibaca 174 kali

SULTENG RAYA – Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI), Fery Taula memproyeksikan tingkat okupansi hotel bisa mencapai puncak normal di akhir tahun 2021 mendatang.

Apalagi, bila kondisi Covid-19 makin membaik dan kebijakan level PPKM daerah terus menurun.

Fery tidak menampik, kebijakan PPKM level IV yang diterapkan di Sulteng beberapa bulan lalu, khususnya di Kota Palu membuat sektor perhotelan, pariwisatan dan restoran sangat terdampak pandemi.

Di sisi okupansi hotel saja, kata dia, pada PPKM level IV, hanya ada pada presentase lima sampai 10 persen. Sangat kecil, jika dibandingkan presentase saat ini di PPKM level II.

“Pada saat pemberlakuan PPKM level IV, okupansi dari lima sampai 10 persen saja, kita berangsur di level III diangka 40 sampai dengan 50 persen. Kemduian di level II, kita sudah bisa mencapai 70 persen bahkan lebih. Diakhir tahun proyeksinya bisa diangka 90 sampai 100 persen,” katanya kepada Sulteng Raya, melalui sambungan telepon, Senin (25/10/2021).

Baca Juga :   Kasus Covid-19 Melandai, DWP BKKBN Sulteng Rayakan Natal Bersama

Dengan kebehasilan Kota Palu mencapai PPKM level II, pihaknya tidak lupa memberikan apresiasi kepada pemerintah yang telah berjibaku mengeluarkan kebijakan-kebijakan strategis untuk menurunkan angkan konfirmasi Covid-19. Masyarakat juga tidak kalah ambil bagian dalam pencapaian tarsebt. Menurutnya, pola hidup berdampingan dengan protokol kesehatan (prokes) sudah melekat dibenak masyarakat sehingga dengan mudah menerapkan prokes.

“Kita bersyukur Tuhan menolong kita melalui semua ini, kemudian apresiasi juga kepada pemerintah dari pusat, provinsi hingga kabupaten/kota, luar biasa upaya-upaya yang dilakukan, dan juga tentunya mewakili teman-teman dunia usaha pariwisata, hotel restoran, maupun usaha wisata lainnya. Apresiasi juga kepada masyarakat yang artinya antusias juga untuk divaksin, antusiasi menerapkan protokol kesehatan. Masyarakat sekarang sudah sadar resiko, berkumpul tapi tetap memakai masker. Saya juga kalau berkunjung ke kantor pemerintah, itu sangat-sangat prokes, minimal masker dan tidak berjabat tangan itu diterapkan,” katanya.

Baca Juga :   PEMBINAAN ASN KEMENAG MOROWALI, Kakanwil Ulyas: Kunci Berhasil, ASN Harus Disiplin

Dikatakannya, ada hubungan keterkaitan antara penanganan pandemi dengan geliat sektor usaha. Sebab, penanggulangan pandemi yang baik, akan mengikuti secara otomatis geliat dunia usaha.

“penanganan pandemi dengan dunia usaha itu berkorelasi positif, dunia usaha semakin bergairah. Itu tentunya tidak lepas dari kebijakan pemerintah pusat, seimbang pada saat kita diterima sebagai level II, kelonggaran kegiatan pemerintah yang merupakan 80 persen dari pendapatan hotel dan restoran, itukan otomatis berimbas,” tuturnya.

Namun demikian, PHRI juga meminta kepada masyarakat untuk tetap tenang dengan tidak melakukan euphoria berlebihan sehingga menjadi abai prokes. Hal itu merupakan kunci untuk membuat kondisi pandemi makin membaik di daerah.

“Saya perlu mengimbau untuk tidak euphoria terhadap penurunan level, jangan sampai kendor, selalu menerapkan prokes. karena mau level berapapun PPKM, prokes tidak pernah dihilangkan dalam aturannya, itu yang terpenting.  Saya melihat tempat-tempat wisata, tempat-tempat olahraga sudah makin bergairah, saya pikir, perbuatan kita sendiri (yang patuh prokes) yang sudah bisa kita nikmati.,” katanya.

Baca Juga :   Perlu Kesepahaman Pengelolaan TKDD Antara Pusat dan Daerah

“Mari kita melakukan vaksin, bervaksin ria lah. Karena itu terbukti secara ilmiah dan secara statistik membuktikan bahwa pada saat tingkat vaksinasi meningkat, kasus covid-19 dapat di tekan,” Fery Taula menutup. RHT

Komentar

News Feed