oleh

Civitas Akademik UIN Palu Gunakan Sarung Saat Upacara Hari Santri

-Pendidikan-dibaca 128 kali

SULTENG RAYA-Civitas akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, melakukan Upacara Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2021 di Pondok Pesantren UIN Datokarama Palu, di Kelurahan Tipo, Kota Palu, Jumat (22/10/2021).

Upacara kali ini cukup berbeda dari upacara-upacara pada umumnya, pasalnya khusus pria menggunakan sarung dan kopiah hitam.

Rektor UIN Palu Prof Sagaf Pettalongi MPd bertindak sebagai pembina upacara hari santri nasional yang mengangkat tema “santri siagajiwa raga”.

Sementara mahasiswa yang tinggal di pondok pesantren tersebut, bertindak sebagai pemimpin upacara dan pengibar bendera merah putih. Upacara itu diikuti oleh mahasiswa dan dosen serta pegawai administrasi UIN Palu, dengan menerapkan protokol kesehatan cegah COVID secara ketat.

Baca Juga :   Prodi Magister Ilmu Komunikasi Untad Gelar Workshop Visi Misi

“Sejak ditetapkan pada tahun 2015, setiap tahun kita rutin menyelenggarakan peringatan hari santri dengan tema yang berbeda. Untuk peringatan hari santri tahun 2021 ini mengangkat tema santri siaga jiwa raga,” kata saat membacakan sambutan Menteri Agama.

Dalam sambutan Menteri Agama tersebut, dijelaskan bahwa maksud tema “Santri Siaga Jiwa Raga” adalah bentuk pernyataan sikap santri Indonesia agar selalu siap siaga menyerahkan jiwa dan raga untuk membela Tanah Air, mempertahankan persatuan Indonesia, dan mewujudkan perdamaian dunia.

Siaga Jiwa berarti santri tidak lengah menjaga kesucian hati dan akhlak, berpegang teguh pada akidah, nilai, dan ajaran Islam rahmatan Iil’alamin serta tradisi luhur bangsa Indonesia.

Baca Juga :   Dekan Fisip Unismuh Palu Kukuhkan Pengurus 4 Lembaga Kemahasiswaan

“Bila zaman dahulu jiwa santri selalu siap dan berani maju untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, maka santri hari ini tidak akan pernah memberikan celah masuknya ancaman ideologi yang dapat merusak persatuan dan kesatuan Indonesia,” kata Prof Sagaf saat membacakan sambutan tersebut.

Siaga raga berarti badan, tubuh, tenaga, dan buah karya santri didedikasikan untuk Indonesia. Oleh karena itu, santri tidak pernah lelah dalam berusaha dan terus berkarya untuk Indonesia.

“Jadi, siaga jiwa raga merupakan komitmen seumur hidup santri yang terbentuk dari tradisi pesantren yang tidak hanya mengajarkan kepada santri-santrinya tentang ilmu dan akhlak, melainkan juga tazkiyatun nafs, yaitu mensucikan jiwa dengan cara digembleng melalui berbagai ‘tirakat’ lahir dan batin yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. */ENG

Komentar

News Feed