oleh

Punya Keunggulan Garap Pasar Pembiayaan, Kinerja BSI Diyakini Kian Terpacu

-Ekonomi-dibaca 94 kali

SULTENG RAYA – PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI dinilai dapat memacu kinerja secara signifikan pada masa mendatang, ditopang oleh kemampuan bank hasil merger tiga bank syariah milik BUMN ini dalam menggarap potensi ekonomi dan keuangan syariah di Tanah Air, khususnya pasar pembiayaan ritel dan wholesale.

Hal tersebut diungkapkan pengamat perbankan dari Universitas Bina Nusantara Doddy Ariefianto. Dia mengatakan BSI merupakan hasil penggabungan tiga bank syariah besar Tanah Air yaitu PT Bank BRIsyariah Tbk., PT Bank Syariah Mandiri dan PT Bank BNI Syariah dengan kinerja yang sangat baik sebelum merger.

Oleh karena itu, Doddy menilai dengan optimalisasi kinerja setelah terintegrasi potensi peningkatan pangsa pasar BSI pun masih sangat besar. Hal ini akan menunjang pertumbuhan bisnis yang lebih kuat lagi pada masa datang. Di mana hal tersebut tak terlepas dari sangat besarnya potensi ekonomi dan keuangan syariah yang belum tergarap secara optimal.

 “Tentu saja potensi bank ini sangat besar. Potensi pasar pembiayaan dengan memanfaatkan penduduk Muslim nasional pun sangat besar. Dengan memanfaatkan itu saja potensinya BSI bisa terbang,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Sulteng Raya, Jumat (22/10/2021).

Baca Juga :   PEMBERDAYAAN UMKM BRI, Pengusaha Kripik Suryaningsih Tuai Berkah

Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Januari 2021 total aset keuangan syariah hanya sekitar 9,6% dari total industri pasar keuangan di Tanah Air. Adapun aset perbankan syariah hanya 6,4% terhadap total aset industri perbankan di Indonesia.

 Doddy menjelaskan melalui merger tiga bank syariah BUMN tersebut, BSI saat ini memiliki aset lebih dari Rp 200 triliun bahkan sudah mulai mendekati Rp 250 triliun. Kekuatan modal pun terintegrasi dalam satu entitas bisnis yang lebih kokoh dari sebelum penggabungan.

 Bahkan dia menilai potensi pengembangan bisnis akan lebih baik lagi jika rencana penambahan modal oleh BSI dapat terealisasi pasca periode pandemi Covid-19. Dia mengakui BSI juga telah memiliki basis teknologi yang cukup mumpuni dalam menggarap pasar digital banking.

 BSI pun menurut Doddy saat ini memiliki kemampuan yang belum dimiliki oleh bank syariah nasional manapun di Tanah Air. “Di luar pembiayaan ritel, BSI ini juga memiliki kemampuan untuk menggarap pembiayaan sindikasi, yang akan lebih kuat lagi mendorong peningkatan kinerjanya,” imbuhnya.

Baca Juga :   Kelompok Transportasi Dominasi Inflasi November di Kota IHK Sulteng

 Dia melihat potensi pasar populasi muslim nasional yang sangat besar akan mampu digarap secara optimal setelah integrasi jaringan secara menyeluruh dilakukan. Seperti diketahui, Indonesia memiliki populasi muslim sekitar 80% dari total jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa.

 Namun pangsa pasar bank syariah baru di kisaran 10%. Selain itu, saat ini Doddy melihat banyak juga masyarakat non-muslim yang merasa cukup nyaman dengan model pembiayaan bank syariah. Hal itu pun akan menjadi target pasar yang menjanjikan.

 Di sisi lain, Doddy berharap isu pandemi tetap harus menjadi perhatian utama bagi manajemen BSI dalam jangka pendek. Sebabnya, transformasi layanan perbankan saat pandemi akan pula menjadi penopang utama pertumbuhan BSI. “BSI memang punya pasar yang berbeda. Tetapi tetap pasar tersebut di-drive oleh prospek bisnis riil yang saat ini masih dilanda pandemi,” tuturnya.

Baca Juga :   SALURKAN KREDIT PRODUKTIF, Bank Mandiri Butuh Peran Aktif Penyuluh Pertanian

 Terkait potensi bisnis BSI yang besar, Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan berdasarkan data proyeksi OJK dalam pertemuan tahunan jasa keuangan 2021 dan riset internal BSI, secara nasional pertumbuhan ekonomi syariah ada di kisaran 2,4%-3,7%. Adapun pembiayaan dan penghimpunan dana pihak ketiga diproyeksikan tumbuh sekitar 13%-18%, serta kualitas pembiayaan sekitar 3%-3,5%.

 Menurut Hery, pihaknya optimistis dengan jumlah populasi penduduk muslim Indonesia yang besar  menjadi kekuatan dan target penetrasi ekonomi syariah yang saat ini masih sekitar 6,4%. Persentase itu lebih rendah dibandingkan dengan negara mayoritas muslim lainnya di Asia.

 Dalam waktu dekat, seluruh jaringan BSI ditargetkan sudah terintegrasi dengan single sistem atau one system.  Proses integrasi tersebut  terdiri dari migrasi nasabah, layanan kartu ATM hingga layanan perbankan digital.

Seperti diketahui, BSI mulai beroperasi pada 1 Februari 2021 lalu. Penggabungan ketiga bank syariah BUMN menjadi BSI menyatukan kekuatan dan potensi yang  bertujuan mengoptimalkan kinerja keuangan dan penggarapan ekonomi syariah Indonesia yang sangat besar.*/RHT

Komentar

News Feed