oleh

Rektor UIN Palu: NU Berperan Jaga Marwah Pondok Pesantren

-Pendidikan-dibaca 116 kali

SULTENG RAYA – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Prof. H. Sagaf S Pettalongi., M.Pd mengemukakan Nahdlatul Ulama (NU) berperan penting dalam menjaga marwah dan eksistensi pondok pesantren sebagai laboratorium perdamaian.

“NU yang menaungi banyak pondok pesantren di Indonesia adalah cerminan bagaimana kontribusi NU terhadap bangsa dan negara baik secara moril dan materil,” kata Prof Sagaf S Pettalongi MPd, Kamis (21/10/2021), terkait momentum Hari Santri Nasional tahu 2021.

Berdasarkan hasil survei LSI Denny JA pada 18-25 Februari 2019, NU didaulat sebagai ormas terbesar di Indonesia. Hasil survei tersebut menetapkan ormas Nahdlatul Ulama (NU) pada posisi teratas dengan jumlah pesentase 49,5 persen.

Di dalam buku “NU DAN KE INDONESIAAN” karya Mohammad Sobary menyebutkan bahwa KH Hasyim Muzadi pernah menyatakan jumlah warga NU sekitar 60 juta. Akan tetapi, Gus Dur menaksir lebih banyak, lebih dari 50 persen orang Indonesia adalah warga NU. Survey Indo Barometer menyebutkan sekitar 75 persen mengaku warga nahdliyin. Artinya jumlah warga NU sekitar 143 juta tahun 2000.

Baca Juga :   Wakil Rektor III Launching Sabtu Ceria di FISIP Unismuh Palu

Dengan data-data tersebut, menurut Prof Sagaf, diikutkan dengan banyaknya pondok pesantren dan santri yang terafiliasi langsung dengan Nahlatul Ulama, dapat disebutkan sebagai warga Nahdhiyin (Nahdlatul Ulama).

Maka, Prof Sagaf yang juga Waketum MUI Sulteng mengemukakan, NU harus lebih memantapkan kontribusinya pada pembinaan dan pengembangan santri dan pondok pesantren yang ada di wilayah NKRI, dengan harapan dapat menopang keberlanjutan pembangunan sumber daya manusia yang unggul diselenggarakan oleh pemerintah.

Prof Sagaf mengemukakan, Hari Santri Nasional yang ditetapkan pada tanggal 22 Oktober, merupakan refleksi sekaligus inspirasi bagi kalangan pesantren dan santri sekaligus refleksi bagi NU, untuk tetap menjaga peran dan komitmen kebangsaan yang telah dilakukan sejak masa perjuangan kemerdekaan, mempertahankan serta dalam mengisi kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga :   Prodi Magister Ilmu Komunikasi Untad Gelar Workshop Visi Misi

“Penetapan hari santri nasional oleh Presiden Jokowi juga sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan atas peran para ulama khusus nya ulama Nahdhiyin (Nahdlatul Ulama),” kata Prof Sagaf yang juga Wakil Ketua umum Ikatan Alumni Alkhairaat.

Karena itu, Prof Sagaf menilai, NU sebagai organisasi besar di Indonesia menjadi penentu arah dan muarah Indonesia yang lebih baik, berperan penting dalam menjaga keutuhan NKRI, Indonesia yang aman sejahtera dan perdamaian dunia.

Dengan peran dan posisi strategis tersebut, menurut Prof Sagaf, maka keberlangsungan NU sebagai “Jam’iyah Nahdiyah”, organisasi besar dan merupakan unsur kekuatan bangsa harus tetap berkesinambungan.

Apalagi NU dengan SDM yang besar perlu terus dijaga dan dikelola agar dapat terus berkontribusi bagi Indonesia dan dunia. Sehingga NU perlu dikelola oleh tenaga-tenaga yang kuat, energik, berwawasan global serta memiliki jaringan yang luas baik nasional maupun internasional. Jika NU kuat pondok pesantren berkembang, santri siaga jiwa raga,” ujar Guru Besar UIN Datokarama Palu itu.*/ENG

Komentar

News Feed