oleh

Mas Yanto: Untung Pertalite dan Elpiji Tidak Langka Selama Pandemi

-Kota Palu-dibaca 179 kali

SULTENG RAYA – Tidak terasa pandemi Covid-19 sudah hampir dua tahun di dunia, khususnya di Indonesia. 

Meski saat ini kasus terkonfirmasi positif sudah mulai dapat tertangani, dibuktikan dengan kasus baru terus melandai, namun belum diketahui sampai kapan pandemi yang telah banyak menelan korban jiwa itu berakhir.

Selama pandemi Covid-19, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi salah satu dari sekian banyak sektor yang sangat terdampak akibat merebaknya virus tersebut.

Di Kota Palu misalnya, banyak UMKM terpaksa harus gulung tikar lantaran pendapatan selama pandemi sangat menurun.

Meski begitu, tidak semua UMKM terdampak serius akibat pandemi Covid-19. Justru terdapat UMKM yang justru tetap eksis di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya, pedagang keliling siomay di Kota Palu, Mas Yanto.

Pendapatan pedagang makanan pentolan berbahan utama daging ayami ini, justru tetap stabil. Bahkan, ia mengaku, pendapatannya sebelum pandemi dan selama pandemi, tidak banyak berubah. Hanya pada saat di awal-awal pendami saja, khususnya pada awal 2020 lalu.

“Kalau saya pribadi, selama pandemi Covid-19, pendapatan saat tidak begitu berpengaruh, hanya di awal-awal pandemi saja. Tapi, turunnya pun tidak begitu banyak. Seperti sebelum pandemi, siomay yang saya jual jarang tidak habis. Paling sekali-kali saja,”  kata Mas Yanto, pedagang yang sehari-harinya berjualan menggunakan kendaraan roda dua ini kepada Sulteng Raya, Selasa (12/10/2021).

Baca Juga :   TP3 Kabonena Siap Jemput Sampah di RT 04/RW 04

Hanya dua kecemasan yang sempat terlintas di benaknya. Pertama, kata dia, jika distribusi bahan bakar minyak jenis pertalite atau pertamax tidak lancar ke sentral pengisian bahan bakar minyak umum (SPBU) alias langka. Kedua, Elpiji 3 kg menjadi langka.

 “Yang kedua, kalau elpiji 3 kg langka. Itu dua kunci utama saya dalam menjajakkan dagangan saya. Bensin (premium, pertalite, pertamax) untuk motor saya dan elpiji untuk memasak siomay. Yang saya bayangkan, kalau dua itu langka, maka pasti sangat berpengaruh terhadap usaha kecil saya ini. Itulah kesukuran saya, bensin tetap lancar di SPBU maupun di kios dan Elpiji 3 kg tidak begitu sulit didapatkan,” kata pria dua anak ini.

Ia bercerita, sebenarnya, saat merintis usaha kecil miliknya itu sejak 2000 atau 21 tahun  silam, bahan bakar minyak jenis premium, pertalite maupun pertamax bukanlah kebutuhan vital dalam menjalankan usahanya tersebut.

Baca Juga :   Persekutuan Oikumene BTN Korpri Kawatuna Rayakan Natal Secara Prokes

“Kalau dulu, saya masih pake sepeda ontel keliling jual siomay. Tapi, itu dulu. Sekarang ini, selain stamina sudah tidak fit seperti dulu, jangkauan jualan menggunakan motor tentu beda dengan pake seped. Pokoknya, sekarang ini, jualan biasa dikatakan tergantung ketersediaan Elpiji dan bensin (pretalite, red) untuk motor,” kata pria kelahiran 1982 silan ini kini berdomisili di Jalan Sungai Lariang, Kota Palu.

Sebelumnya, Area Manager Communcation, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Subholding Commercial & Trading, Laode Syarifuddin Mursali, menyarankan agar para pemilik kendaraan untuk menggunakan BBM ramah lingkungan berkualitas dengan RON tinggi seperti Pertalite dan Pertamax.

Saat ini, kata dia, khusus Kota Palu, Sulawesi Tengah, jumlah pemakaian BBM berkualitas terbilang cukup bagus trennya. Secara proporsi penggunaan BBM berkualitas seperti Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo di Kota Palu sudah mencapai 98 persen.

Sementara itu, di Makassar sudah mencapai 88 persen pemakaian BBM berkualitas seperti Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo dibandingkan konsumsi Premium di kisaran 12 persen. Kemudian, Kota Gorontalo sudah mencapai 91 persen, Kendari 92 persen, Kabupaten Gorontalo 94 persen dan Manado 95 persen.

Baca Juga :   Gubernur Sulteng Minta Tingkatkan Penanganan COVID-19 Jelang Nataru

Laode menjelaskan, kebanyakan pabrikan kendaraan sekarang sudah menyarankan penggunaan BBM RON 92 setara Pertamax.

Selain direkomendasikan karena teknologi mesin kendaraan sekarang yang sudah injeksi dan turbo, BBM oktan tinggi akan membuat mesin memiliki pembakaran sempurna, sehingga akan lebih ramah lingkungan, karena emisi gas buang dapat diminimalisasi dan lebih irit.

“Produk Pertamax ini punya teknologi Pertatec (Pertamina Technology) yang dirancang untuk melindungi mesin yang membuat bahan bakar mampu membersihkan endapan kotoran pada bagian mesin 3x lebih baik dan memberishkan endapan kotoran pada bagian injector sehingga mengoptimalkan pembakaran dan konsumsi bahan bakar,” jelas Laode, Selasa (14/9/2021) lalu.

Untuk informasi seputar produk Pertamina dan program promosi, masyarakat dapat mengakses akun media sosial instagram @mypertamina, website mypertamina.id, aplikasi MyPertamina dan juga dapat menghubungi Pertamina Call Center 135.HGA

Komentar

News Feed