oleh

REALISASI PUPUK BERSIBSIDI TW III, Urea 56 Persen, NPK Phonska 85 Persen

-Kota Palu-dibaca 116 kali

SULTENG RAYA – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) telah merilis realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Sulteng pada triwulan (Tw) III.

Alokasi besar daerah yakni urea dan NPK Phonska Indonesia masing-masing telah merealisasikan sebanyak 56,73 persen untuk urea dan 85,76 persen untuk NPK Phonska Indonesia atau dengan besaran 21.394 kilogram (kg) dari alokasi 37.710 kg dan 25.753 kg dari alokasi 30.029 kg.

“Ini sesuai sudah dengan laporan target per tahun realokasi berdasarkan SK.KADIS No.188.4/4500-IX/B2.PSP, pada tangga 2 September 2021, masing-masing distributor besarnya yakni Pupuk Kaltim dan Petrokimia Gresik melaporkan pada tangga 11 dan 12 Oktober 2021” kata Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian DTPH Provinsi Sulteng, Sarianto, kepada Sulteng Raya, Ahad (17/10/2021).

Baca Juga :   118 Warga Boyaoge Ikut Vaksinasi Covid-19

Untuk realisasi penyaluran pupuk bersubsidi merek lain, kata Sarianto, diantaranya yakni SP 36 dari terget 2.130 kg, telah terealisasi penyaluran 1.168 kg (54,87 persen). Kemudian, NPK Formula Khusus untuk komoditi kakao telah terealisasi sebanyak 1.816 kg dari total alokasi 4.000 kg (45,40 persen).

“Sementara untuk ZA telah terealisasi 75,43 persen dari pagu yakni 5.884 kg (total realisasi 4.438 kg). Dan yang terakhir adalah pupuk organik dengan total pagu target 2.100 kg, yang realisasi 984,200 kg atau 46,87 persen dari 100 persen,” tuturnya.

Kata dia, pupuk bersubsidi selalu tersedia di pengecer resmi, namun sistem penebusanlah telah berubah

“Kalau pada 2020, untuk menebus pupuk bisa diwakili kelompok tani atau penggilingan padi datang di pengecer. Sekarang di 2021, masing-masing petani harus datang sendiri. Karena, di dalam daftar e-RDKK sudah ada di pengecer. jelas Sarianto.

Baca Juga :   TP3 Kabonena Siap Jemput Sampah di RT 04/RW 04

“Kalau itu sudah dilakukan dan petani masuk di e-RDKK, kita jamin 2×24 jam, pupuk sudah ada di petani. Yang sekarang ini karena sistem berubah, pikirannya petani kita di lapangan bahwa masih bisa diwakili kelompok tani saja yang datang menebus,” jelasnya.

Petani juga perlu mengetahui, kata dia, saat ini Pemerintah telah menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi, dengan sejumlah pertimbangan matang dari pemerintah pusat, berpatok kepada peningkatan harga gabah.

“HET juga baru kali ini dinaikkan, karena sudah sekian lama harganya tetap sama. Kami meyakini kenaikkan tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap penambahan biaya produksi petani seiring dengan meningkatnya harga jual,” ungkap Sarianto.RHT

Komentar

News Feed