oleh

HUT KE-9 SULTENG RAYA, Meneguhkan Komitmen Sebagai Perekat Rakyat Sulteng

-Kota Palu-dibaca 71 kali

SULTENG RAYA – Harian Umum Sulteng Raya, hari ini genap  berusia 9 tahun, (15 Oktober 2012-15 Oktober 2021).

Koran dengan tagline Perekat Rakyat Sulteng ini diharapkan hadir sebagai penyampai informasi yang dapat menyatukan masyarakat, sekaligus menangkal informasi hoax penyebab perpecahan.

Berkaca pada konflik sosial yang pernah terjadi di Poso awal tahun 2000-an, membuat masyarakat menjadi terpolarisasi, bahkan konflik itu menelan banyak korban nyawa,hingga kerugian materi yang tidak sedikit.

Masyarakat Sulteng tentu saja, tidak ingin konflik serupa terulang lagi, saatnya bangkit dan bersatu membangun Provinsi Sulawesi Tengah yang lebih maju. Media harus hadir membawa misi sosial kemanusiaan, melakukan upaya mencerdaskan bangsa serta membawa misi menyatukan masyarakat.

Baca Juga :   PPKM Turun Level, ‘Angin Segar’ Usaha Warung Makan

Setidaknya, itulah ide awal pembentukan Sulteng Raya dengan tagline sebagai Perekat Rakyat Sulteng, yang diungkapkan Owner sekaligus Pimpinan Umum Tri Media Grup (TMG), Tri Putra Toana,  Kamis (14/10/2021).

“Kata perekat sebagai pengikat masyarakat Sulawesi Tengah yang heterogen, beragam etnis, suku,  dan agama bercampur baur di dalamnya. Jangan sampai terjadi lagi seperti kasus di Poso,” kata Tri Putra Toana.

Bertepatan dengan hari jadi Sulteng Raya, Tri Putra Toana menekankan untuk menjalankan ide awal pembentukan harian Sulteng Raya. Redaksi harus banyak membaca untuk melahirkan informasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat serta mengutamakan misi mencerdaskan bangsa.

Menurutnya, di tengah,  distrupsi teknologi informasi saat ini, yang dipertaruhkan adalah kemampuan adaptasi, kreativitas dan inovasi serta daya tahan pengelola media.

Baca Juga :   Waspadai Gelombang Ketiga COVID-19 Jelang Akhir Tahun

“Media cetak yang bisa selamat dari distrupsi digital media, harus mampu beradaptasi dengan kondisi terkini masyarakat. Sajian informasi yang ditampilkan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat,”jelasnya.

Tri Putra berpesan, pengelola media  harus menjalankan dua fungsi media yaitu misi sosial kemanusiaan, mencerdasakan bangsa sekaligus menjalankan fungsi kapital industri.

Distrupsi teknologi informasi, kata Tri Putra Toana tidak akan membunuh industri media cetak, karena ekosistemnya berbeda. Media cetak merupakan  bisnis industri paling lama di dunia sekaligus penanda dimulainya peradaban modern. WAN

Komentar

News Feed