oleh

UIN Palu Upayakan Buka Prodi Pendidikan Kebencanaan

-Pendidikan-dibaca 64 kali

SULTENG RAYA-Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, mengupayakan membuka program studi pendidikan kebencanaan jenjang strata satu (S1), guna peningkatan kapasitas masyarakat dan generasi muda dalam pengurangan risiko bencana.

“Ini menjadi sesuatu yang baru dan mengharuskan, karena tuntutan yang sangat besar, seiring dengan kerentanan terhadap bencana alam gempa bumi dan lainnya di Provinsi Sulteng khususnya di wilayah Palu, Sigi dan Donggala,” ucap Rektor UIN Datokarama Palu Prof Dr H Sagaf S Pettalongi MPd, Kamis (14/10/2021).

Upaya UIN Palu membuka prodi pendidikan kebencanaan, merupakan tindaklanjut dari hasil worskhop strategi kesiapsiagaan bencana berbasis gender dan inklusif, yang dilaksanakan selama tiga hari sejak 12 – 14 Oktober 2021 di Kota Palu.

Baca Juga :   STPL Palu Dapat Kunjungan Perdana dari Sakinah Aljufri

Workshop tersebut difasilitasi oleh Asian Development Bank (ADB) melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sulteng yang diselenggarakan oleh PT Yodya Karya, dengan pelaksana lapangan oleh Universitas Islam Negeri Datokarama Palu dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Workshop itu menghasilkan beberapa poin rekomendasi salah satunya merekomendasikan kepada pemerintah dan UIN Datokarama Palu untuk menggagas dan membuka prodi pendidikan kebencanaan.

Prof Sagaf Pettalongi menilai prodi pendidikan kebencanaan sangat penting untuk diselenggarakan oleh UIN Palu dan semua satuan pendidikan di tingkat sekolah dasar, SMP dan SMA sederajat di wilayah Sulteng khususnya dan secara umum se-Indonesia.

Pendidikan kebencanaan, menurut Prof Sagaf, perlu diakomodir dalam pendidikan formal dan ditindaklanjuti dengan mata kuliah yang diajarkan kepada mahasiswa dan mata pelajaran diajarkan kepada siswa sejak dini.

Baca Juga :   SDN 21 Palu Persiapkan Diri ANBK Lewat Workshop

Hal ini penting, mengingat Indonesia rentan terhadap bencana alam gempa, tsunami, likuefaksi, banjir, longsor dan sebagainya. Serta bencana non-alam.

“Apalagi Sulawesi Tengah yang sangat rentan terhadap bencana alam banjir bandang, longsor, gempa dan sebagainya. Maka pendidikan kebencanaan bisa menjadi satu solusi untuk pengurangan risiko bencana,” ujarnya.

Prof Sagaf menambahkan, dengan adanya pendidikan kebencanaan maka salah satu tujuannya akan tergabung kapasitas dan kesiapsiagaan untuk pengurangan risiko bencana.

“Bencana, meski tidak diketahui kapan datangnya. Namun, bisa diminimalisir dampaknya. Maka, pendekatan pengetahuan dengan membuka program studi pendidikan kebencanaan menjadi satu solusi pengurangan risiko bencana,” ujar Prof Sagaf.

Bahkan dalam konteks perkembangan dan kondisi global, wilayah-wilayah yang rentan bencana bisa terjadi kapan saja dan memberikan dampak ancaman yang besar terhadap keberlangsungan kehidupan manusia.

Baca Juga :   JAUHKAN KAMPUS DARI PEMAHAMAN KIRI, FAI Unismuh Tekankan Mahasiswa Ikut Organisasi Kampus

“Bukan hanya bencana alam, bencana non-alam, termasuk bencana non alam sehingga manusia dan generasi kedepan perlu diberikan ikhtiar dengan berbagai macam informasi dan pengetahuan agar memiliki kesiapsiagaan dan bisa tanggap bencana,” ujar Prof Sagaf.*/ENG

Komentar

News Feed