oleh

SEMINAR KEPEREMPUANAN, Fasyah UIN Datokarama Hadirkan Tiga Narasumber Perempuan

-Pendidikan-dibaca 158 kali

SULTENG RAYA – Fakultas Syariah (Fasyah) Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, menghadirkan tiga narasumber perempuan dalam seminar keperempuanan, Selasa (12/10/2021).

Dalam kegiatan seminar keperempuanan yang dihadiri oleh mayoritas perempuan itu, berhasil membuat para peserta bersemangat dalam kagiatan, hal ini juga dilihat dari narasumber yang dihadirkan berhasil membawakan materi-materi mereka dengan baik.

Seperti narasumber pertama yang mengisi materi tentang perempuan dalam perspektif agama Islam yang disampaikan oleh Nurinayah, Lc.,M.H, selaku dosen Fasyah, yang mana dalam penyampaian materinya mengatakan, bahwa perempuan sebelum datangnya Islam diperlakukan dengan sangat tidak baik dan tidak manusiawi.

“Zaman pra Islam atau kalau di arab sana disebut zaman jahiliyyah yang mana pada zaman itu seperti yang telah diketahui mereka memperlakukan perempuan dengan sangat buruk, seperti yang difirmankan oleh Allah dalam Alquran yang artinya dan apabila mereka dikabarkan tentang kelahiran seorang anak perempuan, wajah mereka langsung menghitam (menahan amarah) dan dia sangat marah inilah potret bagaimana peradaban sebelum Islam datang memperlakukan perempuan. Namun setelah Islam datang mereka mulai memperlakukan perempuan sama seperti laki-laki,” katanya.

Baca Juga :   LOLOS PROGRAM ICT, Tiga Mahasiswa Unismuh Palu Kini Mulai Ikuti Proses Perkuliahan

Dosen Fasyah itu juga mengatakan, sekarang ini mulai banyak bermunculan organisasi-organisasi perempuan yang mana itu juga menjadi salah satu ide dari Fasyah membuat seminar keperempuanan tersebut.

Adapun penyampaian materi kedua tentang perempuan dalam pengetahuan umum,  yang disampaikan oleh Herlina,SE.,M.Si, selaku Sekertaris Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Palu, mengatakan arti kata perempuan merupakan hebat yang berasal dari bahasa Indonesia.

“Dari bahasa sangsekerta perempuan diambil dari kata Empu, yang artinya hebat yang dalam bahasa Indonesia Empu juga hebat. Makanya ketika ada perempuan yang lebih suka dipanggil wanita ketimbang perempuan, berarti mereka menolak keistimewaan disebut perempuan yang artinya hebat,” katanya

“Anak dan perempuan memang rentang serta sering mengalami banyak masalah, seperti konflik, kekerasan dan sebagainya yang bukan hanya terjadi di negara kita, perempuan juga dianggap hanya bekus dalam mengurus rumah tangga, tidak dianggap dalam emansipasi, padahal tentunya perempuan juga bisa menjadi aktor strategis dalam pembangunan, tidak hanya di desa-desa tetapi pembangunan secara nasional bahkan berkelanjutan di kehidupan masyarakat untuk membangun masyarakat sejahtera,” kata Herlina menambahkan.

Baca Juga :   PTMT SMPN 2 PALU, Kepsek Imbau Peserta Didik Datang Sesuai Jadwal

Dia juga mengatakan, bahwa peran seorang perempuan sangat berguna bagi masa depan yang mana mereka mendidik dan mengajarkan putra-putra bangsa penerus generasi bangsa Indonesia.

Pemateri ketiga juga kalah dari pemateri sebelumnya, Katua Umum Nasana Community, Rani Asriani Mointi dalam menyampaikan materinya tentang aktivis sosial perempuan, Ia mengatakan bahwa perempuan juga harus terlibat di lingkungan publik.

“Seperti yang terdapat dalam motto hidup saya yaitu hoirunnas anfauhum linnas ‘sebaik-baik kalian adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya’,  jadi tidak ada batasan yang harus menyeru, yang harus berdakwah, yang harus turun ke masyarakat itu laki-laki. Semua tugas itu, harus dilaksanakan bersama laki-laki maupun perempuan,” kata Ketua Nasana Community itu. MG5

Komentar

News Feed