oleh

Wawali Reny Hadiri ISCFE di Yoyakarta

-Kota Palu-dibaca 73 kali

SULTENG RAYA – Wakil Wali Kota Palu, dr Reny A Lamadjido, didampingi Sekretaris Kota (Sekkot) Palu, Asri L Sawayah bersama Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Kota Palu, Moh Rifani menghadiri Indo Smart City Forum dan Expo (ISCFE) 2021 di Yogyakarta, Rabu (13/10/2021).

Event nasional tersebut diselenggarakan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) sebagai salah satu rangkaian kegiatan Rapat Kerja teknis Apeksi 2021 membahas isu-isu terkini seputar Smart City alias kota pintar.

Ketua Dewan Pengurus Apeksi, Bima Arya Sugiarto, mengatakan, Smart City merupakan kota yang mampu menggunakan sumber daya manusia, modal sosial dan infrastruktur telekomunikasi modern untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kualitas kehidupan yang tinggi.

“Tentu dengan manajemen sumber daya yang bijaksana melalui pemerintahan berbasis partisipasi masyarakat,” katanya.

Smart City adalah sebuah konsep kota pintar yang membantu masyarakat dalam mengelola sumber daya yang ada dengan efisien.

“Tujuan utama dari pembangunan sebuah (Smart City) adalah bagaimana kita melestarikan lingkungan, meningkatkan daya saing ekonomi dan membangun masyarakat modern yang madani dengan saling berhubungan antar-sistem dan terpadu untuk semua lapisan masyarakat dan antar-lembaga pemerintahan,” lanjutnya.

Baca Juga :   Pansus III DPRD Sulteng Konsultasi Raperda Pesantren di Jabar

ISCFE 2021 dilaksanakan selama tiga hari, yakni 13-15 Oktober 2021 dipusatkan di The Rich Jogja Hotel, Yogyakarta.

Sebagai informasi tambahan, Kota Palu memang ditargetkan menjadi salah satu kota di Indonesia yang siap dicanangkan menjadi Smart City.

Sebelumnya diberitakan, Kota Palu ditargetkan menjadi salah satu smart city alias kota pintar ke depan, yakni wilayah kota yang telah mengintegrasikan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) dalam tata kelola sehari-hari.

Tujuan smart city  yakni mempertinggi efisiensi, memperbaiki pelayanan publik dan meningkatkan kesejahteraan warga.

“Kota Palu harus menjadi Smart City dan salah satu manfaatnya adalah berimbas kepada kesejahteraan masyarakat di wilayah Kota Palu,” kata Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid saat membuka pertemuan dengan dewan smart city di ruang rapat Bantaya, area gedung Kantor Wali Kota Palu, Selasa (2/3/2021).

Baca Juga :   REALISASI PUPUK BERSIBSIDI TW III, Urea 56 Persen, NPK Phonska 85 Persen

Ia mendorong perencanaan yang matang dalam rangka mewujudkan Kota Palu jadi smart city. Menurutnya, keinginan menjadikan Palu jadi smart city bukan untuk menyaingi kota-kota maju lainnya di Indonesia, melainkan untuk kepentingan serta kemajuan Kota Palu.

“Semua hal yang bisa dicapai, perubahan yang betul-betul nyata kita harus maju. Olehnya, marilah kita selalu berpikir positif. Pandangan dan pikiran kita juga harus positif dan jangan berpandangan negatif. Karena kalau pikiran negatif, pasti kita tidak akan maju,” kata Wali Kota Hadianto.

Sementara itu, Koordinator Tim Smart City Institut Teknologi Bandung (ITB), Jimmy, menyebutkan, smart city merupakan area perkotaan menerapkan sistem berbagai jenis sensor Internet of Things (IoT) untuk mengumpulkan data.

Data tersebut, kata dia, kemudian dimanfaatkan sebagai wawasan untuk mengelola aset. Konsep dari smart city adalah dengan mengintegrasikan TIK dan berbagai perangkat IoT untuk mengoptimalkan efisiensi operasi dan layanan kota, serta terhubung dengan warga.

Baca Juga :   Gubernur Minta Optimalkan Penggunaan Anggaran untuk Pemulihan Ekonomi Pascapandemi

“Tentunya, gambaran ini sangat cocok diterapkan di Kota Palu. Olehnya, harus ada arahan dan acuan yang jelas, seperti pada model kota cerdas, smart ekonomi, birokrasi dan keuangan serta infrastruktur,” jelas Jemmy.

Turut hadir, Wakil Wali Kota Palu, dr Reny A Lamadjido, Sekretaris Kota (Sekkot) Palu, Asri L Sawayah serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Palu.

ENAM SYARAT SMART CITY

Sebagai informasi tambahan, disadur dari https://mediacenter.palangkaraya.go.id/, Tim Peneliti LPPM Universitas Palangka Raya, Ariesta Lestari, menyebutkan, ada enam syarat harus dipenuhi sebuah kota jika ingin menjadi smart city, yakni smart governance, smart branding, smart economy, smart living, smart society dan smart environment. Jika salah satunya tidak terpenuhi, maka sebuah daerah tidak bisa disebut sebagai kota cerdas.HGA

Komentar

News Feed