oleh

Pentingnya Merawat Toleransi dalam Keberagaman, Guna Mewujudkan Situasi Kondusif

-Hukum-dibaca 55 kali

SULTENG RAYA – Indonesia adalah negara dengan sejuta keberagaman. Keberagaman yang ada telah menjadi simbol persatuan dan kesatuan yang dikemas dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Oleh karena itu, kita harus menjaganya agar tetap utuh dan harmonis.

“Sebagai negara yang penuh dengan keberagaman budaya, sosial dan agama. Maka hal itu perlu dilakukan perawatan toleransi dalam keberagaman, hal itu guna mewujudkan kerukunan antar ummat beragama demi terciptanya situasi keamanan yang kondusif di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” kata Dr. Sadri, S.PdI,MM.M.Pd selaku Ketua Umum Gerakan Anti Radikalisme dan Terorisme (Garis) Indonesia kepada Sulteng Raya, Selasa (12/10/2021).

Namun kata Sadri, belakangan ini Indonesia kerap mengalami krisis toleransi. Perbedaan yang ada justru menimbulkan perpecahan. Padahal, perbedaan itu sendirilah yang seharusnya membuat Indonesia menjadi indah karena lebih berwarna pemerintahan akan berjalan dengan baik jika kita terus saling menjaga perbedaan, toleransi dan keberagaman baik dalam linkungan kerja, masyarakat sosial dan lain-lain.

Sadri juga menegaskan, pihaknya akan terus mendukung Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah (Sulteng) dalam membangun dan merawat keberagaman di tengah masyarakat melalui program-program kerja bersama dengan instansi atau lembaga terkait seperti TNI-Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

“Kita ketahui bersama, Gubernur Sulteng, Rusdy Mastura selalu mendukung program-program kemanusiaan dalam mensejahterakan kehidupan masyarakat, termasuk mendukung TNI-Polri dalam memberdayakan eks Napiter yang telah kembali setia kepada NKRI,” jelas Sadri.

“Terutama dalam menjaga keamanan di Sulawesi Tengah dan mendukung program Pemerintah Sulawesi Tengah agar pengusaha tidak dalam ketakutan berinvestasi di Sulawesi Tengah, tentunya ini adalah tanggung jawab bersama,” tambahnya.

Sadri melalui Garis Indonesia juga tentunya ikut membantu pemerintah, BNPT dan TNI-Polri untuk membantu para mantan Narapidana Terorisme (Napiter) beserta keluarganya, seperti dengan memberikan fasilitas usaha, lapangan kerja dan lainnya.

“Kita (Garis Indonesia) sudah tentu akan berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait. Maka dari itu, untuk Garis sendiri kami akan membantu para eks napiter seperti penyediaan agrowisata yang melibatkan penggunaan lahan pertanian,” sebut Sadri.

Baca Juga :   PNBP KKP: Tarif Rp.0 Mudahkan Usaha Pengiriman Ikan Domestik

“Insya Allah Garis akan bentuk Yayasan Indonesia Mandiri untuk melakukan pembinaan eks napiter dan kelurganya membentuk koprasi dan membuka lahan pertanian tanam jagung dan penggemukan sapi hal ini untuk memberikan peluang yang sama bagi pihak keluarga eks napiter agar mendapatkan hak yang sama sebagai warga negara maka tugas garis melakukan pembinaan bekerjasama dengan pemerintah BNPT dan lembaga lain kedepan,” tambahnya.

Selain itu kata Sadri, Garis Indonesia berencana akan membangun Sekolah Merah Putih sebagai wadah penggerak untuk selalu mewujudkan nilai-nilai keberagaman sosial, budaya dan agama. Hal ini sebagai wujud untuk mengantisipasi paham-paham radikalisme, karena para guru-guru dari sekolah tersebut dibekali dengan ilmu-ilmu sosial keberagaman dan anti radikalisme dan terorisme.

Sadri menambahkan, akan terus mendukung dan mengapresiasi kerja-kerja BNPT serta TNI-Polri dalam hal ini khususnya Polda Sulteng dan Korem 132/Tadulako dalam menumpas aksi-aksi terorisme di Sulteng.

“Apalagi saat ini masih tersisa empat DPO teroris Poso, maka tentunya kita berharap dan mendukung aparat TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Madago Raya dapat menyelesaikan perburuan sisa DPO tersebut,” tegas Sadri.

Sadri juga selaku Ketua Umum Garis Indonesia, ikut mengimbau kepada sisa DPO teroris Poso untuk segera turun gunung dan menyerahkan diri untuk kembali ikrar dan setia ke pangkuan NKRI.

MenJaga Persatuan dan Kesatuan dengan Menganut Paham Toleransi

Sebagai warga negara yang baik, kita harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan dengan menganut paham toleransi. Jangan sampai kita terpecah-belah akibat isu-isu negatif. Apalagi dengan perkembangan ilmu dan teknologi saat ini. Sebagaimana kata pepata “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Indonesia adalah negara yang kaya, baik dari segi sumber daya alam maupun keberagamannya. Ada beberapa bentuk keberagaman di Indonesia, mulai dari keberagaman suku, keberagaman agama, keberagaman ras dan juga keberagaman golongan hal ini harus kita jaga dan kita rawat bersama.

Keberagaman suku Indonesia adalah negara kepulauan. Dari geografis yang berbeda-beda tersebut, Indonesia memiliki banyak sekali suku. Suku bangsa atau yang disebut juga etnik dapat diartikan sebagai pengelompokan atau penggolongan orang-orang yang memiliki satu keturunan. Selain itu, kelompok suku bangsa ditandai dengan adanya kesamaan budaya, bahasa, agama, setiap suku bangsa mempunyai ciri atau karakter biologis tersendiri, baik dalam aspek sosial maupun budaya. Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok suku, lebih tepatnya 1.340 suku bangsa.

Baca Juga :   PNBP KKP: Tarif Rp.0 Mudahkan Usaha Pengiriman Ikan Domestik

Keberagaman agama, Indonesia adalah negara yang religius. Hal itu dibuktikan dalam sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Kebebasan dalam beragama dijamin dalam UUD 1945 pasal 29 yang menyatakan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Keberagaman anggota golongan, dalam masyarakat multikultural, keberagaman golongan bisa terjadi secara vertikal dan horizontal. Untuk vertikal, terdapat hirarki lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam. Contohnya, seperti status sosial, pendidikan, jabatan dan sebagainya. Secara horizontal, biasanya anggota golongan setara dan tidak ada hirarki. Namun, hal ini mengakibatkan banyak yang merasa anggota golongannya paling benar sehingga merendahkan anggota golongan lainnya. Contohnya, adalah agama, idealisme, adat-istiadat dan sebagainya.

Meskipun Indonesia adalah negara yang kaya akan perbedaan dan keberagaman, hal tersebut membuat Indonesia rentan terpecah-belah akibat perbedaan yang ada. Perpecahan di masyarakat bisa memicu konflik yang menimbulkan kerugian banyak pihak. perlu kita garis bawahi hal yang sangat prinsip dalam Bangsa kita adalah persoalan idiologi beragama, maka kita harus menjaga dan merawatnya, kita akui Indonesia adalah mayoritas penduduk muslim terbesar dunia namun bukan berarti hal ini membuat sebagian kolompok ekstrim dan mengabaikan prinsip-prinsip toleransi.

Oleh karenanya, diperlukan sifat toleran dan juga tenggang rasa terhadap perbedaan dan kemajemukan di masyarakat. Sifat toleransi haruslah ditanamkan sejak dini supaya bisa menerima perbedaan yang ada.

Contoh perilaku toleransi seperti memberikan kesempatan kepada tetangga melakukan ibadahnya, tolong-menolong antarwarga ketika melaksanakan hari raya dan tidak membeda-bedakan tetangga dan menghargai perbedaan budaya yang ada. Menghargai dan menerima pendatang didaerahnya, menghormati budaya dan sukunya, dan mengambil nilai-nilai positif yang di bawahnya seperti misalnya etos kerja tinggi dan lain-lain. Karena sikap dan perilaku toleransi terhadap keberagaman masyarakat merupakan kunci untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan, serta mencegah proses perpecahan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Setiap individu hendaknya mengaplikasikan perilaku toleran terhadap keberagaman suku, agama, ras, budaya dan antargolongan.Maka demikian itu, Ketua Umum Garis Indonesia berharap,  masyarakat untuk bisa mempertahankan dan menjaga sikap toleransi antar umat beragama, agar terciptanya kehidupan yang aman tentram dan damai. Tentunya untuk terwujudnya  sikap toleransi  dibutuhkan sikap saling kesepahaman antar individu, keluarga, bertetangga dan dalam lingkup masyarakat demi terwujudnya keselarasan kehidupan, kerjasama yang dilakukan dilandasi rasa ikhlas dan penuh tanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama.

Baca Juga :   PNBP KKP: Tarif Rp.0 Mudahkan Usaha Pengiriman Ikan Domestik

“Toleransi membuat kita hidup rukun aman tentram dan damai, walaupun di setiap lingkungan ada sebuah perbedaan dalam hal pendapat, agama, ide, suku, prinsip, ras dan budaya, sehingga dengan adanya hidup rukun maka akan memberikan manfaat kepada masyarakat untuk saling tolong menolong dan bahu-membahu antar sesama,” jelasnya.

Disamping itu, dalam mewujudkan masyarakat cinta damai tentunya harus memegang prinsip toleransi menerima sebuah perbedaan, saling menghargai dan tolong menolong apalagi dalam situasai kendisi Bangsa saat ini  Pandemi COVID-19 yang belum juga usai, Pemerintah Pusat dan Daerah begitu konsen dalam menyelesaikan, ditambah lagi maraknya bibit-bibit radikalisme yang begitu masif tumbuh di berbagai lintas medsos tentunya hal ini juga adalah permasalahan yang harus diatasi secara bersama-sama.

“Maka dengan itu Garis Indonesia membuat program bersama-sama dengan pemerintah dalam hal ini BNPT sebagai kemitraan Lembaga Gerakan Anti Radikalisme dan Teroris (GARIS) Indonesia membantu para eks napiter memulihkan nama mereka di tengah masyarakat agar tentunya bisa kembali di tengah masyarakat,” harapnya. */YAT

Komentar

News Feed