oleh

Wawali Tinjau Kebun Markisa dan Sayur di Mamboro

-Kota Palu-dibaca 54 kali

SULTENG RAYA – Wakil Wali Kota Palu, dr Reny A Lamadjido, didampingi Lurah Mamboro meninjau langsung kebun Markisa dan kebun sayuran di Jalan Tandame, Kelurahan Mamboro, Senin (11/10/2021).

Pada kesempatan itu, Wawali Reny berkesempatan berdialog langsung dengan para pengelola kebun Markisa dan petani sayuran.

“Potensi-potensi seperti inilah yang harus dijaga dengan baik dan lebih dikembangkan. Apalagi, saat ini luasan lahan pertanian kita di Kota Palu sangat menyusut,” kata Wawali Reny.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Kota Palu, mencatat, lahan pertanian di kota itu terus mengalami penyusutan karena terjadi alih fungsi lahan untuk pengembangan infrastruktur khususnya perumahan serta akibat dampak bencana alam.

“Tidak bisa di pungkiri, masyarakat menjual lahan pertanian mereka untuk kebutuhan ekonomi, selain itu banyak lahan tidur telah dialihfungsikan untuk pembangunan perumahan,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Kota Palu, Nur Laila, Senin (20/9/2021).

Baca Juga :   Enam Ahli Waris Pembuat Kasur Terima Santunan Rp42 Juta dari BPJamsostek

Ia memaparkan, tahun 2020 luas baku lahan persawahan tersisa tinggal 266,2 hektare dari 365,7 hektare pada tahun 2019, yang mana sebelumnya posisi lahan produktif kini menjadi tidak produktif dipicu saluran irigasi tidak lagi dialiri air akibat dampak gempa, tsunami dan likuefaksi.

Salah satu contoh, areal persawahan produktif seluas 27,5 hektare di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan hilang akibat dampak gempa dan likuefaksi.

“Pengembangan kawasan perumahan oleh pihak pengembang menjadi salah satu alasan berkurangnya lahan persawahan di Palu,” ucap Laila.

Meski terjadi penyusutan pada sektor tanaman pangan, petani di daerah itu masih tetap berproduksi dengan sisa lahan yang ada, sebagai mana data yang di rilis Dinas Pertanian setempat bahwa, pada tahun 2020 luas panen komoditas padi sekitar 190 hektare lebih dengan hasil produksi mencapai 645,46 ton dari besaran produktivitas 33,90 kwintal/hektare.

Baca Juga :   MTsN 1 Palu Mulai PTMT dengan Prokes Covid-19 Ketat

“2019 produksi padi petani berada di angka 624,27 ton dengan luas panen 237, 20 hektare dan produktivitas sekitar 33,90 kwintal/hektare, jika dibandingkan tentu terjadi penurunan angka produksi,” ungkap Laila.

Ia memaparkan, dari delapan kecamatan di Palu, ada enam kecamatan masih memiliki lahan pertanian potensial diantaranya Kecamatan Tawaeli, Palu Utara, Mantikulore, Palu Selatan, Tatanga dan Kecamatan Ulujadi.

Sedangkan dua kecamatan lainnya, yakni Palu Barat dan Palu Timur merupakan jantung kota dan kebanyakan aktivitas di wilayah tersebut lebih representatif pada kegiatan jasa sekaligus kawasan padat penduduk.

Instansi teknis setempat juga mencatat, Kelurahan Tawaeli, Kecamatan Tawaeli masih memiliki lahan pertanian cukup luas khususnya pada sub sektor tanaman pangan kurang lebih 50 hektare.

Baca Juga :   Kanwil Kemenag Sulteng Gelar Lomba MQK Tingkat Provinsi

“Paling tidak saat ini, produksi petani masih memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan perkotaan, meski pun Palu ditopang sejumlah daerah terdekat seperti Kabupaten Sigi, Donggala dan Parigi Moutong,” demikian Laila.ANT/HGA

Komentar

News Feed