oleh

Garis Indonesia Dukung dan Apresiasi Kinerja Densus 88, Sadli: Gaungan Wakil Rakyat Atas Densus 88 Tidak Berdasar

-Hukum-dibaca 148 kali

SULTENG RAYA – Ketua Umum Gerakan Anti Radikalisme dan Terorisme (Garis) Indonesia, Sadri, S.Pdi, MM, MPd terus mendukung dan mengapresiasi kinerja Densus 88 Antiteror dalam menumpas jaringan terorisme di wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal itu disampaikan Sadri menyusul adanya pernyataan salah seorang anggota DPR-RI yang meminta agar Densus 88 dibubarkan.

Menurut Sadri, salah satu fungsi DPR melaksanakan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan APBN, fungsi ini berkaitan dengan upaya untuk memastikan pelaksanaan keputusan politik yang telah diambil tidak menyimpang dari arah dan tujuan yang telah ditetapkan.

“Oleh karena itu, cuitan salah satu anggota DPR Fadli Zon terkait pembubaran Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri sama skali tidak berdasar dan hanya sebagai bualan belaka, seharusnya sebagai anggota DPR yang notabene wakil rakyat ini memberi solusi agar rakyat merasa aman dari pengaruh dan tindakan terorisme yang sangat meresahkan rakyat. mengingat persoalan teroris masih jadi ancaman nyata maka perlu ditangani secara sistematis,” jelas Sadri melalui rilisnya yang diterima, Kamis (7/10/2021) sore.

Lanjut Sadri, jika dalam implementasi di lapangan terjadi kesalahan itu hal wajar karena dalam penanganan kasus seperti ini. Seharusnya sebagai warga negara kita mengapresiasi kinerja Densus 88 antiteror.

Sadri pun menyebutkan, sederet prestasi Densus 88 bentukan Mabes Polri diantaranya, pada 9 November 2005, Detasemen 88 Mabes Polri menyerbu kediaman buronan teroris Dr. Azahari di Kota BatuJawa Timur yang menyebabkan tewasnya buronan nomor satu di Indonesia dan Malaysia.

Selanjutnya, pada 2 Januari 2007 Detasemen 88 terlibat dalam operasi penangkapan 19 dari 29 orang warga Poso yang masuk dalam daftar pencarian orang di Kecamatan Poso Kota. Tembak-menembak selang polisi dan warga pada peristiwa tersebut menewaskan seorang polisi dan sembilan warga sipil.

Selain itu, pada 9 Juni 2007 Yusron Mahmudi alias Sisa dari pembakaran Dujana, tersangka jaringan teroris gugusan Al Jamaah Al Islamiyah, ditangkap di Desa KebaronganKemranjenBanyumasJateng. Berikutnya, pada 8 Agustus 2009 Densus 88 kembali menggerebek sebuah rumah di Jati Asih, Bekasi dan menewaskan dua tersangka teroris.

Lanjutnya, pada 7-8 Agustus 2009 Densus 88 mengepung dan yang belakang sekalinya menewaskan tersangka teroris Ibrahim alias Baim di Desa Beji daerah Kedu, HYPERLINK “http://temanggung.argumentation.biz/id3/662-542/Temanggung_13080_temanggung-argumentation.html”Temanggung, pada 16 September 2009 Densus 88 menangkap dua tersangka teroris yakni Rahmat Puji Prabowo alias Bejo dan Supono alias Kedu di Pasar Gading, Solo, sekitar lima jam sebelum penangkapan di Kepuhsari, Mojosongo, serta pada 17 September 2009 pengepungan teroris di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres Solo dan menewaskan empat tersangka teroris di selangnya merupakan Noordin Mohammed Top, Bagus Budi Pranowo alias Urwah, Hadi Susilo, Aryo Sudarso alias Aji dan isteri Hadi Susilo, Munawaroh, yang berada di dalam rumah yang belakang sekalinya selamat tapi terkena tembakan di bidang kaki.

“Selama ini kinerja Mabes Polri mendapat apresiasi dari lembaga anti terorisme, termasuk Garis Indonesia yang terus memberikan support atas kerja-kerja profesional aparat Densus 88 dalam memberantas aksi-aksi terorisme di Indoensia,” jelas Sadri yang juga calon doktor di Ilmu Pemerintahan pada Kementerian Dalam Negeri IPDN.

Sebelumnya, Densus 88 Antiteror Polri merespons cuitan anggota Komisi I DPR, Fadli Zon di akun Twitternya. Politikus Partai Gerindra itu meminta agar Densus 88 dibubarkan.

Kabag Banops Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Aswin Siregar menyatakan, pihaknya akan mempelajari kritikan yang disampaikan Fadli Zon tersebut.

“Terima kasih informasinya. Akan kami pelajari,” kata Aswin singkat saat dihubungi, Rabu (6/10/2021).

Untuk diketahui, Fadli Zon dalam cuitannya mengkritik narasi yang disampaikan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri terkait terorisme di Indonesia. Dia bahkan meminta agar Densus 88 dibubarkan.

“Narasi semacam ini tak akan dipercaya rakyat lagi, berbau Islamifobia. Dunia sdh berubah, sebaiknya Densus 88 ini dibubarkan saja,” kicau Fadli Zon di akun Twitternya.

Dalam cuitan tersebut, Fadli Zon juga menyertakan sebuah berita yang berjudul ‘Densus 88 Klaim Taliban Menginspirasi Teroris Indonesia’.

Dalam cuitannya itu, ia menyebut, teroris memang harus diberantas. Namun, ia tak setuju jika teroris dijadikan sebagai komoditas. “Teroris memang harus diberantas, tapi jgn dijadikan komoditas,” kicaunya.

Menurutnya, sudah terlalu banyak lembaga yang menangani terorisme. Fadli Zon berpendapat, kasus terorisme seharusnya cukup ditangani oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Dia juga menyinggung teroris yang seharusnya menjadi prioritas adalah mereka yang terang-terangan menantang RI.

“Menurut sy sdh terlalu byk lembaga yg tangani terorisme. Harusnya @BNPTRI saja. Teroris separatis yg jelas2 menantang RI harusnya yg jd prioritas tp tak bisa ditangani. Jgn selalu mengembangkan narasi Islamofobia yg bisa memecahbelah bangsa,” cuit Fadli Zon. */YAT

Komentar

News Feed