oleh

Uang Elektronik Gairahkan UMKM di Tengah Pandemi Covid-19

-Ekonomi-dibaca 140 kali

SULTENG RAYA – Pelaku UMKM dinilai banyak merasakan dampak positif terhadap hadirnya uang elektronik. UMKM lebih bergairah ditengah hantaman krisis ekonomi akibat pandemi COVID-19!.

Uang elektronik jelas-jelas memberikan dampak positif seperti meningkatkan transaksi, pencatatan keuangan lebih teratur, serta tingkat literasi keuangan yang makin luas, membuka akses terhadap layanan keuangan perbankan dan digital.

Ekonomi digital pun terlihat semakin nyata dukungannya kepada pelaku UMKM,  semakin banyak yang ikut mengadopsi metode pembayaran menggunakan uang elektronik berbasis aplikasi, salah satunya OVO.

Dalam survei CORE Indonesia terhadap 2.001 UMKM mitra di 12 kota di 8 provinsi pada awal 2021, hasil studi memperlihatkan sebagian besar pelaku UMKM yang dijadikan responden  merasa terbantu sejak bergabung di platform pembayaran digital OVO.

Yang menariknya lagi, perbaikan yang dialami tidak hanya terkait fasilitas pembayaran nirtunai sebagai alternatif bagi pelanggan yang ingin menghindari penggunaan uang tunai.

Baca Juga :   Hormati Putusan MK, BPJS Ketenagakerjaan Fokus Perluasan Kepesertaan

Sebagian besar responden survei juga melaporkan peningkatan transaksi harian dan pendapatan bulanan, serta kini lebih sering menggunakan layanan perbankan jika dibandingkan sebelum bergabung dengan OVO.

Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdullah, mengatakan, sebanyak 73 persen UMKM saat ini lebih sering menggunakan uang elektronik untuk bertransaksi.

“Sekitar 70 persen UMKM mengalami peningkatan transaksi harian dengan rata-rata kenaikan hingga 30 persen. Rata-rata pendapatan per bulan pun meningkat 27 persen bagi 68 persen responden yang mengalami peningkatan pendapatan setelah bergabung dengan OVO,” katanya, Kamis (30/9/2021).

Sementara itu, Ekonom Senior dan Founder CORE Indonesia, Hendri Saparini menjelaskan, dari survei CORE, ternyata perilaku pelaku usaha dapat menyesuaikan dengan transformasi digital yang ada.

Baca Juga :   Gubernur: Mari Akses KUR untuk Pemulihan Ekonomi di Tengah Pandemi

“Jadi, tidak perlu khawatir bahwa perubahan perilaku tidak diikuti oleh pelaku usaha, khususnya UMKM. Kenyataannya, pelaku usaha juga cepat mengadopsi inovasi di bidang digitalisasi pembayaran. Selanjutnya ini menjadi aset bagi pemerintah, karena digitalisasi pembayaran ini menghasilkan big data yangluar biasa,” kata Hendri Saparini.

Senada, Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi & UKM Eddy Satriya mengapresiasi riset CORE Indonesia ini.

Adopsi pembayaran digital semakin kencang seiring dengan pandemi COVID-19, khususnya terpengaruh berbagai pembatasan mobilitas. UMKM memainkan peranan penting sebagai roda penggerak ekonomi, terutama di negara-negara berkembang.

Menurut Badan Pusat Statistik, lebih dari 64 juta UMKM Indonesia berkontribusi sekitar 61 persen bagi PDB nasional.

Lanjut Eddy, digitalisasi pembayaran tidak hanya bermanfaat bagi pelaku UMKM tetapi juga masyarakat luas. Dengan kata lain, digitalisasi pembayaran berdampak besar bagi upaya pemajuan bangsa. Kemenkop UKM pun optimistis atas target 30 juta pelaku UMKM bertransformasi ke digital pada 2023.

Baca Juga :   Konser Hybrid, Opsi Penyelenggaraan Acara Musik di Masa Pandemi

“Kami optimistis target tersebut bisa tercapai. Kami terus mengumpulkan secara langsung UMKM untuk dibimbing sehingga kapasitas produksi mereka terus menjadi lebih baik sejalan dengan perbaikan kualitas,” tutur Eddy.

Sementara itu, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Semuel Abrijani Pangerapan menjelaskan, pemerintah tengah berfokus pada perluasan jaringan infrastruktur telekomunikasi yang merata hingga pedesaan, termasuk pembangunan BTS untuk koneksi 4G di seluruh Indonesia dan persiapan implementasi 5G.

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2020 lalu menunjukkan penetrasi internet di Tanah Air baru mencapai 73,7 persen dari populasi, atau sekitar 196,7 juta jiwa.RHT

Komentar

News Feed