oleh

Terdorong Holding UMi, PNM Target Capai 12 Juta Nasabah

-Ekonomi-dibaca 57 kali

SULTENG RAYA – Hadirnya Holding Ultra Mikro (UMi) mendorong PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM semakin agresif menjangkau pelaku usaha pra sejahtera. BUMN yang basis bisnisnya melakukan pemberdayaan ekonomi kaum ibu tersebut optimistis dapat menambah nasabah menjadi lebih dari 12 juta pada 2022.

Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) Arief Mulyadi mengatakan perseroan hingga saat ini telah melakukan pemberdayaan sekaligus pembiayaan pada sekitar 10,8 juta nasabah pra sejahtera. Pada 2022 harapannya perseroan bisa mengakuisisi lebih dari 1,2 juta nasabah baru.

Arief menyebut target tersebut realistis dicapai seiring dengan penguatan ekosistem usaha yang lebih baik melalui Holding UMi, bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. selaku induk dan PT Pegadaian (Persero). “Untuk tahun depan, memang kami sedang menghitung ulang. Kami justru berharap lebih tinggi dari itu [12 juta] nasabah,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Sulteng Raya, Kamis (30/9/2021).

Adapun untuk saat ini Arief mengatakan, perseroan masih tetap konsisten dengan target yang telah ditentukan pada awal tahun 2021. Kendati telah tergabung dalam Holding UMi, pihaknya akan secara konsisten menjaga keberlangsungan dan semangat usaha nasabah yang sudah ada. Artinya, Holding UMi tak akan mengubah kualitas layanan dan produk jasa keuangan. Namun akan memperkuat apa yang telah dilakukan PNM selama ini.

Baca Juga :   BSI Siap Jadi Pendorong Utama Pertumbuhan Ekonomi Syariah Indonesia

“Bahkan kami terus mencari peluang untuk mendorong percepatan naik kelas (para pelaku usaha binaan), meningkatkan layanan, dan pada akhirnya bisa memberikan kontribusi terhadap akselerasi aktivitas ekonomi lokal dan nasional,” katanya.

Sementara itu terkait sinergi layanan bersama dalam Holding UMi melalui integrasi gerai atau co-location, menurut Arief, sejauh ini telah berjalan di 54 titik dan menuju 78 titik. Perseroan pun optimistis penambahan integrasi kantor fisik masih akan bertambah lebih banyak lagi pada kuartal keempat 2021 dan berlanjut tahun depan.

Dengan demikian, lanjut dia, ekosistem pembiayaan dan pemberdayaan usaha ultra mikro melalui Holding UMi akan menjadi lebih kuat ke depannya. Arief pun menyebut dengan Holding UMi lebih banyak memberikan nasabah manfaat.

Kehadiran holding dapat mengoptimalkan peran pemberdayaan PNM dengan penurunan biaya overhead. Selain itu, jaminan kesinambungan pemberdayaan menjadi lebih kuat dengan tambahan fasilitas layanan jasa keuangan yang semakin lengkap karena dibantu oleh BRI dan Pegadaian.

“Tadinya PNM tidak bisa lakukan bisa didukung oleh BRI sebagai induk holding dan Pegadaian sebagai sesama anggota holding. Dan ada jaminan penuh dengan efisiensi dan efektifitas proses yang akan kami lakukan bersama, Insya Allah segera bisa kami berikan keringanan beban bunga atau margin pada para nasabah,” ujar Arief menjelaskan.

Baca Juga :   BIK 2021, BNI Palu Fokus Akselerasi KUR

BUNGA CICILAN

Adapun terkait biaya layanan jasa keuangan, pihaknya sudah mengkalkulasi beberapa hal seperti potensi beban dana, beban operasional, serta beban lainnya yang dapat ditekan dengan kehadiran Holding UMi dan akan ditransmisikan pada beban cicilan kredit usaha wong cilik.

Dengan demikian, kata dia, PNM bisa lebih agresif dalam membantu pelaku usaha mikro naik kelas. Yakni melalui pembinaan yang semakin masif dan penyaluran pinjaman modal produktif dengan bunga cicilan yang lebih ringan.

Dengan kolaborasi ketiga entitas BUMN, PNM cukup optimistis nasabah program Mekaar akan memperoleh keuntungan penurunan bunga pinjaman sekitar 3%. Sinergi itu pun akan semakin menguntungkan masyarakat kecil karena dapat mengoptimalkan peran pemberdayaan PNM dengan penurunan biaya overhead sekitar 8%.

Ditegaskan pula, integrasi ketiga entitas BUMN tersebut dinilai bakal membentuk ekosistem usaha UMi yang kuat dengan menjaga, dan mempertahankan pendekatan pemberdayaan sosial PNM. “Ekosistemnya tentu akan menjadi lebih besar. Pelaku (usaha) ultra mikro dapat menjalin kerja sama dengan pelaku usaha menengah, bahkan korporasi, secara langsung,” ungkap Arief.

Baca Juga :   Konsumen Wajib Paham, Perawatan dan Penggantian Rantai Motor

Senada, Direktur Kelembagaan dan Perencanaan PNM Sunar Basuki mengatakan salah satu harapan besar dari pembentukan holding adalah untuk menurunkan biaya cicilan. Hal itu harus ditempuh agar kehadiran negara lewat BUMN lebih terasa dalam mendukung kinerja pelaku usaha di tataran bawah secara langsung. Terlebih langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat grass root economy. “Hal ini juga sejalan untuk mendukung kinerja pelaku usaha ultra mikro lebih baik lagi di masa pemulihan ekonomi,” imbuhnya.

Sebagai gambaran, berdasarkan laporan keuangan PNM aset perseroan tumbuh dari Rp31,66 triliun pada Desember 2020 menjadi Rp38,15 triliun per Juni 2021. Kontribusi terbesar dari komponen pembiayaan yang diberikan atau piutang pembiayaan kepada nasabah, yang meningkat dari Rp22,08 triliun menjadi Rp28,3 triliun pada periode yang sama.

Pendapatan bunga dan syariah kotor pun naik dari Rp2,52 triliun per Juni 2020 menjadi Rp3,61 triliun per Juni 2021. Setelah dikurangi beban operasional, pendapatan bersih tumbuh 53,6% secara year on year (yoy) menjadi Rp2,52 triliun pada paruh pertama 2021 dari sebelumnya Rp1,64 triliun.

Setelah ditambah beberapa komponen lain dan dikurangi beban usaha, laba sebelum pajak perseroan naik menjadi Rp427,33 miliar dari sebelumnya Rp153,12 miliar pada Juni 2020. RHT

Komentar

News Feed