oleh

Garis Indonesia Apresiasi dan Dukung BNPT Dalam Penanganan Terorisme

-Kriminal-dibaca 127 kali

SULTENG RAYA – Gerakan Anti Radikalisme dan Terorisme (Garis Indonesia) mengapresiasi dan terus mendukung kerja-kerja Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam penanganan terorisme dan radikalisme.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Garis Indonesia, Sadri, S.Pdi, MM, MPd melalui rilisnya kepada Sulteng Raya, Senin (27/9/2021).

“Garis Indonesia siap mendukung penuh kinerja Kepala BNPT selama ini dan mengapresiasi terhadap kinerja BNPT dan Polda yang telah menewaskan teroris Ali Kalora dalam memberantas radikalisme dan terorisme di Sulawesi Tengah,” kata Sadri yang saat ini sedang menyelesaikan program doktor yang kedua Ilmu Pemerintahan di Kementerian Dalam Negeri IPDN Jakarta.

Menurut Sadri, BNPT sekarang ini sejak kepemimpinan Komjen Pol Boy Rafli Amar sudah banyak menuntaskan persoalan teroris, bahkan dalam waktu yang cukup singkat banyak teroris maupun simpatisannya yang telah ditahan, hal itu dikarenakan Kepala BNPT gencar melakukan penyuluhan dan kerjasama antara pemerhati terorisme termasuk Garis Indonesia.

“Sebagai lembaga negara yang melaksanakan tugas di bidang penanggulangan terorisme, BNPT berperan aktif dalam mewujudkan stabilitas Polhukam yang merupakan salah satu dari tujuh agenda nasional 2020-2024. Peningkatan Pencegahan, Penindakan dan Deradikalisasi menjadi bentuk nyata perwujudan stabilitas Polhukam,” kata Sadri.

Baca Juga :   BANTU PENGEJARAN SISA DPO TERORIS, 150 Personel Brimob Asal Jambi Perkuat Ops Madago Raya

Selain itu, terorisme merupakan kejahatan serius yang tidak hanya dapat mengancam keamanan nasional namun juga mengancam eksistensi suatu negara. Dalam upaya penanggulangan tindak pidana terorisme, BNPT sebagai stakeholder utama penanggulangan terorisme di Indonesia tidak bisa berjalan sendiri, namun perlu adanya pelibatan unsur lain termasuk TNI dan Polri, institusi pemerintah terkait hingga elemen masyarakat.

“Jadi menanggulangi radikalisme dan terorisme adalah tanggung jawab bersama termasuk elemen masyarakat, tapi di sisi lain Densus 88 dalam hal ini BNPT juga berlaku humanis dan memperhatikan budaya lokal, karena persoalan radikalisme dan terorisme ini persoalan idiologi/keyakinan jadi harus melibatkan elemen masyarakat terutama tokoh agama,” jelasnya.

Sadri juga menyarankan, kepada Polri maupun BNPT dalam penanganan atau penangkapan terduga teroris agar selalu mengutamakan persuasif, karena mereka (teroris) juga punya keluarga, anak dan isteri sehingga tidak menimbulkan masalah baru.

Sementara, untuk kendala dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme adalah belum adanya pembinaan  yang menjamin dapat mengubah pemikiran radikal menjadi moderat. Sementara itu masih lemahnya sistem pengawasan terhadap peredaran  berbagai bahan pembuat  bom,  menyebabkan para teroris masih leluasa melakukan perakitan  bom yang jika tidak terdeteksi dapat menimbulkan kekacauan di berbagai tempat.

Baca Juga :   Polres Palu Amankan Mobil Angkut 10 Jeriken Saguer

“Jaringan teroris yang sulit terlacak dan memiliki akses yang luas membuat permasalahan terorisme sulit untuk diselesaikan. Anggota  teroris  dapat memanfaatkan berbagai  kemajuan  teknologi global, seperti internet dan telepon seluler untuk mempermudah berkomunikasi  dengan kelompoknya. Di  samping itu, para teroris juga mempunyai kemudahan untuk melakukan perjalanan dan transportasi lintas batas negara sehingga sangat sulit untuk memutuskan rantai jaringan terorisme global tersebut,” jelas Sadri.

Oleh karena itu lanjut Sadri, kualitas dan kapasitas institusi dan  aparat intelijen perlu ditingkatkan agar dapat menghadapi tantangan teknologi aksi terorisme dan skala ancaman yang semakin meningkat.  Selanjutnya kondisi kemiskinan dan  kesenjangan sosial yang merupakan media subur tumbuh dan  berkembangnya  sel-sel dan jaringan teroris, perlu menjadi perhatian utama pemerintah diantaranya, penguatan koordinasi dan kerjasama di antara lembaga pemerintah, peningkatan kapasitas lembaga pemerintah dalam pencegahan dan penanggulangan teroris, terutama satuan kewilayahan, pemantapan operasional penanggulangan terorisme dan penguatan upaya deteksi secara dini potensi aksi terorisme.

Baca Juga :   Polres Palu Amankan Mobil Angkut 10 Jeriken Saguer

Selanjutnya, penguatan peran aktif masyarakat dan  pengintensifan  dialog dengan kelompok masyarakat yang radikal, peningkatan pengamanan terhadap area publik dan daerah strategis yang menjadi target kegiatan terorisme, sosialisasi dan upaya  perlindungan  masyarakat  terhadap  aksi terorisme, pemantapan deradikalisasi melalui upaya-upaya pembinaan (soft  approach)  untuk  mencegah  rekrutmen  kelompok  teroris serta merehabilitasi pelaku teror yang telah tertangkap.

Sadri menambahkan, khusus untuk wilayah Sulawesi tengah (Sulteng), pemerintah dalam hal ini Gubernur terpilih Rusdy Mastura sangat gencar menjadikan masyarakat Sulawesi Tengah hidup dalam kemakmuran, namun kita sadari persoalan terorisme belum tuntas hal ini sangat berpengaruh terhadap jalannya roda pemerintahan. “Oleh karena itu, harus diselesaikan dengan tuntas, jangan sampai masyarakat kita karena persoalan ekonomi mereka bisa saja ikut dalam gorombolan terorisme di sisi lain investor juga akan segan masuk di wilayah Sulawesi Tengah,” tambah Sadri. */YAT

Komentar

News Feed