oleh

Pro dan Kontra Perkuliahan Online Bagi Mahasiswa Untad

-Pendidikan-dibaca 146 kali

SULTENG RAYA – Terhitung sejak Maret 2020, Rektor Universitas Tadulako (Untad), Prof. Dr. Ir. Mahfudz, M.P, mengeluarkan surat edaran pemberlakuan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), yang masih dilaksanakan sampai saat ini, itu menuai banyak pro dan kontra dalam pelaksanaannya  bagi mahasiswa.

Permasalahan yang paling sering didapatkan oleh mahasiswa saat perkuliahan online adalah kesulitan memahami materi karena kurangnya kesiapan dalam pengelolaan media pembelajaran online, seperti Zoom Meeting, Google Meet, Google Class Room,  situs web Learning Management System (LMS) Untad, atau hanya melalui aplikasi WhatsApp.

Fredianto Salu, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Program Studi (Prodi), Ilmu Komunikasi (Ilkom). Ia menceritakan pengalamannya selama melaksanakan kuliah sambil kerja di masa pandemi.

“Saya tidak terlalu suka kuliah online. Alasannya, kadang karena sibuk sama pekerjaan lain, saya jadi malas ikut kuliah online. Misalnya, saat saya kuliah online melalui aplikasi Zoom Meeting, saya cuman masuk, terus Hand Phone (HP) saya tinggal untuk kerja. Terkadang juga kameranya saya matikan, HP saya simpan di kantong, terus saya dengar penjelasan dosen menggunakan headset. Nanti, saat dosennya minta aktifkan kamera, baru saya aktifkan,” ungkapnya, Sabtu (18/9/21).

Baca Juga :   80 Persen Peserta Didik SMAN 3 Palu Sudah Divaksin

“Sebenarnya bos saya tidak masalah kalau saya ikut kuliah online. Tapi, yang jadi masalah, kadang saya juga tidak paham dengan materi yang diberikan, belum lagi banyaknya gangguan saat kuliah online, seperti jaringan bermasalah, tiba-tiba mati lampu, waktu penggunaan aplikasi Zoom Meeting tiba-tiba berakhir, atau bahkan saat baru mau masuk ke aplikasi, tapi kapasistas kelas sudah penuh. Makanya saya lebih suka perkuliahan tatap muka di kelas, karena secara otomatis, fokus kita cuman ke kuliah, bukan ke pekerjaan lain,” sambungnya.

Mahasiswa Fisip Prodi Ilkom Lainnya,  Witnasih, memilih pulang ke kampung halamannya, di Desa Margapura, Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong, karena perkuliahan yang dilakukan dengan cara online.

“Sekarang saya ada di kampung. Memang disini jaringan kurang baik, tapi saya tetap berusaha bertahan disini, karena kalau saya tetap tinggal di Kota Palu, padahal proses kuliahnya online, pasti banyak sekali biaya yang harus saya keluarkan. Misalnya untuk uang kos, uang makan, dan masi banyak kebutuhan saya lainnya. Jadi, sekarang saya disini selalu berusaha mencari tempat-tempat yang jaringannya bagus,” jelasnya.

Baca Juga :   LPM UIN Datokarama Palu Lakukan Workshop Penyelarasan Kurikulum

Mahasiswa angkatan 2019 ini juga menjelaskan kelebihan saat kuliah tatap muka di kelas yang ia rasakan. “Kelebihan kuliah offline bagi saya, adalah kurangnya noise saat dosen menjelaskan, suasana perkuliahan terasa lebih hidup karena adanya interaksi langsung antara mahasiswa dan dosen, jadi feedback nya itu bagus,” jelas Witnasih.

Berbeda dengan Fredi dan Witnasih yang lebih memilih perkuliahan tatap muka di kelas. Sahrul, Mahasiswa Fakultas Teknik, Prodi Teknik Sipil, mengungkapkan bahwa ia lebih menyukai perkuliahan online karena lebih efisien menurutnya.

“Saya pribadi suka dengan perkuliahan online. Menurutku lebih efisien, karena sambil kita kuliah, kita juga mengerjakan pekerjaan yang lain secara bersamaan. Selain itu, kuliah juga terasa lebih prakstis dan bisa dilakukan dimana saja, selagi jaringan masi terhubung”, kata Sahrul, Minggu (19/9/21).

Baca Juga :   BUiLD-Unismuh Palu Lakukan FGD Kebencanaan

Dalam proses perkuliahan, Sahrul mengatakan bahwa, dia tidak terlalu mempermsalahkan terkait jaringanan yang sering kali tidak stabil.

“Kalau ditanya tentang kendala saat kuliah online, pasti saya juga ada. Misalnya, jaringan yang jelek. Tapi, saya tidak terlalu terganggu dengan itu. Kan jaringan jelek atau mati lampu tidak selalu terjadi saat kuliah online berlangsung. Yang jadi masalah, kadang jam mata kuliah tidak sesuai dengan jadwalnya. Pasti ini sedikit mengganggu. Apalagi kalau kita sudah ada rencana mau melakukan aktivitas lain, otomatis kita tunda demi perkuliahan online,” terangnya.

Sahrul juga mengatakan, untuk masalah paham dan tidak paham dengan materi saat perkuliahan online, itu semua tergantung dari bagaimana cara dosen mengajar.

“Kalau untuk materi yang susah dipahami, menurut saya itu tergantung dari cara mengajar masing-masing dosennya lagi. Kalau caranya tepat dalam mengajar, pasti mahasiswanya bisa paham dengan baik,” kata Sahrul. MG2

Komentar

News Feed