oleh

Ayah di Donggala Divonis Penjara 13 Tahun

SULTENG RAYA – Pengadilan Negeri Donggala menjatuhkan hukuman pidana 13 tahun penjara kepada seorang ayah di Donggala yang tega menyetubuhi anak kandungnya hingga melahirkan seorang anak laki-laki.

Perkara tersebut, diadili oleh majelis hakim yang terdiri dari Hakim Ketua, Andi Aulia Rahman, S.H bersama Hakim Anggota Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah, S.H, dan Arzan Rashif Rakhwada, S.H.

Ketua Majelis hakim, Andi Aulia Rahman menjelaskan, perkara pidana tersebut terdaftar dengan nomor register 225/Pid.Sus/2021/PN Dgl, telah diputus oleh Majelis Hakim  Pengadilan Negeri Donggala melalui persidangan yang terbuka untuk umum pada Senin tanggal 23 Agustus 2021.

Diketahui, terdakwa merupakan seorang warga di wilayah hukum Pengadilan Negeri  Donggala yang diadili dalam perkara perlindungan anak dikarenakan melakukan ancaman kekerasan dengan memaksa melakukan persetubuhan dengan anak kandungnya sendiri secara terus menerus sejak tahun 2020 sampai tahun 2021.

“Majelis Hakim telah menjatuhkan putusan sebagai berikut, menyatakan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagai orang tua melakukan ancaman kekerasan memaksa anak untuk melakukan persetubuhan dengannya terus menerus sebagai perbuatan yang dilanjutkan, menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama 13  tahun dan pidana denda sebesar Rp200 juta rupiah dengan ketentuan apabila Terdakwa tidak membayar pidana denda tersebut maka diganti dengan pidana kurungan selama enam bulan,” jelasnya.

Lebih lanjut kata dia, putusan Majelis Hakim tersebut lebih berat dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut agar Majelis Hakim menjatuhkan pidana penjara selama 10 tahun dan denda sebesar Rp1 miliar rupiah subsidair 6 bulan penjara.

“Dalam pertimbangan hukumnya, Majelis Hakim menyebutkan bahwa alasan-alasan pemberat pidana diantaranya perbuatan Terdakwa tidak mendukung program pemerintah tentang perlindungan terhadap anak, perbuatan Terdakwa mengakibatkan korban mengalami trauma yang mendalam, perbuatan Terdakwa dilakukan terhadap seorang anak yang masih berusia 16 tahun,” tegasnya.

Selain itu kata dia, perbuatan tersebut dilakukan secara berulang-ulang sebanyak 10 kali dalam kurun waktu tahun 2020 sampai dengan tahun 2021.

Lanjutnya, perbuatan Terdakwa mengakibatkan korban hamil dan melahirkan anak laki-laki, terdakwa merupakan orang tua kandung korban yang seharusnya memberikan perlindungan dan rasa aman kepada korban.

Dengan begitu, majelis Hakim menyatakan bahwa berdasarkan ketentuan di dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Anak merupakan amanah dan karunia Tuhan Yang  Maha Esa yang memiliki harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya, sehingga dalam rangka menjaga harkat dan martabatnya, anak berhak mendapatkan perlindungan khusus, terutama pelindungan hukum dalam sistem peradilan dan karenanya demi mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak, Majelis Hakim telah menjatuhkan hukuman pidana kepada Terdakwa yang mencerminkan keberpihakan dan perlindungan khusus terhadap Anak. */ADK

Komentar

News Feed