oleh

Cabuli Empat Anak, Warga Donggala Divonis 15 Tahun Penjara

SULTENG RAYA – Pengadilan Negeri Donggala menjatuhkan hukuman pidana 15 tahun penjara kepada seorang warga Donggala, inisial M atas perbuatannya yang telah melakukan pencabulan dan persetubuhan terhadap tiga orang anak perempuan dan satu orang anak laki-laki berusia tiga tahun.

Juru bicara Pengadilan Negeri Donggala, Andi Aulia Rahman menjelaskan, perkara pidana dengan nomor register 238/Pid.Sus/2021/PNDgl atas nama Terdakwa Muhadi telah diputus oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Donggala melalui persidangan yang terbuka untuk umum pada Rabu 8 September 2021.

“Majelis Hakim terdiri dari Ahmad Gazali, S.H sebagai Hakim Ketua, Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah, S.H dan Danang Prabowo Jati, S.H. sebagai akim Anggota,” ucapnya.

Seperti diketahui kata dia, terdakwa merupakan seorang warga di wilayah hukum Pengadilan Negeri Donggala yang diadili dalam perkara perlindungan anak dikarenakan melakukan tipu muslihat terhadap empat orang anak untuk melakukan persetubuhan dan pencabulan.

“Korban masing-masing terdiri dari, korban pertama berjenis kelamin perempuan berusia enam tahun, korban kedua berjenis kelamin perempuan berusia tujuh tahun, korban ketiga berjenis kelamin perempuan berusia dua tahun dan korban keempat berjenis kelamin laki-laki berusia tiga tahun,” sebutnya.

Lebih lanjut kata dia, dalam fakta hukum di persidangan, khusus terhadap korban keempat yang merupakan seorang anak laki-laki berusia tiga tahun, disebutkan bahwa Terdakwa pada awalnya melihat korban tersebut bermain, selanjutnya terdakwa memanggil korban dan menyuruhnya berbaring, kemudian terdakwa langsung membuka celana korban keempat dan terdakwa melakukan aksinya.

“Dalam amar putusannya, Majelis Hakim telah menjatuhkan putusan sebagai berikut, pertama menyatakan Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja melakukan tipu muslihat terhadap anak untuk melakukan persetubuhan dengannya, menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama 15 tahun dan denda sebesar Rp 1 miliar rupiah dengan ketentuan apabila Terdakwa tidak membayar pidana denda tersebut maka diganti dengan pidana kurungan selama enam bulan,” jelasnya.

Lanjutnya, Majelis Hakim memilih menjatuhkan putusan maksimal selama 15  tahun penjara tersebut kepada Terdakwa oleh karena menurut Majelis Hakim, perbuatan Terdakwa mengakibatkan trauma fisik dan mental bagi empat orang Anak, perbuatan Terdakwa merupakan penyimpangan seks yang dilakukan terhadap salah satu Anak, yaitu korban keempat yang berjenis kelamin laki-laki berusia tiga tahun.

Selain itu kata dia, majelis Hakim juga mempetimbangkan korelasi psikologis permulaan antara Terdakwa dengan anak-anak tersebut. Terdakwa sebelumnya telah membangun relasi baik sebagai teman bermain anak, sehingga pada awalnya anak-anak tersebut merasa aman berada dalam lingkup permainan Terdakwa.

“Terhadap relasi tersebut Terdakwa juga memberikan janji berupa hadiah yang disukai oleh anak-anak yang menjadi pemicu kepercayaan anak terhadap Terdakwa sebelum akhirnya kejadian persetubuhan dan perbuatan cabul dilakukan oleh Terdakwa,” ucapnya. */ADK

Komentar

News Feed