oleh

Pemerintah Anggap Kenaikan Harga Pakan Ternak Masih Wajar

-Kota Palu-dibaca 149 kali

SULTENG RAYA Belum lama ini, Kelompok Ternak Saudara Unggas di Jalan Malontara, Kelurahan Pengawu, Kota Palu mengeluhkan harga pakan ayam yang terus melambung sementara harga telur tidak mengalami kenaikan bahkan cenderung menurun.

Ketua Kelompok Ternak Saudara Unggas, Rustam, mengatakan, harga pakan naik dua kali lipat. Dedak dari Rp1.200 sampi Rp1.500, naik menjadi Rp3.000 per kilogram (kg), jagung yang dulunya dikisaran Rp3.000, sekarang naik Rp6.000 per kg. Konsentrat juga begitu naik Rp100 ribu per sak.

“Harga pakan makin naik. Tapi harga telur ayam sudah turun sekali atau bisa dibilang jatuh sekitar Rp20.000 sampai Rp30.000 per rak. Untuk biaya produksi lebih tinggi hampir mencapai 70 persen dibandingkan hasil yang kami dapatkan,” kata Rustam, belum lama ini.

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Sulawesi Tengah melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulteng menyatakan kenaikan tersebut dianggap wajar dikarenakan saat ini sedang masa pandemi Covid-19 yang mengakibatkan kenaikan sejumlah Harga Pokok Produksi (HPP), membuat harga pakan peternak ayam petelur turut membengkak.

Baca Juga :   Gubernur Sulteng Minta Bupati/Wali Kota Tingkatkan Sebaran Vaksin

 “Karena masa pandemi, banyak harga pokok produksi naik, seperti jagung dan dedak padi, untuk harga jagung sendiri dari harga Rp5.000 per kg sekarang naik Rp7.000 per kg, dan harga dedak padi yang awalnya Rp80.000 per karung sakarang Rp150.000 per karung,” kata Kepala Seksi Produksi dan Pembibitan Ternak, Mura, kepada Sulteng Raya, Rabu (15/9/2021).

Karena kenaikan masih dalam taraf kewajaran, maka pemerintah sendiri belum mengambil sikap yang intensif terkait masalah tersebut.

“Pemerintah sendiri saat ini belum mengambil tindakan yang intensif, karena begini untuk kenaikan harga pakan sendiri itu berkaitan dari sisi transport, seperti dari transport Jakarta dan Surabaya ke sini itu sedikit sulit, apalagi di saat masa pandemi seperti ini. Jadi kenaikan itu menurut saya masih dibatas yang wajar,” katanya.

Baca Juga :   Pj. Sekdaprov Sulteng Hadiri Peringatan Maulid Nabi di Masjid Baitul Haq

Dia mengatakan, untuk memproduksi pakan tersebut, komponan bahan pakan yang dibutuhkan lebih banyak dari total biaya pakan ayam.

Sedangkan jagung merupakan bahan pakan yang terbesar dalam formulasi pakan ayam, sehingga melejitnya harga jagung akan mempengaruhi harga pakan. Pada akhirnya berdampak kepada harga bahan pangan ternak (telur) di pasaran.

Soal harga pakan yang terus melambung, sementara harga telur tidak mengalami kenaikan, ia menerangkan diakibatkan masuknya pasokan dari Sulawesi Selatan (Sulsel), sehingga pasokan telur yang ada di dalam kota tidak terserap dengan baik.

“Pasokan telur ini ada yang masuk dari Sulsel, sebenarnya jika hanya peternak yang ada di Sulteng dan kebutuhan Sulteng mungkin harga akan stabil, akan tetapi banyaknya telur dari daerah yang masuk, menumpuk banyak, sehingga harga jual menurun,”ungkapnya.

Baca Juga :   Kapolda Sulteng Kunjungi Rumah Korban Dugaan Asusila Oknum Kapolsek Parigi

Sementara itu, terkait mengurangi masuknya pasokan telur dari luar daerah, itu merupakan hal yang mustahil, karena tidak ada regulasi yang mengatur terkait masalah tersebut.

“Kalau untuk mengurangi masuknya pasokan dari luar daerah itu tidak mungkin, dan tidak ada regulasi yang mengatur terkait masalah tersebut. Karena pada umumnya, perdagangan antardaerah ini juga untuk memenuhi kebutuhan suatu daerah. Seperti kemarin Gubernur Sulteng MoU dengan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) masalah perdagangan, kita mensupply ayam,sapi dan kambing,” tuturnya. MG1/RHT

Komentar

News Feed