oleh

Akademisi Sarankan Produsen Seimbangkan Jumlah Produksi

-Ekonomi-dibaca 120 kali

SULTENG RAYA – Ketua Konsentrasi Ekonomi Perencanaan Pembangunan dan kebijakan Ekonomi Publik di Universitas Tadulako (Untad), Edhi Taqwa, ikut menanggapi isu jatuhnya harga telur di tingkat produsen yang membuat produsen ‘menjerit’.

Ia menyarankan, agar produsen menyeimbangkan jumlah produksi, karena kurangnya permintaan.

“Saat ini kan harga telur turun, tapi pasokan tetap melimpah karena kurangnya peminat. Jadi menurut saya, mau tidak mau, produsen harus meningkatkan efesiensi atau menyeimbangkan jumlah produksi dan juga  mengurangi pengeluaran yang tidak penting seperti mengurangi tenaga kerja,” katanya, Selasa (14/9/2021).

Ia juga mengatakan, meskipun harga telur murah , sepanjang masih ada keuntungan itu tidak ada masalah. Walaupun keuntungan yang didapat tidak seperti saat sebelumnya, sepanjang masih bisa menutupi biaya produksi .

“Untuk produsen, meskipun harga telur murah, sepanjang masih ada keuntungan walau sedikit dan masih bisa menutupi biaya produksi, saya rasa masih bisa bertahan. Sebab jika mau beralih pada bidang usaha yang lain itu tidak gampang,” ujarnya.

Baca Juga :   Layanan VoLTE Telkomsel Kini Hadir di 219 Kota

Sementara itu, terkait penutupan akses masuknya pasokan telur dari luar daerah, itu merupakan hal yang mustahil, karena tidak adanya peraturan yang dikeluarkan pemerintah.

“Kalau untuk menutup pasokan itu tidak bisa, karena sekarang pasar itu sudah untuk siapa saja, selain itu tidak ada kebijakan yang dikeluarkan untuk menutup pasokan, karena kita menjual bisa kemana saja,”ujarnya

Terkait naiknya harga pakan, itu dikarenakan pakan ayam diperoleh dari luar daerah, sehingga harus bayar biaya produksi dan ongkos angkut yang meningkat.

“Kalau harga pakan meningkat, itu karena sebagian besar pakan ayam dihasilkan atau dipasok dari luar daerah, terkait dengan biaya produksi, ongkos angkut yang meningkat, sehingga akan menyebabkan biaya input akan semakin meningkat,“ lanjutnya.

Baca Juga :   Pegadaian Sebut Tingkat Tebus Emas Menurun

Sebelumnya, Asosiasi Kelompok Ternak Saudara Unggas di Jalan Malontara, Kelurahan Pengawu, Kota Palu, mengeluhkan soal harga pakan ayam petelur yang terus melambung, sementara harga telur tidak mengalami kenaikan, bahkan  cenderung menurun.

Ketua Kelompok Ternak Saudara Unggas, Rustam, mengatakan, harga pakan naik dua kali lipat dari harga normal. Dedak dari Rp1.200 sampai Rp1.500 per kilogram (kg), naik menjadi Rp3.000 per kg. Kemudian, jagung dulunya kisaran Rp3.000, sekarang naik Rp6.000 per kg. Konsentrat juga begitu, naik Rp100 ribu per sak.

“Harga pakan makin naik. Tapi harga telur ayam sudah turun sekali atau bisa dibilang jatuh sekitar Rp20.000 sampai Rp30.000 per rak. Untuk biaya produksi lebih tinggi hampir mencapai 70 persen, dibandingkan hasil yang kami dapatkan,” kata Rustam, Jumat (10/9/2021).

Baca Juga :   KPH Kulawi Bimtek Peningkatan Kelas KTH Singganipura

Bahkan, kata dia, dengan gejolak harga pakan yang terus naik, sementara harga telur yang menurun itu, beberapa peternak anggota asosiasi memilih tidak beroperasi.

“Alasan mereka menutup usahanya akibat permintaan telur menurun, naiknya harga pakan, kondisi pandemi Covid-19, dan adanya PPKM level 4 yang terus diperpanjang,” terangnya.

Ia berharap kepada Pemerintah melalui dinas terkait, agar melakukan pengawasan ketat terhadap harga pakan. Begitu pula, dengan membantu kebutuhan peternak yang kini semakin tergerus akibat kebijakan.

“Harapan kami pemerintah harus turun langsung melihat kondisi di lapangan. Terutama pada penyaluran bansos diusahakan agar dapat menyerap telur di tingkat peternak lokal yang ada di Kota Palu,” harapnya.

“Kemudian pemerintah daerah jangan hanya selalu mengandalkan produksi telur dari luar, akhirnya telur lokal tidak terserap dengan baik sehingga membuat harga penjualan jatuh,” ujarnya menambahkan. MG1/RHT

Komentar

News Feed