oleh

Pemkot Sebut Harga Telur di Palu Stabil

-Kota Palu-dibaca 69 kali

SULTENG RAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Palu melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Palu menyatakan, harga telur di tingkat pedagang dan distributor stabil.

“Untuk harga telur Rp35.000 sampai Rp36.000 masih termasuk  harga stabil, karena tergantung besar dan kecilnya telur,” kata Mira, Salah seorang pegawai di Disperdagin Kota Palu kepada Sulteng Raya, Senin (13/9/2021).

Hal tersebut, kata dia, berdasarkan pantuan intens pemerintah terhadap harga kebutuhan pokok di berbagai tingkatan pasar.

“Untuk pengecekan harga kita turun langsung ke distributor, kemudian dibandingkan dengan harga ecerannya, harga dari distributor ini yang akan turun ke konsumen,” jelasnya.

Bahkan, Mira mengklaim, tahun ini tidak ada penurunan harga telur dari hasil pendataan langsung harga lintas komoditi.

PEDAGANG: RP35.000 PER RAK TERLALU MURAH

Sementara itu, pedagang di Pasar Induk Tradisonal (PIT) Masomba, Kasman mengeluhkan harga Rp35.000 per rak yang dinilai terlalu murah. Padahal, kata dia, bulan lalu, harga mencapai Rp50.000 per rak.

Baca Juga :   Pemkot Apresiasi Kajian kebencanaan Nasana Community

Pedagang lain, Bahar, menuturkan bahwa akibat pandemi Covid-19, aktivitas ekonomi di pasar bener-benar sepi. Berkurangnya permintaan telur selama pandemi Covid-19 membuat pedagang mengambil untung sedikit.

“Untuk keuntungan per rak tidak menentu, tapi dengan harga telur sekarang keuntungan per rak hanya Rp2.000 sampai Rp3.000 saja. Di masa sekarang, untung sedikit tidak masalah, yang penting laku dan tidak rugi banyak,” katanya.

Bahar berharap situasi pandemi cepat berlalu, sehingga aktivitas pasar bisa pulih kembali.

Sementara itu, di tingkat produsen, harga yang murah tersebut dinilai tidak seimbang dibandingkan dengan biaya produksi yang dikeluarkan oleh produsen.

PRODUSEN SEBUT HARGA TELUR TIDAK SEBANDING MODAL

Sementara itu, Asosiasi Kelompok Ternak Saudara Unggas di Jalan Malontara, Kelurahan Pengawu, Kota Palu, mengeluhkan soal harga pakan ayam petelur yang terus melambung, sementara harga telur tidak mengalami kenaikan, bahkan  cenderung menurun.

Baca Juga :   Peringatan HUT ke-43 Kota Palu Diwarnai Demonstrasi Penyintas Bencana

Ketua Kelompok Ternak Saudara Unggas, Rustam, mengatakan, harga pakan naik dua kali lipat dari harga normal. Dedak dari Rp1.200 sampai Rp1.500 per kilogram (kg), naik menjadi Rp3.000 per kg. Kemudian, jagung dulunya kisaran Rp3.000, sekarang naik Rp6.000 per kg. Konsentrat juga begitu, naik Rp100 ribu per sak.

“Harga pakan makin naik. Tapi harga telur ayam sudah turun sekali atau bisa dibilang jatuh sekitar Rp20.000 sampai Rp30.000 per rak. Untuk biaya produksi lebih tinggi hampir mencapai 70 persen, dibandingkan hasil yang kami dapatkan,” kata Rustam, Jumat (10/9/2021).

Bahkan, kata dia, dengan gejolak harga pakan yang terus naik, sementara harga telur yang menurun itu, beberapa peternak anggota asosiasi memilih tidak beroperasi.

Baca Juga :   Gubernur, Wali Kota dan Bupati Morut Terima Penghargaan Bangga Kencana

“Alasan mereka menutup usahanya akibat permintaan telur menurun, naiknya harga pakan, kondisi pandemi Covid-19, dan adanya PPKM level 4 yang terus diperpanjang,” terangnya.

Ia berharap kepada Pemerintah melalui dinas terkait, agar melakukan pengawasan ketat terhadap harga pakan. Begitu pula, dengan membantu kebutuhan peternak yang kini semakin tergerus akibat kebijakan.

“Harapan kami pemerintah harus turun langsung melihat kondisi di lapangan. Terutama pada penyaluran bansos diusahakan agar dapat menyerap telur di tingkat peternak lokal yang ada di Kota Palu,” harapnya.

“Kemudian pemerintah daerah jangan hanya selalu mengandalkan produksi telur dari luar, akhirnya telur lokal tidak terserap dengan baik sehingga membuat harga penjualan jatuh,” ujarnya menambahkan. MG1/RHT

Komentar

News Feed