oleh

Harga Anjlok, Pedagang dan Produsen Telur di Palu Mengeluh

-Kota Palu-dibaca 147 kali

SULTENG RAYA – Selama pandemi Covid-19, harga telur di Kota Palu anjlok. Hal ini dikeluhkan oleh sejumlah pedagang telur di pasar tradisional Kota Palu. Berdasarkan penelusuran Sulteng Raya, harga satu rak telur ukuran sedang hanya dibanderol Rp35.000.

“Kalau bulan lalu harga telur mencapai Rp50.000 per rak, tapi sekarang menurun hingga Rp 35.000 per rak,” ujar salah seorang pedagang telur di Pasar Masomba, Kasman,  Ahad (12/9/2021) kemarin.

Pedagang lain, Bahar, menuturkan bahwa akibat pandemi Covid-19, aktivitas ekonomi di pasar bener-benar sepi. Berkurangnya permintaan telur selama pandemi Covid-19 membuat pedagang mengambil untung sedikit.

“Untuk keuntungan per rak tidak menentu, tapi dengan harga telur sekarang keuntungan per rak hanya Rp2.000 sampai Rp3.000 saja. Di masa sekarang, untung sedikit tidak masalah, yang penting laku dan tidak rugi banyak,” katanya.

Baca Juga :   Gubernur Rusdy Mastura Pimpin Upacara HUT ke-43 Kota Palu

Bahar berharap situasi pandemi cepat berlalu, sehingga aktivitas pasar bisa pulih kembali.

Sementara itu, di tingkat produsen, harga yang murah tersebut dinilai tidak seimbang dibandingkan dengan biaya produksi yang dikeluarkan oleh produsen.

Asosiasi Kelompok Ternak Saudara Unggas di Jalan Malontara, Kelurahan Pengawu, Kota Palu, mengeluhkan soal ironi harga pakan ayam petelur yang terus melambung, sementara harga telur tidak mengalami kenaikan, bahkan  cenderung menurun.

Ketua Kelompok Ternak Saudara Unggas, Rustam, mengatakan, harga pakan naik dua kali lipat dari harga normal. Dedak dari Rp1.200 sampai Rp1.500 per kilogram (kg), naik menjadi Rp3.000 per kg. Kemudian, jagung dulunya kisaran Rp3.000, sekarang naik Rp6.000 per kg. Konsentrat juga begitu, naik Rp100 ribu per sak.

Baca Juga :   Peserta Magang ke Jepang Bakal Dilindungi BPJamsostek Palu

“Harga pakan makin naik. Tapi harga telur ayam sudah turun sekali atau bisa dibilang jatuh sekitar Rp20.000 sampai Rp30.000 per rak. Untuk biaya produksi lebih tinggi hampir mencapai 70 persen, dibandingkan hasil yang kami dapatkan,” kata Rustam, Jumat (10/9/2021).

Bahkan, kata dia, dengan gejolak harga pakan yang terus naik, sementara harga telur yang menurun itu, beberapa peternak anggota asosiasi memilih tidak beroperasi.

“Alasan mereka menutup usahanya akibat permintaan telur menurun, naiknya harga pakan, kondisi pandemi Covid-19, dan adanya PPKM level 4 yang terus diperpanjang,” terangnya.

Ia berharap kepada Pemerintah melalui dinas terkait, agar melakukan pengawasan ketat terhadap harga pakan. Begitu pula, dengan membantu kebutuhan peternak yang kini semakin tergerus akibat kebijakan.

Baca Juga :   Gubernur, Wali Kota dan Bupati Morut Terima Penghargaan Bangga Kencana

“Harapan kami pemerintah harus turun langsung melihat kondisi di lapangan. Terutama pada penyaluran bansos diusahakan agar dapat menyerap telur di tingkat peternak lokal yang ada di Kota Palu,” harapnya.

“Kemudian pemerintah daerah jangan hanya selalu mengandalkan produksi telur dari luar, akhirnya telur lokal tidak terserap dengan baik sehingga membuat harga penjualan jatuh,” ujarnya menambahkan. MG1/RHT

Komentar

News Feed