oleh

Fisip Untad Siap Laksanakan Kuliah Tatap Muka

-Pendidikan-dibaca 237 kali

SULTENG RAYA – Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Tadulako (Untad), Prof. Dr. Muhammad Khairil, M.Si., menyatakan siap melaksanakan Perkuliahan Tatap Muka  (PTM) dengan kesiapan hampir 90%.

“Persiapan kita untuk kuliah tatap muka ada 80% sampai 90%,cuman kalau ditanyakan siap atau tidak, kami siap,” jelasnya, Jumat (10/9/2021).

Meski dari pihak Fisip Untad sendiri sudah siap melaksanakan PTM, namunmereka tetap menunggu intruksi dari pihak univertitas terlebih dahulu.

Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa untuk fasilitas penunjangnya masi belum lengkap. Ia juga menjelaskan akan ada persyaratan baru jika mereka melakukan PTM.“Prosedur Kesehatannya yang kita belum maksimal. Contoh penyediaan Hand sanizer dimasing-masing ruang kelas, tapi kalau ruangan kita siap. Jadi kalau universitas dalam hal ini Pak Rektor menyetujui dan kita sudah tatap muka, tapi tentu akan ada aturan-aturan baru. Contoh, misalnya kalau tadi satu kelas 40 orang, mungkin tinggal 20, jadi kita ambil setengahnya. Kita akan menggunakan metode Blanded Learning,” jelasnya.

Baca Juga :   PTM di FAI Unismuh Palu Tunggu Izin PP Muhammadiyah dan Universitas

“Sebelum membuka PTM, kami harus data berapa persentase mahasiswa yang sudah vaksin, termasuk mahasiswa baru, mahasiswa lama,” sambungnya.

Ia juga menjelaskan, bahwa hampir semua dosen dan staf sudah melakukan vaksinasicovid-19, kecuali memang yang tidak dianjurkan untuk vaksin karena penyakit tertentu. “Hampir semua kita sudah divaksin, kecuali memang yang punya penyakit. Tapi kalau yang dalam kondisi normal untuk vaksin semua kita sudah vaksin,” tuturnya.

“Untuk mata kuliah praktik ada beberapa yang sudah offline, seperti komunikasi ada yang membutuhkan laboraturium,” tambahnya.

Annisa Dwi Rahmawati, salahseorangmahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi (Ilkom), mengatakan sejauh ini selama pandemi dia kesulitan memahami materi saat perkuliahan karena kurangnya kesiapan media yang ingin digunakan.

“Karena pandemi ini tiba-tiba muncul dan bisa dibilang sektor pendidikan kurang siap dalam hal pengelolaan media, jadi efek perkulihaannya kurang saya dapat, juga seperti timbal balik antara dosen dan mahasiswa. Contohnya seperti ini, terkadang saat kita sedang mulai perkulihan online,tiba-tiba mati lampu, jaringan bermasalah, waktu penggunaan aplikasi Zoom Meeting berakhir, atau bahkan kapasitas orang yang bisa masuk di aplikasi itu sudah mencapai maksimum. Ini semua sangat mengganggu saya untuk bisa memahami dengan baik materi yang diberikan dosen,” jelasnya, Jumat (10/9/2021).

Baca Juga :   STPL Palu- Universitas Muhammadiyah Buton Teken Kerjasama

Disamping itu, Annisa juga berpendapat bahwa dia akan tetap mengikuti perintah dari Pemerintah. Semua keputusan yang ditetapkan pasti telah dipertimbakan secara matang dan telah dipikirkan dampak negatif dan positifnya.

“Sejujurnya, walaupun saya sudah melakukan vaksin sampai vaksin kedua, saya juga takut jika nanti saya terpapar Covid-19 saat melaksanakan PTM. Sejujurnya walaupun saya lebih luring, saya juga tidak bisa memaksakan untuk perkuliahan luring itu terjadi. Saya sadar, pemerintah pasti sangat mempertimbangkan semua itu dengan sebaik-baiknya, karena kondisinya memang berbahaya,” imbuhnya.

Mahasiswa Fisip Untad lainnya, Iswahyudi, mahasiswa  Prodi Ilmu Pemerintahan (IP), berpendapat hampir sama dengan Annisa. Ia juga lebih memilih perkuliahan offline.

“Kalau saya pribadi, saya lebih memilih kuliah offline. Alasannya, saatperkuliah offline kita lebih mudah capek, mengantuk, sosialisasi dengan teman-teman berkurang. Terkadang juga karena perkuliahannya online, jam Mata Kuliah (MK)suka di pindah-pindah, bahkan kadang saat malam dan hari libur kita tetap kuliah,” paparnya, Jumat (10/9/2021).

Baca Juga :   Mahasiswi Unismuh Palu Keluhkan Kuliah Online

“Saya belum di vaksin, tapi kalau memang nanti itu dijadikan persyaratan jika ingin mengikuti perkuliahan offline, saya pasti akan vaksin. Untuk sekarang saya masi takut untuk divaksin, karena saya takut disuntik, tapi kalau sudah mendesak, mau tidak mau harus saya lakukan,” sambungnya. MG2

Komentar

News Feed