oleh

Anggota DPRD Sulteng Dorong Segera PTM di Sekolah

-Kota Palu-dibaca 182 kali

SULTENG RAYA – Anggota Komisi IV DPRD Sulawesi Tengah, Dra. Fatimah HM Amin Lasawedi, M.Si mendorong agar Pemerintah Daerah segera melaksanakan Pertemuan Tatap Muka (PTM) di sekolah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat.  Menurutnya, pertemuan tatap muka merupakan watak pendidikan di Indonesia. 

“Model pembelajaran kita mengadopsi proses pembelajaran langsung, adapun metode, strategi, teknik maupun pendekatan yang beragam dalam konteks pengembangan pembelajaran, tidak akan jauh larinya dari model pembelajaran langsung. Dimana, guru dan murid menjadi dua partner belajar yang saling membutuhkan, sehingga eksistensi pembalajaran tercermin aktif dalam rangkaian pembelajaran dengan model tersebut,”kata Fatimah Lasawedi saat dihubungi media ini, Kamis (9/9/2021).

Alasan lain, kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini,  bisa dilihat dari banyaknya orang tua murid yang mengeluh, karena anak-anaknya menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan di rumah. Anak-anak lebih banyak menggunakan gadget yang sangat menyandera mereka dengan berbagai aplikasi game seperti mobil legend, PUPG dan lain-lain.

Baca Juga :   Satpol PP Bongkar Lapak Kosong di Sejumlah Kelurahan

“Kalau begini terus, bisa bodoh generasi kita lantaran lebih banyak main game daripada belajar,”jelasnya.

Menurut Fatimah Lasawedi, memang di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia, menuntut adanya perubahan model pembelajaran tatap muka di sekolah, baik dari aspek metode, pendekatan, teknik dan strategi harus diubah sesuai situasi.

“Saya pikir konteks saat ini memang menuntut pendekatan berbasis teknologi dengan pemanfaatan berbagai platform media belajar yang bisa kita akses di playstore maupun vendor-vendor aplikasi ternama seperti whatsapp, Facebook, dan semacamnya. Namun yang menjadi soal adalah konsistensi dan komitmen belajar peserta didik yang justru teralihkan oleh arus pengguna smartphone yang tidak jarang justru digunakan untuk main game bukan lagi belajar. Sementara tugas-tugas yang dibebankan oleh pendidik justru terabaikan dan sekedar dikerjakan untuk menggugurkan kewajibannya,” katanya.

Baca Juga :   Mahasiswa STPL Palu Melaksanakan Magang Industri

“Secara tegas, bisa saya katakan bahwa pembelajaran yang biasa kita sebut pembelajaran daring ini pada aspek sosiologisnya sangat membebani kalangan ekonomi lemah dan kaum yang masih gagap teknologi, karena minimnya biaya buat kuota dan rendahnya pengetahuan tentang fitur-fitur belajar online,” jelas Fatimah Lasawedi menambahkan.

Kemudian, kata dia, dilihat dari aspek efektivitasnya, pembelajaran daring selama ini hanya menyentuh ranah kognisi belaka, sehingga mengabaikan ranah afektif dan psikomotoriknya. Murid seolah-olah diperhadapkan dengan mesin-mesin pembelajaran yang menekankan pada pengetahuan, bukan budi pekerti dan pembentukan akhlak.

“Kalau zaman dulu, pendidikan kita menekankan pada aspek budi pekerti sekaligus pengetahuan (kognisi). Kemudian, kita kemarin sudah dicecar dengan kewajiban vaksin untuk tenaga pendidik, seharusnya yang sudah divaksin boleh melakukan PTM sebagai langkah untuk menghadapi situasi pandemi. Tapi faktanya, yang sudah divaksin ternyata tetap juga tidak boleh PTM, terus tujuan vaksinasi kemarin untuk apa kalau toh tetap dilarang?. Ini juga jadi perhatian kita soal kondisi sosial pascavaksin yang ternyata  menjadi persoalan baru,”katanya.

Baca Juga :   Gubernur Sulteng Dukung Rencana Pembangunan Hunian untuk PNS

Secara teknis,  kata Fatimah Lasawedi,  PTM di tengah pandemi bisa dilakukan dengan berbagai metode, misalnya pembatasan jumlah murid dalam satu kali tatap muka. Model ini kata dia, dengan menentukan skala dan fase belajar bergiliran yang tidak menyebabkan terjadinya kerumunan yang bisa menjadi penyebab kluster baru. “Ini bisa dilakukan dengan menginisiasi melalui penjadwalan kelas pagi dan siang menjelang sore, sehingga ada pendisiplinan bagi yang tidak mau hadir. Dari sini juga,  kita tahu, murid yang serius belajar dan yang main-main, murid yang berkomitmen dengan pembelajaran dan yang tidak serius. Kemudian bentuk evaluasinya lebih transparan dan terjadi pengamatan langsung, tidak sekedar mengandalkan hasil tugas yang dikumpulkan secara aplikatif,”tutur Fatimah Lasawedi. WAN

Komentar

News Feed